Selusuri Surutnya Sungai Mahakam, Disambut Banyak Konveyor

Catatan oleh Baharunsyah*

reviewsatu.com – DEBIT Sungai Mahakam sedang turun-turunnya pada Minggu 13 September 2026 pagi. Saya berangkat menggunakan kapal KM Karya Utama dari dermaga Sungai Kunjang, Samarinda, tujuan Muara Pahu, Kutai Barat. Kapal mulai menjauhi dermaga sekitar pukul 08.00 Wita. Ini bukan kali pertama saya pergi menaiki transportasi air. Terakhir kali saya pergi menaiki kapal penumpang sekitar tahun 2022. Waktu itu tujuannya hanya sampai kecamatan Muara Kaman, Kukar.

Kali ini saya pergi mengikuti undangan dari kawan-kawan lembaga PEKA Borneo. Lembaga non pemerintahan atau NGO yang bergerak di bidang pendampingan masyarakat adat khususnya di desa-desa.

Tidak tanggung-tanggung. Mereka mengajak saya pergi selama hampir dua minggu. Mendatangi sejumlah kampung atau desa, untuk memetakan potensi alam yang bisa mereka berdayagunakan demi meningkatkan taraf hidup. Tapi harus yang non emisi karbon.

Rute pertama adalah Kampung Sebelang, Kecamatan Muara Pahu, Kutai Barat. Waktu tempuh perjalanan sekitar 13 jam. Di dua jam perjalanan, kapal melewati Tenggarong, Kukar. Setelah itu, kapal melewati sejumlah kecamatan yang juga berdampingan dengan aliran sungai. Seperti Muara Kaman, Muara Muntai dan lainnya.

Sungai Mahakam pada Minggu itu memang sedang surut. Terlihat dari cekungan di tepi bibir sungai. Beberapa transportasi sungai publik yang berangkatl dari hulu, ikut berpapasan dengan kapal saya. Bahkan saling membunyikan klakson, seolah-olah tiap nakhoda sudah saling mengenal.

Semakin jauh perjalanan, kira-kira memasuki waktu tengah hari, permukiman sudah semakin jarang. Kanan kiri mulai tidak ada rumah warga. Berganti dengan konveyor batu bara. Mengisi emas hitam ke atas tongkang yang menempel di atas bibir sungai. Usut punya usut, konveyor tersebut berasal dari wilayah konsesi perusahaan batu bara PT Bayan Group. Tidak cuma satu. Ada lebih dari lima konveyor di kanan kiri sungai.

Saat itu tidak ada kepungan kabut asap. Cuma matahari memang sedang terik-teriknya menancapkan taji. Tidak ada terbesit pikiran bahwa langit akan menurunkan air berkahnya. Sampai menjelang magrib semua penumpang tertegun. Setitik dua titik air mulai berjatuhan dari langit. Hingga akhirnya hujan deras.

“Akhirnya hujan juga,” kata salah satu awak kapal.

“Ini hujan alami,” kata salah satu penumpang. Bukan hujan buatan melalui operasi modifikasi cuaca (OMC). Menurutnya. Alasannya karena hujan terjadi dua kali dengan volume naik turun. Bukan konstan.

Satu hal lagi yang perlu menjadi catatan kalau bepergian menggunakan transportasi air. Tidak semua tempat memiliki jaringan seluler, kecuali yang memang penduduknya padat. Saat masih melintasi kecamatan Muara Kaman, lalu melewati bawah Jembatan Kota Bangun, jaringan seluler pelan pelan mulai hilang.

Di momen ‘menyebalkan’ ini beberapa penumpang memilih tidur. Tapi saya pilih menonton film yang untungnya sudah saya download sebelumnya. Sekitar habis isya, atau kira-kira pukul 19.25 Wita, Tuhan turunkan lagi berkahnya untuk kali kedua.

Hujannya cukup deras. Meski pun durasinya tidak lama. Mungkin sekitar 15 menit. Senyap, tidak ada kebisingan di atas sungai, tak ada ribut-ribut kendaraan seperti di kota, cuma suara hujan, membuat suasana cukup syahdu malam itu.
Sekitar pukul 22.00 Wita, notifikasi whatssapp mulai masuk. Kapal saya menepi di dermaga pelabuhan Kampung Sebelang, di Kecamatan Muara Pahu, Kutai Barat. Di sana tim dari PEKA Borneo sudah menanti di tepi dermaga. Saya cek jam, pukul 22.34 Wita.

Yang perkiraannya cuma 13 jam, harus molor menjadi 14,5 jam. Ini menjadi perjalanan transportasi sungai pertama saya yang cukup melelahkan. (bersambung)