Pemerintah Sebut Stok Sapi Kurban Surplus, Ekonom: Daya Beli Masyarakat yang Turun

Sapi kurban yang berada di salah satu peternakan di Samarinda. (Ari)

Peredaran sapi kurban di Samarinda pada momentum Iduladha tahun ini, disebut surplus antara 6 hingga 7 ribu ekor. Pun secara nasional. Yang katanya surplus 800 ribu ekor sapi. Sementara ekonom menyebutkan bahwa surplus sapi kurban dipengaruhi daya beli masyarakat yang turun.

reviewsatu.comDINAS Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Samarinda memperkirakan jumlah sapi kurban pada Hari Raya Iduladha tahun ini, melebihi kebutuhan masyarakat atau surplus.

Dari stok dan pasokan sapi yang masuk ke wilayah Samarinda yang tercatat mencapai lebih dari 15 ribu ekor, hanya 9 ribu ekor saja yang terserap pasar kurban. 

“Sebenarnya sapi kurban ini surplus. Daya beli agak menurun, serapan kita taksiran sekitar 9 ribuan. Berarti sebenarnya kita surplus di 6 ribu sampai 7 ribu ekor karena perkiraan pasokan yang masuk ke Samarinda 15 ribu ekor,” ujar Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) DKPP Samarinda, Maskuri, Kamis, 28 Mei 2026.

Maskuri menjelaskan, meskipun kondisi ekonomi masyarakat dinilai memengaruhi kemampuan membeli hewan kurban, minat terhadap kebutuhan kurban masih tergolong tinggi.

Hal itu dikarenakan aktivitas distribusi ternak terus berlangsung hingga pertengahan Mei dengan jumlah yang cukup besar. Ia menyebutkan, bahwa sampai pertengahan Mei 2026, sedikitnya sekitar 15.400 ekor hewan kurban telah masuk ke Samarinda.

“Bayangkan di tanggal 19 lalu itu kapal terakhir yang kita hitung ada 15.400 ekor. Itu belum dari Sulawesi yang kita belum bisa pantau maksimal,” katanya.

Menurut Maskuri, jumlah sapi lokal yang tersedia di tingkat peternak Samarinda saat ini diperkirakan mencapai sekitar 4.200 ekor. Sisanya berasal dari jalur perdagangan antardaerah yang terus memasok kebutuhan hewan ternak ke Kalimantan Timur menjelang Hari Raya Iduladha.

Ia menjelaskan, pasokan sapi kurban terbesar masih berasal dari wilayah luar daerah, terutama dari Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur yang selama ini menjadi daerah pemasok utama bagi kebutuhan ternak di Samarinda.

“Kalau sapi Bali rata-rata dari Sulawesi dan Kupang. Kupang itu green zone atau zona hijau Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Dari sana juga sudah dilakukan pemeriksaan dan ada sertifikat kesehatan hewan sebelum dikirim ke Kaltim,” jelasnya.

Di tengah melimpahnya pasokan sapi kurban, harga jual ternak di pasaran ternyata belum menunjukkan tren penurunan. Biaya transportasi masih memberi pengaruh besar terhadap pembentukan harga di tingkat pedagang maupun peternak.

“Memang harga jadi tinggi karena biaya transport meningkat dan itu sulit kita kendalikan. Nanti surplus ini berpotensi jadi cadangan pangan kita,” tuturnya.

Maskuri mengungkapkan, bahwa Samarinda masih menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan hewan ternak secara mandiri karena kapasitas produksi lokal saat ini baru mampu menyuplai sekitar 37 persen kebutuhan pasar.

SURPLUS NASIONAL

Tidak hanya di Samarinda, kondisi ini juga terjadi secara nasional. Pemerintah mencatat ketersediaan hewan kurban nasional mencapai 3,2 juta ekor, lebih tinggi dibanding kebutuhan masyarakat yang diperkirakan di kisaran 2,4 juta ekor.

Kondisi tersebut membuat Indonesia mengalami surplus sekitar 800 ribu ekor hewan kurban pada perayaan Iduladha tahun ini.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono mengatakan capaian itu menjadi indikator positif ketahanan pangan nasional, terutama di tengah situasi global yang masih dipenuhi konflik dan ketidakpastian ekonomi.

