Emas Dunia Naik, ETF Emas Malah Turun, Ada Apa?

Direktur Infovesta Wawan Hendrayana.

Oleh: Wawan Hendrayana (Direktur Infovesta)

reviewsatu.com – BULAN Agustus 2026 menjadi tonggak baru pasar modal Indonesia. Lima ETF emas syariah pertama resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan sambutan hangat, dana kelolaan gabungan pada hari peluncuran mencapai Rp21,6 miliar atau setara sekitar 9 kilogram emas. Namun tiga pekan pertama justru menyajikan teka-teki.

Sepanjang 6 Agustus sampai 1 September 2026 harga emas kontrak satu bulan di pasar global naik 4,48%, sementara kelima ETF emas kompak membukukan return negatif. Wajar bila banyak investor bertanya, emasnya naik kok ETF emasnya malah turun?

Berdasarkan data Infovesta per 31 Agustus 2026, Trimegah Syariah ETF Emas mencatat return minus 0,99%, disusul Syailendra ETF Sharia Gold minus 1,21%, Mandiri ETF Emas minus 1,26%, BRI MI Gold ETF Syariah minus 1,46%, serta Premier ETF Gold Sharia Indonesia minus 1,48%. Selengkapnya tersaji pada tabel berikut.

Kinerja ETF Emas vs Emas Global, 6 Agustus s.d. 1 September 2026

IMG_256
www.infovesta.com, data per 31 Agustus 2026–

Sebelum menjawab, mari pahami dulu cara kerjanya. ETF emas adalah reksa dana yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa layaknya saham, dengan minimal 95% portofolio berupa emas fisik.

Emas tersimpan di lembaga penyimpanan resmi dan kepemilikannya tercatat sebagai Electronic Gold Receipt di KSEI sesuai fatwa DSN-MUI Nomor 163 Tahun 2025.

Investor cukup bertransaksi lewat aplikasi sekuritas tanpa memusingkan ongkos cetak, biaya penyimpanan, maupun keaslian emas.

Kunci pertama jawaban ada pada acuan harga. NAB ETF emas mengacu pada harga emas fisik di pasar domestik yang dihitung dalam rupiah, sedangkan pembanding pada grafik adalah kontrak berjangka emas dalam dolar AS.

Membandingkan keduanya secara langsung ibarat membandingkan apel dengan jeruk, sama-sama buah tetapi berbeda timbangan.

Faktor kedua adalah kurs. Sepanjang periode tersebut rupiah menguat dari kisaran Rp17.900 ke Rp17.720 per dolar AS. Penguatan sekitar 1% ini otomatis memangkas imbal hasil emas dalam denominasi rupiah, sehingga kenaikan emas dunia 4,48% dalam dolar AS hanya tersisa sekitar 3% dalam rupiah. 

Faktor ketiga sekaligus yang paling menentukan adalah menyusutnya premi harga emas domestik. Demam emas sejak awal tahun membuat harga emas batangan di dalam negeri berlari lebih cepat daripada paritas harga internasionalnya.

Berdasarkan perhitungan Infovesta, premi tersebut sempat berada di kisaran 9% pada awal Agustus lalu menyusut menjadi sekitar 6% pada akhir bulan.

Tidak heran harga emas Antam justru turun tipis dari Rp2.690.000 menjadi Rp2.670.000 per gram pada periode yang sama. Ketika emas dunia mendaki, harga emas domestik memilih beristirahat menunggu, dan NAB ETF emas yang mengacu harga domestik pun ikut tertahan.

Waktu peluncuran juga kurang bersahabat. Emas dunia sempat melesat hampir 9% menjelang simposium Jackson Hole, lalu berbalik terkoreksi setelah Ketua The Fed Kevin Warsh memberi sinyal kenaikan suku bunga untuk meredam inflasi.

Probabilitas kenaikan suku bunga pada September melonjak dari 36% menjadi 64% dan harga emas spot turun ke US$ 4.431 per troy ounce pada 1 September.

Kelima ETF emas lahir persis ketika harga emas domestik berada di puncak preminya, sehingga potret tiga pekan pertama tampak kurang sedap dipandang. 

Sebagai produk yang baru seumur jagung, likuiditas ETF emas pun masih tipis. Harga di pasar sekunder dapat berada di bawah NAB alias diskon, ditambah selisih harga beli jual yang masih lebar serta potensi tracking error. Seiring bertambahnya dana kelolaan dan makin aktifnya dealer partisipan melakukan arbitrase, selisih semacam ini lazimnya akan menyempit dengan sendirinya.

Lalu bagaimana investor menyikapinya? Untuk profil konservatif, jadikan ETF emas pelengkap portofolio dengan porsi 5% sampai 10% dan lakukan akumulasi bertahap tanpa terganggu fluktuasi mingguan.

Profil moderat dapat mengalokasikan 10% sampai 15% sambil memanfaatkan fase konsolidasi harga emas domestik saat ini sebagai area akumulasi.

Adapun profil agresif justru dapat mencermati momen ketika harga ETF berada di bawah NAB, sebab membeli emas dengan diskon adalah peluang yang jarang tersedia di toko emas mana pun.

Divergensi tiga pekan ini bukan berarti ETF emas tidak menguntungkan, melainkan proses penyesuaian harga yang wajar bagi instrumen yang baru lahir.

Dalam jangka panjang harga emas domestik, NAB, dan harga pasar ETF akan bergerak menyatu mengikuti arah emas dunia yang masih ditopang ketidakpastian global. Kehadiran ETF emas tetap patut disambut sebagai jalan diversifikasi yang murah, likuid, dan sesuai prinsip syariah. Happy Investing! (*)