Deforestasi besar-besaran untuk perkebunan sawit dan tambang mengancam habitat orangutan di Kalimantan. Apalagi saat ini ditambah dengan peristiwa Karhutla yang mengepung wilayah hewan dilindungi itu. Seperti yang terjadi di Ketapang (Kalbar) dan Kutim (Kaltim).
reviewsatu.com – KEPUNGAN perkebunan kelapa sawit dan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat seekor induk orangutan bersama anaknya berada dalam kondisi rentan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Keduanya akhirnya diselamatkan tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan IAR Indonesia (YIARI), Jumat, 18 September 2026.
Berdasarkan Laporan YIARI yang dilansir oleh nomorsatukaltim–Disway Kaltim Group, induk dan anak orangutan tersebut ditemukan bertahan di atas pohon akasia di Desa Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan.
Keduanya berada pada area terbuka dengan luas sekitar 400 meter persegi yang dikelilingi perkebunan kelapa sawit.
Kondisi lokasi menjadi perhatian karena kawasan tersebut tidak menyediakan sumber pakan yang cukup bagi orangutan. Situasi semakin sulit setelah area di sekitar lokasi terdampak kebakaran hutan dan lahan.
Keterbatasan habitat dan sumber makanan membuat induk bersama anaknya berisiko mengalami kondisi yang lebih buruk apabila tetap berada di lokasi.
Atas pertimbangan tersebut, tim gabungan melakukan evakuasi untuk menyelamatkan kedua satwa sekaligus mencegah munculnya risiko lain selama berada di kawasan tersebut.
“Proses penyelamatan dilakukan dengan memperhatikan kondisi induk dan anak orangutan. Setelah berhasil dievakuasi, keduanya kemudian dibawa untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut,” tulis laporan YIARI.
Tim medis akan memastikan kondisi kesehatan kedua orangutan, termasuk dampak yang mungkin ditimbulkan akibat berada di habitat yang terbatas dan terdampak karhutla.
Hasil pemeriksaan nantinya menjadi salah satu pertimbangan untuk menentukan penanganan berikutnya.
Induk dan anak orangutan akan menjalani perawatan sebelum diputuskan apakah perlu mengikuti proses rehabilitasi dan selanjutnya dapat dilepasliarkan.
Penyelamatan ini menjadi bagian dari penanganan satwa liar yang terdampak perubahan habitat di wilayah Ketapang.
Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana kebakaran hutan dan lahan serta perubahan tutupan habitat dapat meningkatkan kerentanan satwa liar, khususnya orangutan.
Bagi tim konservasi, evakuasi dilakukan untuk memastikan kedua orangutan memperoleh penanganan yang sesuai hingga kondisi mereka memungkinkan untuk memasuki tahapan konservasi berikutnya.

Orangutan Turun Jalan
Sebelumnya di Kalimantan Timur (Kaltim), kemunculan seekor orangutan di Jalan Poros Rantau Pulung-Sangatta, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), sejak Senin, 14 September 2026 sore, menyita perhatian pengendara yang melintas.
Kemunculan satwa dilindungi di sisi jalan yang ramai lalu lintas tersebut, sontak menarik perhatian pengguna jalan. Sebagian pengendara memperlambat laju kendaraan untuk mengamati satwa liar yang berada tidak jauh dari badan jalan.
Beberapa warga bahkan turun dari kendaraan untuk melihat lebih dekat. Momen langka tersebut turut diabadikan menggunakan kamera telepon seluler sebelum mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Dari pantauan pengendara, orangutan tampak tenang berada di sekitar pepohonan dan semak di tepi jalan. Satwa tersebut terlihat memakan dedaunan yang berada di sekitarnya.
Kondisi fisiknya juga menjadi perhatian. Orangutan itu terlihat memiliki tubuh cukup berisi dengan bulu yang lebat saat bergerak dan mencari makanan di pinggir jalan.
Salah seorang pengguna jalan, Yuristio, mengaku terkejut melihat satwa tersebut berada di kawasan yang menjadi jalur kendaraan. Ia menyebut kejadian itu sebagai pengalaman yang tidak biasa.
“Ini pemandangan yang unik, bisa melihat orangutan secara langsung,” ujar Yuristio saat dikonfirmasi, Selasa (15/9/2026).
Meski menjadi tontonan, keberadaan satwa liar di lokasi tersebut justru menimbulkan kekhawatiran. Arus kendaraan yang melintas dinilai dapat membahayakan orangutan apabila satwa bergerak terlalu dekat ke badan jalan.
Yuristio menilai risiko tidak hanya berasal dari kendaraan. Kerumunan masyarakat yang mendekat juga berpotensi membuat orangutan merasa terganggu atau terancam.
“Karena ini di jalan umum yang ramai, saya khawatir orangutan ini tertabrak kendaraan atau terjadi kontak dengan manusia,” katanya.
Ia berharap pihak yang memiliki kewenangan terhadap konservasi satwa segera mengecek kondisi orangutan tersebut. Penanganan diperlukan untuk memastikan satwa tetap aman tanpa menimbulkan risiko bagi pengguna jalan.
Menurutnya, evakuasi dapat menjadi pilihan apabila hasil pemeriksaan menunjukkan lokasi tersebut tidak lagi aman bagi orangutan. Langkah tersebut juga diharapkan dilakukan dengan prosedur yang tepat agar tidak melukai atau membuat satwa stres.
“Harapannya instansi yang berwenang bisa melakukan evakuasi supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” harapnya.
Kemunculan orangutan di kawasan jalan poros Kutim sebenarnya bukan kejadian pertama. Satwa serupa sebelumnya beberapa kali terlihat di Jalan Poros Bengalon, termasuk di sekitar jalan hauling perusahaan tambang.
Keberadaan orangutan di area yang berdekatan dengan aktivitas manusia perlu mendapat perhatian pemerintah, untuk mengantisipasi konflik manusia dengan satwa liar. (*/ram/kya)










