Tim SAR Gabungan menerjunkan 1.075 personel dari berbagai unsur dalam upaya pencarian dan evakuasi korban Pesawat ATR 24-500. Setelah puluhan jam menerobos medan ekstrem, akhirnya membuahkan hasil.
OPERASI Pencarian dan Pertolongan (SAR) kecelakaan pesawat ATR 24-500 di wilayah Sulawesi Selatan terus berlanjut hingga Kamis, 22 Januari 2026.
Tim SAR gabungan telah menemukan korban dalam bentuk jenazah dengan total sembilan pack body part di area pencarian.
Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan istilah body part dalam laporan lapangan tidak hanya merujuk pada bagian tubuh korban, tetapi juga bagian dari pesawat yang ditemukan di lokasi kejadian.
“Perlu kami jelaskan bahwa yang dimaksud dengan body part di lokasi operasi adalah bagian dari pesawat maupun bagian dari anggota tubuh korban. Hingga hari ini total yang ditemukan adalah sembilan pack body part. Selain itu, terdapat enam korban yang saat ini masih dalam proses evakuasi oleh tim SAR gabungan,” katanya wartawan, Kamis 22 Januari 2026.
Ia menegaskan, seluruh proses pencarian dan evakuasi dilakukan secara hati-hati serta terukur dengan mengutamakan keselamatan personel.
Hal itu mengingat medan operasi yang cukup terjal serta kondisi cuaca di lokasi yang tidak menentu.
“Keselamatan tim tetap menjadi prioritas utama dalam operasi ini,” tuturnya seperti dilansir dari disway.id.
Seluruh temuan korban selanjutnya akan diserahkan kepada pihak berwenang untuk menjalani proses identifikasi sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Basarnas juga memastikan setiap perkembangan operasi SAR akan disampaikan secara resmi dan terverifikasi kepada publik. Masyarakat diimbau tidak terpengaruh oleh informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.
Sehari sebelumnya, Tim SAR Gabungan juga berhasil menemukan kotak hitam atau black box Pesawat ATR 42-500 PK-THT milik Indonesia Air Transport di dasar jurang Pegunungan Bulusaraung, Pangkep, Sulawesi Selatan.
Dalam foto yang dirilis Pendam XIV Hasanuddin itu, tampak anggota TNI mengamankan kotak oranye yang terpasang di ekro pesawat. Penemuan black box terletak di tepi jurang dan membutuhkan 4 hari pencarian.
Kodam XIV Hasanuddin membentuk tim khusus yang ditugaskan mencari kotak hitam untuk membuka penyebab jatuhnya Pesawat ATR 42-500 PK-THT milik Indonesia Air Transport.
“Kita membentuk tim khusus, Alhamdulillah tadi pagi sudah bisa menuju ke lokasi tersebut dan mengecek secara utuh potongan ekor pesawat,” kata Asisten Operasi Kodam XIV Hasanuddin Kolonel Inf Dody Triyo Hadi di posko SAR Tompo Bulu, Rabu, 21 Januari 2026.
Setelah dilakukan pemeriksaan, kata Dody benda yang diduga sebagai black box tersebut ditemukan tetap pada posisinya.
“Potongan ekor tersebut dan di dalamnya berada di posisinya, tidak terlepas, berada di dalam ekor tersebut,” ungkapnya.
Menurut Dody bahwa benda tersebut berdasarkan laporan yang diterima dari timsus dalam kondisi utuh. Saat ini, Tim Gabungan untuk mengamankan agar data dalam Black Box bisa diinvestigasi.
JENAZAH DEDEN MAULANA
Pada Rabu 21 Januari itu, Tim SAR Gabungan juga menemukan 1 Jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500, Telah diidentifikasi atas nama Deden Maulana. Dan jenazah Deden langsung diterbangkan ke Jakarta.
Deden merupakan pegawai bidang pengelola barang milik daerah di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yang turut menjadi korban dalam insiden tersebut.
Setibanya di Jakarta, Jenazah Deden di bawa ke Politeknik Ahli Usaha Perikanan (AUP), Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis, 22 Januari 2026.
Setibannya disana, ia diberi penghormatan terakhir oleh rekan sejawatnya. Tampak dibarisan terlihat paling depan diisi pihak keluarga.
Sedangkan pegawai KKP yang hadir kemudian berdiri, dan memberikan doa serta penghormatan terakhir kepada Almarhum Deden yang meninggal dunia saat bertugas.
Usai diberi penghormatan terakhir, jenazah Deden langsung dibawa ke Garut, Jawa Barat, untuk segera dimakamkan.
Terkait pemakaman Deden di Garut, sesuai permintaan keluarga, yang berlokasi tidak jauh dari tempat tinggal orang tuanya.
Deden Maulana, pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), menjadi salah satu dari 7 korban pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang hilang kontak pada Sabtu, 17 Januari 2026.
Deden Maulana meninggalkan seorang istri dan seorang anak laki-laki berusia sekitar 12 tahun yang masih duduk di bangku kelas VI sekolah dasar.
MEDAN EKSTREM
Operasi Pencarian dan Pertolongan (SAR) terhadap kecelakaan pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar kendati dalam cuaca dan meda ekstrim masih dilakukan.
