Dugaan Keracunan MBG Terjadi Lagi di Bontang dan Kukar

Ketika murid sekolah di Bontang ini tengah mengambil menu makan bergizi gratis (MBG). (Michael)

Kendati pemerintah terus melakukan evaluasi, namun peristiwa dugaan keracunan akibat program MBG masih terus berulang. Kali ini terjadi di Kota Bontang dengan jumlah korban 24 orang dan di Kukar ada 85 orang. Warga mulai waswas mengonsumsi menu MBG. 

reviewsatu.comDUGAAN keracunan akibat Makan Bergizi Gratis (MBG) masih saja terjadi. Sebanyak 24 siswa dan guru di tiga sekolah di Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) disebutkan mengalami mual dan diare.

Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu, 5 Agustus 2026 dan dilaporkan Kamis, 6 Agustus 2026.

Tiga sekolah yang melaporkan kejadian tersebut yakni SDN 012 Bontang Selatan, SD Muhammadiyah Bontang Utara, dan PAUD Al Hikmah.

Di SDN 012 tercatat sebanyak 18 orang yang menjadi korban. Mereka terdiri 11 siswa dan 7 guru yang mengalami gejala serupa. Kemudian, satu orang dari SD Muhammadiyah Bontang Utara serta 5 orang korban di PAUD Al Hikmah. Semuanya mengalami mual dan diare.

Lurah Tanjung Laut Indah, Elis Biantoro mengaku menerima laporan dari pihak sekolah dan langsung melakukan pengecekan bersama Babinsa setempat pada Kamis (6/8/2026).

“Laporan sementara yang kami terima ada tiga sekolah yang mengeluhkan kondisi mual dan diare. Sekarang saya mau kroscek dulu,” kata Elis setelah pertemuan dengan pihak SDN 012 Bontang Selatan dan SPPG Bontang Utara 2.

Dugaan sementara mengarah pada makanan yang disajikan melalui program MBG. Salah satu menu yang menjadi perhatian adalah sayuran yang dalam proses pengolahannya mengalami perubahan bahan.

Menurut informasi yang diterima Elis dari pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), santan dalam menu tersebut diganti dengan kemiri. “Menurut pihak SPPG, jadi santan itu diganti dengan kemiri. Mungkin kurang matang atau bagaimana, sehingga kejadian seperti ini,” ujarnya.

Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan sebagai penyebab munculnya gejala mual dan diare.

Pihak terkait masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang telah disisihkan. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk memastikan kemungkinan adanya kontaminasi bakteri maupun faktor lainnya.

“Tindak lanjutnya masih menunggu hasil uji lab sampel. Apakah karena bakteri atau hanya dari bumbu kemiri tadi. Itu yang akan jadi patokan kami,” kata Elis.

Salah seorang wali murid yang meminta identitasnya disamarkan, AB, mengaku mengetahui informasi mengenai siswa yang mengalami gejala tersebut dari grup komunikasi komite sekolah. Ia belum dapat memastikan apakah keluhan yang dialami siswa dan guru tersebut benar-benar berkaitan dengan makanan MBG.

“Saya dengar kabarnya ramai di grup komite sekolah. Katanya ada yang muntah karena makan MBG,” kata AB saat dihubungi, Sabtu (8/8/2026).

AB mengatakan anaknya yang duduk di kelas 1 tidak mengalami gejala serupa. Menurut dia, anaknya memang tidak mengonsumsi makanan MBG yang dibagikan di sekolah.

“Dia memang tidak pernah makan kalau dibagikan MBG. Biasanya dibawa pulang,” ujarnya

Menanggapi itu, Kepala SPPG Bontang Utara 2 Muhammad Rizky mengatakan penanganan kejadian dilakukan sesuai prosedur yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).

“Kami ikuti sesuai SOP saja. Datanya sudah kami sampaikan ke Koordinator BGN Wilayah Bontang,” katanya.

Saat dikonfirmasi mengenai jumlah penerima MBG yang terdampak serta informasi mengenai kemungkinan penghentian sementara distribusi MBG di SDN 012 Bontang Selatan, Rizky belum memberikan penjelasan lebih lanjut.

“Saya belum dapat infonya. Nanti dulu ya, Pak,” ujarnya.

Elis menambahkan, distribusi MBG selama ini dilakukan dengan mengikuti prosedur tetap dan standar operasional prosedur (SOP). Salah satunya kewajiban menyisihkan sampel makanan untuk keperluan pemeriksaan apabila terjadi insiden.

