Paparan kabut asap akibat Karhutla beberapa hari terakhir tampak kian mengkhawatirkan dan mulai masuk kategori berbahaya. Terutama untuk kelompok rentan. Selama 2 pekan September ini, tercatat ada lonjakan kasus ISPA di Samarinda.
reviewsatu.com – KUALITAS udara di sejumlah wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) memburuk akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pantauan di laman ISPU Kementerian Lingkungan Hidup, Kamis, 17 September 2026 lalu, kualitas udara di sejumlah wilayah Kaltim menunjukkan variasi cukup signifikan. Kondisinya berada mulai dari kategori sedang hingga berbahaya.
Di Kabupaten Kutai Barat melalui titik pemantauan Sendawar mencatat kondisi terburuk. Angka ISPU berada di atas 300 sehingga masuk kategori berbahaya.
Parameter yang menjadi perhatian adalah konsentrasi PM2,5 yang meningkat akibat paparan partikel dari asap karhutla.
Kondisi tersebut menunjukkan masyarakat di wilayah terdampak perlu meningkatkan kewaspadaan. Paparan PM2,5 dalam konsentrasi tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak.
Sementara itu, titik pemantauan Taman Segiri, Samarinda, berada dalam kategori tidak sehat. Angka ISPU tercatat pada kisaran 120–142 dengan PM2,5 menjadi parameter kritis.
Kondisi serupa juga terpantau di sejumlah wilayah Kutai Kartanegara. Titik pemantauan Muara Jawa dan Samboja mencatat kategori sedang hingga tidak sehat dengan angka ISPU sekitar 80–129.
Wilayah lain masih berada dalam kategori sedang, seperti Penajam Paser Utara melalui titik Nipah-Nipah dan kawasan IKN berada pada kisaran 70–90.
Balikpapan melalui titik Sepinggan dan Balikpapan Baru berada di kisaran 66–77. Sementara Bontang melalui titik Tanjung Laut berada pada kisaran 60–70.
Pada kategori Sedang, kualitas udara masih relatif aman bagi masyarakat umum. Namun, kelompok yang sensitif terhadap polusi tetap perlu mengurangi paparan.
Kepala Laboratorium Kesehatan Kaltim, Muhammad Yunus mengatakan, kualitas udara di Samarinda masih berpotensi memburuk, terutama pada malam hingga dini hari.
Kondisi tersebut dipengaruhi fenomena inversi suhu yang dapat menjebak polutan asap di permukaan udara.
“Berdasarkan pola pemantauan, kualitas udara diperkirakan masih dapat memburuk pada malam hingga dini hari akibat fenomena inversi suhu yang menjebak polutan asap karhutla di permukaan udara. Kami mengimbau warga untuk membatasi aktivitas di luar ruangan,” kata Yunus.
SEKOLAH TATAP MUKA
Kondisi kualitas udara tersebut kemudian diikuti kebijakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim untuk mengalihkan pembelajaran tatap muka menjadi PJJ.
Kebijakan diterapkan sementara di sejumlah wilayah yang terdampak asap, termasuk Samarinda.
Plt Kepala Disdikbud Kaltim Armin mengatakan keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan keselamatan siswa.
Pembelajaran dari rumah dijadwalkan berlangsung selama 3 hari, yakni 17–19 September 2026. Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor 100.3.4.1/2076/Disdikbud.III/SRK/2026.
Sekolah diminta menyesuaikan kegiatan pembelajaran dengan kondisi lingkungan dan memastikan siswa tetap mendapatkan pendampingan selama mengikuti pembelajaran dari rumah.
“Kami meminta Kepala Satuan Pendidikan agar berkoordinasi langsung dengan orang tua atau wali murid untuk melakukan pengawasan penuh selama pembelajaran secara daring dilaksanakan demi menghindari risiko gangguan pernapasan atau ISPA pada anak-anak,” jelas Armin.
KASUS ISPA NAIK 30 PERSEN
Sementara itu, tercatat sebanyak 8.609 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Samarinda hanya dalam 2 pekan September 2026.
