Oleh: Prof Asep Saepudin Jahar M.A. Ph.D.
(Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
KEMERDEKAAN Indonesia tepat menginjak usia ke-81 tahun pada tanggal 17 Agustus 2026 ini. Perayaan ulang tahunnya yang digelar masyarakat di berbagai daerah di tanah air menjadi momentum bagi kita untuk selalu bersyukur sekaligus melakukan refleksi guna menggali makna kemerdekaan di masa kini.
Delapan puluh satu tahun bukan hanya perjalanan waktu. Rentang waktu ini memperlihatkan bagaimana bangsa ini dibangun dengan semangat perjuangan, pengorbanan, persatuan, dan keteguhan para pendahulu. Sehingga, kemerdekaan yang kita nikmati hari ini adalah hasil dari perjuangan panjang para pendahulu yang patut disyukuri sekaligus dipertanggungjawabkan.
Karena itu, memaknai kemerdekaan hari ini tidak cukup dengan hanya mengenang jasa para pahlawan atau melaksanakan berbagai kegiatan seremonial. Kemerdekaan sejatinya harus diletakkan sebagai amanah yang harus diisi oleh setiap generasi sesuai dengan tantangan zamannya.
Jika generasi terdahulu berjuang untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan, maka tugas generasi sekarang adalah memastikan kemerdekaan tersebut mampu menghasilkan kehidupan bangsa yang semakin maju, berpendidikan, adil, sejahtera, dan bermartabat.
Tantangan Dunia yang Semakin Kompleks
Berbagai reportase media dan riset para peneliti mencatat bahwa sebagai entitas global bangsa Indonesia saat ini menghadapi beragam tantangan global yang lebih kompleks. Dunia bergerak dalam perubahan yang sangat cepat dimana hari ini masih kita saksikan ketegangan geopolitik, ketidakpastian ekonomi global, perubahan iklim, perkembangan teknologi, dan transformasi digital telah menciptakan lingkungan strategis yang semakin kompleks.
Di tingkat nasional, Indonesia juga menghadapi berbagai pekerjaan besar. Pertumbuhan ekonomi yang harus terus didorong agar semakin inklusif, kualitas pendidikan dan kesehatan yang perlu diperkuat, lapangan kerja yang harus terus diperluas, kesenjangan perlu dikurangi, begitu juga ketahanan pangan dan energi serta daya saing sumber daya manusia yang harus semakin diperkuat.
Berbagai tantangan tersebut bukan hanya membutuhkan kebijakan yang tepat dan konsisten, tetapi juga membutuhkan dukungan serta partisipasi seluruh elemen masyarakat. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri, melainkan harus selalu didukung elemen bangsa.
Keberhasilan pembangunan sebuah negara pada akhirnya sangat bergantung pada kemampuan seluruh komponen bangsanya untuk mengambil bagian sesuai dengan kapasitas dan tanggung jawab masing-masing.
Persatuan dan Kepedulian Sosial
Dalam menghadapi berbagai tantangan, salah satu kekuatan besar yang kita miliki dan karenanya harus kita jaga adalah persatuan nasional.
Indonesia merupakan negara besar dimana salahsatu kebesarannya dibangun di atas keberagaman. Kita adalah bangsa yang lahir dari keragaman suku, bahasa, budaya, tradisi, dan agama.
Keragaman tersebut bukan sesuatu yang harus diseragamkan, melainkan kekayaan yang harus dikelola dalam semangat kebangsaan. Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa kemerdekaan dapat diraih ketika berbagai kelompok dengan latar belakang yang berbeda mampu menemukan kesamaan cita-cita sebagai sebuah bangsa.
Karena itu, persatuan yang lahir dari keragaman tidak boleh dipahami hanya sebagai slogan. Persatuan harus menjadi kesadaran yang selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari. Kita perlu terus membangun sikap saling menghormati, menghargai perbedaan, dan mengedepankan dialog ketika terjadi perbedaan pandangan.
Menjaga persatuan juga berarti membangun kepedulian sosial. Indonesia yang kuat bukan hanya Indonesia yang memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi atau kemajuan teknologi, tetapi Indonesia yang masyarakatnya memiliki solidaritas dan kepedulian terhadap sesama.
Ketika sebagian masyarakat mengalami kesulitan, masyarakat lainnya perlu hadir memberikan dukungan. Semangat gotong royong yang menjadi karakter bangsa harus terus dipertahankan dalam bentuk yang relevan dengan kehidupan saat ini.
Kepedulian terhadap mereka yang mengalami musibah, kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian, maupun mereka yang menghadapi keterbatasan merupakan wujud nyata dari rasa kebangsaan.