Peristiwa serupa juga terjadi di Kecamatan Sebulu, Kutai Kartanegara (Kukar). Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kukar mencatat jumlah korban yang diduga akibat keracunan makanan MBG sebanyak 85 orang. Korban merupakan anak sekolah dan ibu posyandu yang berada di wilayah kerja Puskesmas Sebulu I.

Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufiddah mengatakan, kasus tersebut mulai terdeteksi pada Senin, 3 Agustus 2026 sekira pukul 09.14 Wita. Ketika itu  seorang anak TK datang ke puskesmas dengan gejala keracunan.

Setelah itu, pasien terus berdatangan hingga sore hari. “Hingga hari ini tercatat ada 85 pasien. Sebanyak 82 orang menjalani rawat jalan, sedangkan tiga lainnya dirawat inap,” ucap Ismi keesokan harinya, Selasa, 4 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, gejala yang dialami pasien umumnya berupa pusing, mual, dan sebagian mengalami muntah. Meski demikian, kondisi para pasien tidak menunjukkan gejala berat.

“Gejalanya khas, seperti pusing, mual, ada beberapa yang muntah, tetapi tidak terlalu parah. Pasien masih bisa diajak berkomunikasi dengan baik,” ujarnya.

SPPG DIHENTIKAN SEMENTARA

Sambil menunggu proses pemeriksaan, operasional SPPG Bontang Utara 2 di Kelurahan Api Api, dihentikan sementara. Penghentian dilakukan sambil menunggu hasil investigasi dan pemeriksaan laboratorium terkait dugaan keluhan mual, muntah, dan diare yang dialami sejumlah penerima manfaat MBG.

Kepala SPPG Bontang Utara 2, Muhammad Rezky mengatakan, keputusan tersebut diambil berdasarkan instruksi yang diterima sembari menunggu hasil evaluasi dan uji sampel makanan.

“Kami belum tahu sampai kapan operasional dihentikan. Saat ini kami masih menunggu instruksi lanjutan dan hasil pemeriksaan sampel,” terangnya, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Selama penghentian berlangsung, seluruh layanan dari dapur tersebut ikut terhenti. Tidak hanya distribusi makanan bergizi ke sekolah-sekolah penerima manfaat, tetapi juga penyaluran makanan untuk posyandu.

Saat ini, SPPG Bontang Utara 2 melayani 2.487 penerima manfaat. Seluruh distribusi dihentikan sementara hingga ada keputusan lebih lanjut dari pihak terkait.

Dampak penghentian operasional juga dirasakan para relawan yang bekerja di dapur. Sebanyak 44 relawan yang terdiri atas tim persiapan, juru masak, tim pemorsian, petugas pencuci ompreng, pengemudi, hingga asisten pengemudi untuk sementara dirumahkan.

“Karena mereka dibayar per hari, selama operasional dihentikan mereka kami rumahkan. Kami juga mengimbau jika ingin mencari pekerjaan lain sementara waktu dipersilakan karena memang tidak terikat kontrak,” katanya.

BANYAK MAKANAN SISA

Sementara itu, setelah kejadian tersebut juga terungkap bahwa banyak murid yang sejak awal tidak pernah mengonsumsi MBG. Misalnya di SMAN 1 Bontang. Media ini menemukan banyak makanan MBG yang tersisa. Makanan sisa itu kemudian dikumpulkan oleh guru-guru di sana, dibawa pulang untuk hewan peliharaan mereka.

“Sayang juga kan kalau tersisa seperti ini. Makanan ini hanya dipegang-pegang sedikit, setelah itu dibiarkan. Ada juga hanya diambil lauknya saja. Jadi kami kumpulkan saja. Sayang kalau terbuang,” kata salah satu guru yang enggan disebut namanya.

Menurutnya, kondisi itu terjadi kemungkinan karena anak-anak bosan dengan makanan yang diberikan. “Saya sih tidak tahu secara pasti kenapa mereka menyisahkan atau bahkan tidak memakan makanan ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Ishak Rombe, salah satu orangtua murid mengaku, kedua anaknya tidak pernah mengonsumsi MBG. Selama program itu berjalan, kebiasaan dirinya memberikan bekal kepada kedua anaknya tetap dilaksanakan.

“Kedua anak saya di sini selalu bawa bekal. Kalaupun MBG itu dimakan, paling hanya susunya saja. Mau makan buahnya, sering kali memang sudah bau. Tapi kalau buahnya bagus, pasti dimakan. Itu saja. Kalau lainnya, pasti dibawa pulang,” katanya, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Karena itu, ia mengaku tidak khawatir dengan berbagai isu yang beredar saat ini karena sejak awal ia sudah mengantisipasi semua hal tersebut. “Prinsip saya, yang mengetahui gizi anak-anak ya orangtuanya sendiri,” bebernya.

