Kendati Kalimantan Timur (Kaltim) sebagai daerah penghasil migas dan memiliki kilang pengolahan terbesar di Indonesia, namun tetap saja warganya kesulitan mendapatkan BBM jenis solar. Termasuk di kota utama seperti di Balikpapan.
reviewsatu.com – ANTREAN pengisian bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Solar di Kota Balikpapan semakin memanjang saja. Apalagi setelah adanya kenaikan harga Dexlite menjadi Rp24.150 per liter.
Jika sebelumnya pengguna mesin diesel seperti truk harus antre 2 hari untuk mendapatkan solar, kini waktu antreannya memanjang hingga 3 hari.
Akibatnya, antrean kendaraan pengguna solar kian memanjang hingga lebih dari 4 kilometer. Hal ini terpantau di SPBU kilometer 13 dan kilometer 15.
Anggota DPRD Balikpapan, Syarifuddin Oddang mengonfirmasi kondisi tersebut berdasarkan informasi yang diterimanya dari Komunitas Sopir Truk Balikpapan.
Ia menyebut peninjauan lapangan oleh pihak terkait dibutuhkan, agar penyebab antrean panjang dapat diketahui secara jelas.
“Ini merupakan permasalahan serius yang harus segera ditindaklanjuti,” ucap Oddang.
Menurutnya, pengecekan langsung penting dilakukan untuk mengetahui apakah antrean panjang dipicu keterbatasan kuota, persoalan distribusi, atau kendala pengawasan di lapangan.
Ia juga meminta PT Pertamina lebih transparan mengenai besaran kuota solar subsidi yang dialokasikan untuk Balikpapan serta mekanisme distribusinya.
“Harus ada kejelasan. Apakah terjadi kelangkaan? Berapa sebenarnya kuota untuk Balikpapan? Apakah perlu penambahan atau ada solusi lain?” tekannya.
Di samping itu, Oddang menegaskan harus ada kejelasan mengenai kendaraan yang berhak menggunakan solar bersubsidi dan kendaraan yang masuk kategori industri.
Menurutnya, aturan yang tegas dibutuhkan agar penyaluran berjalan sesuai ketentuan.DPRD Balikpapan, lanjut Oddang, dalam waktu dekat akan menggelar rapat dengar pendapat (RDP) dengan menghadirkan seluruh pihak terkait guna membahas persoalan antrean solar bersubsidi dan mencari langkah penanganan. (*/sls)