Dengan demikian, nasionalisme tidak hanya hadir dalam simbol dan upacara, tetapi juga dalam tindakan sederhana untuk memastikan bahwa tidak ada sesama anak bangsa yang merasa berjalan sendirian menghadapi persoalan hidup.
Kebijakan Pemerintah dan Sikap Kritis Masyarakat Akademik
Dalam konteks pembangunan nasional, masyarakat juga perlu memberikan dukungan terhadap berbagai upaya pemerintah dalam menjalankan agenda pembangunan. Dukungan terhadap pemerintah merupakan bagian dari tanggung jawab kebangsaan, terutama ketika kebijakan diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperkuat daya saing Indonesia.
Namun, dukungan tersebut tidak berarti menghilangkan sikap kritis. Demokrasi selalu membutuhkan ruang bagi kritik dan koreksi yang disampaikan secara bertanggung jawab.
Untuk itu, sebagai masyarakat akademik, kita memiliki kewajiban untuk menyampaikan pandangan secara objektif, berbasis data, ilmu pengetahuan, dan kepentingan publik. Seluruhnya dilakukan untuk kepentingan kehidupan bangsa.
Perguruan tinggi dapat memberikan dukungan yang konstruktif melalui penelitian, kajian kebijakan, inovasi, pengembangan sumber daya manusia, serta pengabdian kepada masyarakat. Sedang kritik yang berbasis pengetahuan pada hakikatnya juga merupakan bentuk kontribusi untuk memastikan pembangunan berjalan semakin baik.
Sebagai kekuatan bangsa, perguruan tinggi memiliki posisi yang sangat strategis. Perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi tempat berlangsungnya proses pendidikan dan pemberian gelar.
Perguruan tinggi harus menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan bangsa. Ilmu pengetahuan yang berkembang di kampus harus memiliki keterhubungan dengan kebutuhan masyarakat.
Penelitian harus mampu menghasilkan pengetahuan dan inovasi yang dapat digunakan untuk menjawab persoalan nyata di tengah-tengah masyarakat. Begitu juga pengabdian kepada masyarakat harus menjadi ruang bagi perguruan tinggi untuk hadir dan memberikan manfaat secara langsung.
Sementara itu, pendidikan harus mampu menyiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki kompetensi, tetapi juga memiliki karakter dan tanggung jawab sosial.
Tanggung Jawab PTKIN
Dalam konteks mengisi kemerdekaan, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di bawah binaan Kementerian Agama RI seperti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki tanggung jawab tak kalah luas. Diantara bentuk tanggungjawabnya adalah mempertemukan keilmuan, keislaman, kemanusiaan, dan keindonesiaan.
PTKIN perlu terus melahirkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik dan profesional sekaligus memiliki integritas, kepedulian sosial, kemampuan menghargai perbedaan, serta kesadaran yang kuat sebagai bagian dari bangsa Indonesia. PTKIN harus membentuk manusia yang mampu bersaing secara global tanpa kehilangan akar kebangsaan dan nilai-nilai kemanusiaannya.
Peran tersebut juga perlu diwujudkan melalui riset dan inovasi berbagai PTKIN yang relevan dengan persoalan bangsa serta pengabdian yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Dengan kekuatan akademik yang dimiliki, PTKIN optimistis bisa terus meningkatkan kontribusinya dalam memberikan gagasan dan solusi bagi pembangunan nasional.
Dalam hal ini, setiap insan di lingkungan PTKIN bisa mengisi kemerdekaan sesuai dengan perannya masing-masing. Para dosen dan peneliti dapat berkontribusi melalui riset yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan nasional.
Lalu, para pendidik memiliki tanggung jawab menyiapkan generasi muda yang unggul sekaligus berkarakter. Sedangkan para tenaga kependidikan dapat memperkuat profesionalitas dan kualitas pelayanan sebagai bagian dari manifestasi tata kelola universitas yang baik.
Sementara itu, mahasiswa PTKIN sebagai bagian dari generasi penerus bangsa perlu terus dipersiapkan dengan ilmu pengetahuan, kompetensi, kreativitas, dan karakter agar kelak menjadi sumber daya manusia yang memberikan kontribusi bagi kemajuan Indonesia. Kampus PTKIN harus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar, berpikir kritis, mengembangkan gagasan, membangun kepedulian, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan.
Pada akhirnya, kemerdekaan adalah proses yang terus berlangsung. Setiap generasi menerima warisan dari generasi sebelumnya sekaligus memiliki tanggung jawab untuk meneruskannya kepada generasi berikutnya. Kita menerima Indonesia yang merdeka dari para pendahulu dan tugas kita saat ini adalah memastikan Indonesia yang kita wariskan kelak menjadi bangsa yang lebih kuat, maju, adil, sejahtera, dan bermartabat.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. (*)










