Produk Olahan Limbah Sabut Kelapa Asal PPU Dipasarkan di Taiwan

Produk olahan limbah sabut kelapa karya pelaku UMKM asal Penajam Paser Utara (PPU) berhasil menembus pasar Taiwan. (Foto Awal)

PENAJAM PASER UTARA, reviewsatu.com – Produk olahan limbah sabut kelapa karya pelaku UMKM asal Penajam Paser Utara (PPU) berhasil menembus pasar internasional. Produk tersebut kini sudah diekspor ke Taiwan.

Keberhasilan ini membawa produk lokal PPU unjuk gigi dalam ajang Mahligai Nusantara 2026 yang digelar Bank Indonesia (BI) di Balikpapan Sport and Convention Center (BSCC) Dome, Kota Balikpapan, pada 11–13 September 2026.

Dalam ajang tahunan tersebut, terdapat 3 UMKM binaan dari PPU yang dinyatakan lolos seleksi dan kurasi ketat oleh Bank Indonesia. 

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (KUKM Perindagkop) Kabupaten PPU, Marlina, mengatakan keterlibatan UMKM lokal dalam agenda bergengsi ini merupakan bentuk fasilitasi BI sekaligus momentum emas untuk memperluas jangkauan promosi produk daerah.

“Ada tiga UMKM PPU yang tampil di Mahligai Nusantara. Ini adalah yang terbaik karena telah lulus kurasi bersama oleh Bank Indonesia,” ucap Marlina, pekan ini.

Marlina menjelaskan, pembinaan UMKM di PPU saat ini tidak hanya difokuskan pada pemenuhan kebutuhan lokal, tetapi juga didorong untuk berorientasi ekspor. 

Saat ini, ada sekitar 40 kelompok UMKM PPU yang masuk dalam komunitas pembinaan dan kurasi ekspor-impor.

Salah satu potret suksesnya adalah usaha milik Rusni. Ia berhasil mengolah limbah sabut kelapa menjadi beragam produk bernilai ekonomi tinggi, seperti keset, tas, hingga sandal.

“Usaha pengolahan sabut kelapa milik Bu Rusni sudah mampu bersaing di skala internasional. Produk kerajinannya beragam dan ekspor ke Taiwan sudah berjalan. Ini jadi bukti sekaligus pemicu motivasi bagi pelaku UMKM PPU lainnya,” jelas Marlina.

Peluang go international tidak berhenti di kerajinan sabut kelapa. Marlina menilai produk lokal lain, seperti batik khas PPU, juga memiliki potensi besar untuk merambah pasar global melalui optimalisasi pemasaran digital.

“Produk batik kita juga punya peluang di pasar internasional. Pelaku usahanya sudah mahir memanfaatkan platform digital untuk promosi, jadi pasar mereka tidak lagi terbatas di lokal,” tambahnya.

Berdasarkan data Dinas KUKM Perindagkop PPU, jumlah UMKM yang terdaftar melalui sistem Online Single Submission (OSS) saat ini mencapai ribuan unit dan terus bertambah.

Terkait perlindungan merek dan pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), Marlina menyebut ranah tersebut berada di bawah bidang industri. Sementara Dinas KUKM Perindagkop berfokus pada penguatan aspek perdagangan dan perluasan akses pasar.

“Kami berharap capaian UMKM penembus pasar Taiwan ini dapat memicu pelaku usaha lain di PPU untuk terus meningkatkan kualitas produk serta memanfaatkan saluran pemasaran modern secara optimal,” pungkas Marlina. (*/wal)