Jumlah tersebut membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mencermati perkembangan kasus di tengah persoalan kualitas udara yang sempat memburuk, akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Dinkes Samarinda, Ismed Kusasih menyebut, pergerakan kasus pada September menunjukkan kenaikan hampir 30 persen bila dibandingkan dengan periode Juni dan Juli.
“Yang jelas meningkat itu kurang lebih di atas hampir 30 persen,” ujar Ismed, Jumat, 18 September 2026.
Catatan Dinkes menunjukkan, terdapat perbedaan jumlah kasus yang cukup mencolok jika dilihat dari rata-rata harian. Sepanjang Agustus, 12.176 kasus tercatat dengan rata-rata sekitar 393 kasus setiap hari.
Sementara itu, 8.609 kasus yang masuk hingga 16 September menghasilkan rata-rata sekitar 538 kasus per hari.
Sebagai pembanding, jumlah kasus pada Juni tercatat 9.994 dan Juli sebanyak 10.011 kasus. Dengan September yang baru berjalan setengah bulan, Dinkes masih menunggu laporan lanjutan dari fasilitas pelayanan kesehatan untuk melihat perkembangan hingga akhir bulan.
Pemantauan kasus dilakukan melalui 26 puskesmas yang tersebar di Samarinda. Data dari fasilitas kesehatan tersebut, menjadi bagian dari bahan evaluasi Dinkes dalam melihat perubahan kondisi kesehatan masyarakat.
Pengawasan tidak berhenti pada pencatatan pasien. Tenaga sanitarian di puskesmas juga melakukan pemantauan lingkungan menggunakan particle counter, untuk mengetahui keberadaan partikel di udara, termasuk kondisi udara di dalam ruangan.
“Selain kita berpijak dari hasil BMKG dan kualitas udara dari DLH, kami juga dari Dinkes sebenarnya juga bertemu dengan teman-teman di 26 puskesmas,” kata Ismed.
Dengan kondisi kualitas udara yang masih berubah-ubah, Dinkes belum menurunkan kewaspadaan meskipun situasi terbaru menunjukkan perbaikan dibandingkan periode sebelumnya.
Pemantauan terbaru mencatat, AQI berada pada angka 147, sementara konsentrasi PM2.5 mencapai 54,3 mikrogram per meter kubik.
Dinkes juga memberi perhatian khusus kepada warga yang lebih rentan mengalami gangguan akibat paparan udara tercemar.
Kelompok tersebut meliputi bayi, balita, anak sekolah, ibu hamil, penderita penyakit paru kronis, penderita penyakit jantung, serta masyarakat dengan daya tahan tubuh rendah.
Bagi kelompok tersebut, paparan polutan berpotensi memperberat gangguan pernapasan yang sudah ada, maupun memicu keluhan baru.
“Karena kemungkinan timbul sesak itu juga besar,” jelasnya.
Karena itu, masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan diminta menggunakan perlindungan pernapasan.
Dinkes menyebut, masker bedah dapat menjadi salah satu pilihan, sedangkan N95 juga dapat digunakan untuk memberikan perlindungan lebih baik terhadap paparan partikel.
Di sisi pelayanan, Dinkes memastikan fasilitas kesehatan tetap menyiapkan kebutuhan untuk menghadapi kemungkinan bertambahnya pasien.
Koordinasi dilakukan dengan Kementerian Kesehatan serta pemerintah kabupaten dan kota di Kalimantan Timur. Kebutuhan pengobatan, alat kesehatan dan perlengkapan penunjang turut menjadi bagian dari langkah antisipasi.
Meski begitu, data September belum dapat dianggap sebagai angka akhir. Dinkes masih menerima dan mengompilasi laporan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama, termasuk puskesmas dan fasilitas kesehatan swasta.
Perkembangan kualitas udara dalam beberapa hari ke depan, juga menjadi faktor penting yang akan menentukan arah kasus ISPA di Samarinda.
Dinkes pun meminta masyarakat tetap memperhatikan kondisi udara sebelum melakukan aktivitas di luar rumah, terutama mereka yang masuk kelompok rentan.
Upaya mengurangi paparan, dinilai tetap diperlukan meski kualitas udara mulai membaik, mengingat angka kasus ISPA pada September masih menunjukkan tren peningkatan. (*/may)