Berbeda halnya dengan orangtua murid yang berinisial RD. Anaknya saat ini bersekolah di SDN 012 Bontang Selatan. Mulanya dia mengaku percaya dengan program tersebut. Namun, karena kasus dugaan keracunan MBG tersebut, dirinya trauma. Karena itu, RD melarang anaknya untuk mengonsumsi MBG yang dibagikan.

“Lebih baik saya siapkan sendiri bekalnya dari rumah. Tidak mengapa saya harus korban biaya. Saya tidak mau ambil resiko. Ini untuk anak saya,” tegasnya.

Selain itu, katanya, setiap kali MBG dibagikan, anak kerap tidak habis makannya. Malah lebih sering utuh dan dibawa pulang ke rumah. “Saya tidak benci dengan MBG. Saya dukung. Tapi kan itu pilihan orangtua masing-masing,” tambahnya.

RD menyebut, pasca kejadian itu, penyaluran MBG di SDN 012 Bontang Selatan, sejak Jumat, 7 Agustus 2026 kini resmi dihentikan. Pihak sekolah pun meminta agar orangtua siswa menyiapkan bekal bagi anaknya masing-masing.

TUNGGU HASIL LAB

Sementera itu, Kepala Dinas Kesehatan Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati mengatakan, informasi yang didapatkannya, hasil laboratorium itu akan keluar paling cepat, Senin 10 Agustus 2026.

“Pemeriksaan laboratorium tidak sesederhana itu. Tidak bisa sehari dua hari selesai,” kata Toetoek saat dihubungi, Minggu, 8 Agustus 2026.

Menurutnya, timnya baru menerima sampel makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontang Utara 2, pada Kamis, 6 Agustus 2026. Sampel yang diperiksa laboratorium meliputi nasi, sayur, sambal, serundeng, dan ayam dalam kondisi beku.

Selanjutnya, pada Jumat, 7 Agustus 2026, sampel tersebut telah dimasukkan ke dalam inkubator untuk proses biakan mikrobiologi.

Pemeriksaan ini bertujuan mendeteksi kemungkinan adanya bakteri seperti Salmonella, Shigella, E. coli, dan Staphylococcus. “Untuk mengevaluasi hasil biakan, diperlukan waktu minimal 2×24 jam,” jelasnya.

Toetoek menargetkan hasil pemeriksaan laboratorium akan diketahui pada Senin, 10 Agustus 2026. Namun, ia menekankan, keluarnya hasil laboratorium bukan akhir dari penanganan kasus.

“Hasil laboratorium justru menjadi dasar untuk menentukan langkah pengendalian, termasuk penghentian sumber risiko, pembinaan dapur, serta pelaporan akhir kejadian luar biasa (KLB) keracunan pangan,” katanya.

Secara umum, penanganan kasus keracunan pangan mencakup pelayanan korban, penyelidikan epidemiologi, pemeriksaan laboratorium, pemantauan kasus, serta pengendalian faktor risiko.

Setelah hasil laboratorium keluar, Dinkes akan mengaitkannya dengan hasil penyelidikan epidemiologi. Hal ini penting untuk memastikan apakah agen penyebab yang ditemukan sesuai dengan gejala, waktu munculnya gejala, serta makanan yang dikonsumsi korban.

“Dari hasil tersebut, kami akan menyusun kesimpulan investigasi, termasuk kemungkinan hubungan antara kejadian keracunan dengan kontaminasi mikrobiologis pada menu tertentu,” tambahnya.

Selain itu, lanjut Toetoek, sejumlah langkah lanjutan juga akan dilakukan. Diantaranya memantau kondisi seluruh korban hingga pulih, memastikan tidak ada kasus baru, serta mendokumentasikan seluruh data kasus.

Pihaknya juga akan melaporkan hasil investigasi kepada Dinas Kesehatan Provinsi sebagai tindak lanjut laporan KLB, serta berkoordinasi dengan puskesmas, BPOM, pihak sekolah, dan pengelola dapur.

Tak hanya itu, pemeriksaan menyeluruh terhadap dapur MBG juga akan dilakukan, meliputi aspek higiene sanitasi, kualitas air, bahan baku, proses pengolahan, suhu penyimpanan, distribusi, hingga kebersihan peralatan dan penjamah makanan.

“Semua itu penting untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang,” tutup Toetoek. (*/mic/mat)