Bincang Bareng Caleg Muda Paser, Aldila Rianda Tasa

Aldila
Aldila (kaos abu-abu) saat berdialog dengan warga. (ist)

Samarinda, reviewsatu.com – Aldila menjadi penantang baru di daerah pemilihan (dapil) neraka. Melawan lima incumbent dan tiga ketua partai dari Paser.

Usianya tergolong muda sebagai calon legislator pendatang baru. 33 tahun. Namun kompetitornya justru termasuk senior dalam berpolitik. Ya, Aldi kini sedang berjuang untuk duduk di kursi DPRD Paser dapil IV dari Partai Gerindra. Memiliki nomor urut pertama menunjukkan kalau partai sangat menaruh atensi dan harapan padanya untuk bisa duduk. Lawan yang hadapi di dapilnya pun bukan kaleng-kaleng. Ada tiga ketua DPC di dapilnya saat ini. Ketiganya pun di nomor urut satu sama dengannya. Mereka adalah Muhammad Jarnawi (NasDem), Ikhwan Antasari (Golkar) dan Abdullah (Demokrat).
“Insyaallah saya siap,” ucapnya kepada media ini.

Sebagai seorang kader muda partai, semangatnya memang masih menggebu-gebu. Banyak hal yang ingin ia dorong di dapilnya jika terpilih nanti. Persoalan utama memang kebutuhan infrastruktur. Tapi ia punya pandangan lain. Membangun sumber daya manusia (SDM) juga sama pentingnya khususnya generasi muda. Ia berpandangan bahwa kalangan muda di sana kurang tersentuh pemerintah. Seperti tidak ada program khusus yang menyasar mereka. “Belum ada tersentuh secara program dan belum ada yang mendorong pemerintah untuk ke arah sana,” sebutnya.

Sebagai contoh program untuk pembinaan petani muda. Katanya justru sedikit. Memang di Paser katanya ada lembaga pendidikan yang membidangi pertanian. Salah satunya Sekolah Khusus Pertanian Paser. Sayangnya, kebanyakan para alumnus justru diarahkan untuk mencari pekerjaan di luar daerah. Bukan malah mengabdi di daerah dengan mengembangkan usaha dan sebagainya. Alhasil, para petani lokal pun tidak ada regenerasi.

Ada cerita miris yang ia dengar dari salah satu petani baru-baru ini. Ia sempat bertanya, siapa yang akan meneruskan usaha bertani tersebut. Sementara anak-anak mereka sebagian besar justru memilih mencari penghidupan di luar Paser. Petani itu terdiam.
“Karena belum ada sentuhan kebijakan untuk regenerasi di perikanan, peternakan, pertanian dan sejenisnya. Ini yang miris dan perlu didorong.”

Tidak adanya regenerasi ini berpotensi membuat Paser terancam kehilangan sumber daya pertanian. Padahal katanya, Paser punya potensi sebagai penyedia pangan di IKN. Sebab, jaraknya berbatasan dengan kabupaten PPU dan IKN. Dengan tegas ia katakan belum ada konsep yang jelas dari pemerintah untuk memberdayakan petani lokal. Karena itu sektor pertanian, peternakan, perikanan dan sejenisnya harus lebih terkonsep. Itulah yang hendak ia dorong ke Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, manakala dirinya terpilih sebagai anggota dewan.

Berbekal nyaleg di usia muda menjadi tantangan sekaligus peluang baginya. Pria yang juga mantan Aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) Kaltim ini harus bisa meyakinkan konstituen untuk memilihnya. Apalagi rata-rata usia pemilih adalah di atasnya. Bagaimana cara Aldi menyiasati itu. Membangun isu. Pertanian di antaranya. Ia terbilang sangat concern di bidang ini. Terbukti, saat tergabung di struktur kepengurusan KNPI Kaltim pun, Aldi menjabat sebagai Wakil Ketua DPD KNPI Kaltim bidang pertanian.

Baru-baru ini ia juga akan memberi bibit buah dan ikan kepada kelompok Karang Taruna dan kelompok masyarakat sekitar. Ini merupakan langkah untuk melestarikan lingkungan serta membangun kemandirian ekonomi pembudidaya lewat bibit ikan

Tujuan lainnya tentu agar para generasi muda ini bisa mengembangkan hasil pertanian dan perikanan itu secara mandiri. Ibarat pepatah lawas yang ia kutip lagi, jangan berikan ikan untuk makan tapi berikan pancing agar ia bisa hidup hingga berhari-hari.

“Sepanjang orang masih makan nasi dan mengonsumsi hasil pertanian, perikanan dan seterusnya, maka menunjukkan kalau sektor ini adalah sektor vital,” begitu katanya.

Lalu pengalaman dirinya sebagai staf di DPRD Kaltim dan tenaga ahli anggota DPR RI Budisatrio Djiwandono bisa menjadi peluang. Bukan ingin menjanjikan, tapi ia akan mengupayakan akses bantuan hingga provinsi dan ke senayan. “Karena pengalaman selama enam tahun mendampingi Pak Budi, lalu lima tahun di DPRD Kaltim sebagai staf, jadinya saya punya akses untuk bisa berikan bantuan lebih.”

Kini semua tinggal di tangan pemilih. Apakah akan memilih wajah baru yang masih muda dengan semangat menggebu, atau tidak. Dan menjadi tugas berat Aldi meyakinkan para pemilh agar tertarik dengannya. (boy)