“Jadi ada surplus sekitar 800 ribuan ekor. Ini artinya alhamdulillah, Allah telah memberikan rahmat-Nya, telah memberikan rezeki-Nya kepada bangsa kita, negara kita hari ini,” kata Sudaryono di sela pelaksanaan kurban Kementerian Pertanian bersama HKTI di kawasan Masjid Nurul Iman, Kementan, Jakarta, Rabu 27 Mei 2026.

Menurut Sudaryono, surplus ternak menunjukkan kondisi peternakan nasional berada dalam situasi yang baik dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat tanpa mengalami kekurangan pasokan hewan kurban.

Ia juga menilai capaian tersebut membuktikan Indonesia tetap mampu menjaga stabilitas pangan di tengah tekanan global.

“Di saat situasi sulit perang di mana-mana, kita dalam keadaan yang baik, itu tentu perlu kita syukuri bersama,” ucap Sudaryono, dilansir dari Antara.

Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda memastikan stok hewan kurban nasional dalam kondisi aman dan terkendali. Menurut dia, total ketersediaan hewan kurban mencapai 3,2 juta ekor yang terdiri dari sapi, kerbau, kambing, dan domba.

“Total prognosa ketersediaan sebanyak 3,2 juta ekor, terdiri dari sapi 860.000 ekor, kerbau 34.000 ekor, kambing 1,4 juta ekor, dan domba 935.000 ekor,” kata Agung.

Di sisi lain, kebutuhan nasional untuk penyembelihan hewan kurban pada Iduladha 2026 diperkirakan sekitar 2,4 juta ekor. Dengan demikian, pemerintah menilai kapasitas produksi peternakan nasional masih mampu memenuhi permintaan masyarakat.

Kondisi surplus ternak ini juga dinilai memberi dampak positif terhadap stabilitas harga hewan kurban di sejumlah daerah karena pasokan tetap terjaga hingga hari raya Iduladha.

TURUNNYA DAYA BELI

Menurut pandangan Purwadi, Ekonom Universitas Mulawarman, kondisi kelebihan hewan kurban yang belum terjual bukan persoalan baru dan telah terjadi beberapa tahun terakhir. Tahun ini situasinya dinilai semakin terlihat karena tekanan ekonomi yang memengaruhi kemampuan belanja masyarakat.

“Kelebihan hewan kurban yang belum terjual hampir 7 ribu sampai 9 ribu ekor itu bukan peristiwa Iduladha hari ini saja, karena kondisi seperti ini sebenarnya sudah terjadi beberapa tahun lalu,” ujarnya, pada Jumat 29 Mei 2026.

Ia menjelaskan, penurunan daya beli masyarakat menjadi salah satu faktor yang sangat memengaruhi rendahnya penyerapan sapi kurban, terlebih kelompok ekonomi menengah saat ini mengalami tekanan cukup besar.

“Harus diakui bahwa memang kondisi ekonomi sedang terjadi penurunan daya beli, dan itu juga diakui oleh banyak ekonom,” katanya.

Ia menilai, kelompok masyarakat menengah yang selama ini menjadi penyumbang utama pembelian hewan kurban mulai terdampak perubahan ekonomi, sehingga kemampuan konsumsi ikut mengalami penyesuaian.

“Pak Presiden sendiri juga menyampaikan dalam pidato bahwa jumlah kelompok menengah mengalami penurunan, sehingga itu tentu berdampak terhadap pola konsumsi masyarakat,” jelasnya.

Berdasarkan laporan Mandiri Institute bertajuk Demographic Insights: Dinamika Kelas Menengah di 2025 yang dirilis Februari 2026, jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia menyusut sekitar 1,2 juta jiwa, dari 47,9 juta jiwa pada 2024 menjadi 46,7 juta jiwa sepanjang 2025.

Penurunan tersebut membuat proporsi kelas menengah terhadap total populasi ikut turun dari 17,1 persen pada 2024 menjadi 16,6 persen pada tahun berikutnya.

Kondisi itu dinilai turut memengaruhi pola konsumsi rumah tangga, termasuk kemampuan masyarakat membeli hewan kurban saat Iduladha.

Selain daya beli, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga disebut memberi dampak terhadap biaya produksi peternakan, terutama pada kebutuhan pakan ternak yang masih bergantung pada bahan baku dari luar negeri. “Situasi dolar yang kurang bagus juga berdampak, apalagi kalau pakan ternak masih berasal dari impor tentu pembeliannya memakai dolar,” tuturnya. (*/ari)