Selama puluhan jam, di bawah guyuran hujan akhirnya membuahkan hasil. Tim SAR gabungan bekerja tanpa jeda di tengah medan terjal dan cuaca yang berubah-ubah.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, menyampaikan bahwa pada (20/1), tim sudah berhasil mengevakuasi korban kedua dari kedalaman jurang dengan tingkat kesulitan tinggi.
“Sore tadi, tim SAR gabungan fokus melanjutkan pencarian dan evakuasi di beberapa sektor dengan membagi kekuatan menjadi enam Search and Rescue Unit (SRU), termasuk SRU darat dan vertical rescue. Dan akhirnya, korban kedua berjenis kelamin perempuan berhasil dievakuasi dari kedalaman sekitar 350 meter dengan kondisi medan yang sangat ekstrem,” ujar Arif pada Selasa, 20 Januari 2026 malam.
Arif menceritakan proses evakuasi dilakukan secara bertahap dan penuh kehati-hatian. Sebab, lokasi medan atau kondisi geografis adalah lembah curam, tebing terjal, serta jarak pandang terbatas akibat hujan dan kabut.
“Evakuasi korban membutuhkan teknik vertical rescue dan koordinasi lintas unsur yang sangat ketat. Tim bekerja dari lembah menuju puncak dengan peralatan khusus, dan saat ini sementara menuju ke Posko Tompobulu, untuk kemudian diserahkan ke tim DVI,” tambahnya.
Arif Anwar juga menegaskan bahwa operasi SAR ini melibatkan kekuatan besar, dengan total 1.075 personel dari berbagai unsur, termasuk Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, komunitas pecinta alam, hingga unsur medis.
Dukungan alutsista darat dan udara, seperti helikopter, pesawat intai, dan drone thermal, turut dikerahkan untuk mempercepat pencarian.
Dalam video yang diterima Disway.id, Tim SAR berjibaku menuruni tanah basah di kegelapan malam. Di bawah guyuran hujan deras hingga dini hari tadi, TIM SAR dengan peralatan terus berupaya membawa turun jenazah korban yang berhasil ditemukan di hutan belantara.
“Kami mengapresiasi dedikasi seluruh unsur yang terlibat. Operasi ini adalah wujud nyata sinergi dan kemanusiaan. Fokus kami tetap pada pencarian seluruh korban dengan mengutamakan keselamatan tim di lapangan,” tegasnya.
Untuk diketahui, Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport rute penerbangan Jogja-Makassar dilaporkan hilang kontak sekitar wilayah Leang Leang Maros, Sulawesi Selatan (Sulsesl) pada Sabtu, 17 Januari 2026 pukul 13.17 Wita.
Pesawat yang mengangkut 11 orang itu seharusnya telah tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar Sulsel.
Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas, Edy Prakoso mengatakan, bahwa pesawat tersebut dilaporkan hilang kontak dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
“Kantor SAR Makassar langsung mengerahkan tim pencarian setelah menerima laporan dari AirNav Indonesia. Pesawat tersebut membawa 11 orang yang terdiri atas 8 awak dan 3 penumpang. Kontak terakhir dengan pesawat dilaporkan terputus pada pukul 13.17 Wita,” kata dia.
Basarnas mengkonfirmasi data AirNav Indonesia, posisi terakhir pesawat diperkirakan berada di sekitar kawasan Leang-leang, Kabupaten Maros, dengan koordinat 04°57’08” Lintang Selatan dan 119°42’54” Bujur Timur.
KRONOLOGI AWAL
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan menyatakan pesawat dengan registrasi PK-THT yang dilaporkan hilang kontak itu, saat ini dalam tahap pencarian.
Dikutip dari Antara, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Lukman F. Laisa mengatakan, target pencarian dilakukan di pegunungan kapur Bantimurung, Desa Leang-leang, Kabupaten Maros.
Dia menyampaikan pencarian lanjutan direncanakan dilakukan melalui penerbangan helikopter TNI Angkatan Udara bersama Basarnas yang dijadwalkan pada pukul 16.25 Wita.
Dia menjelaskan, pada Sabtu, 17 Januari 2026, Dirjen Perhubungan Udara menerima laporan awal terkait hilangnya kontak (loss contact) pesawat udara jenis ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT yang dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT), pemegang AOC 034.
Pesawat ATR 42-500 buatan tahun 2000 dengan nomor seri 611 tersebut melaksanakan penerbangan dari Yogyakarta Adi Sucipto (JOG) menuju Makassar Sultan Hasanuddin (UPG), dengan Pilot in Command Capt. Andy Dahananto.
“Berdasarkan informasi kronologis terbaru, pada pukul 04.23 UTC, pesawat diarahkan oleh Air Traffic Control Makassar Area Terminal Service Center (MATSC) untuk melakukan pendekatan ke landasan pacu RWY 21 Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar,” jelas Lukman.
Dalam proses pendekatan, pesawat teridentifikasi tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya, sehingga Air Traffic Control (ATC) memberikan arahan ulang kepada awak pesawat untuk melakukan koreksi posisi.
ATC selanjutnya menyampaikan beberapa instruksi lanjutan guna membawa pesawat kembali ke jalur pendaratan yang sesuai dengan prosedur.
Lukman menjelaskan, setelah penyampaian arahan terakhir oleh ATC, komunikasi dengan pesawat terputus (loss contact). (*)










