Melemahnya Rupiah dalam Waktu Lama Akan Picu PHK dan Inflasi

Pengamat Ekonomi Universitas Mulawarman, Purwadi Purwoharsojo

SAMARINDA, reviewsatu.com – Terus melemahnya nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) akan memicu efek berantai yang dirasakan masyarakat hingga level bawah.

Pengamat Ekonomi Universitas Mulawarman, Purwadi Purwoharsojo, menyebut nilai tukar dolar AS yang kini berada di kisaran Rp18.000 itu dapat melemahkan daya beli masyarakat, menekan aktivitas dunia usaha, hingga meningkatkan angka pengangguran.

Menurut Purwadi, pelemahan rupiah yang berlangsung dalam waktu lama akan memengaruhi berbagai sektor ekonomi. Karena Indonesia masih bergantung pada impor sejumlah komoditas strategis dan bahan baku industri. 

Ketika dolar menguat, biaya impor ikut meningkat. Dan pada akhirnya berdampak pada inflasi harga barang di dalam negeri. Kondisi tersebut membuat masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih besar, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Kelompok berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling rentan, karena sebagian besar pendapatannya digunakan untuk konsumsi kebutuhan pokok.

Purwadi menjelaskan persoalan tidak berhenti pada kenaikan harga barang. 

Ketika biaya hidup meningkat, kemampuan belanja masyarakat cenderung menurun. Situasi itu berpotensi mengurangi perputaran uang di masyarakat, dan memengaruhi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

“Yang perlu dijaga saat ini adalah kepercayaan publik dan pelaku usaha. Ketika masyarakat mulai khawatir terhadap kondisi ekonomi, mereka cenderung menahan konsumsi dan investasi. Ini bisa memperlambat perputaran ekonomi secara keseluruhan,” ungkapnya, Minggu 7 Juni 2026.

Penurunan konsumsi rumah tangga, dinilai dapat menjadi tekanan baru bagi dunia usaha. Pasalnya, konsumsi masyarakat selama ini menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Ketika permintaan melemah, pelaku usaha berpotensi mengalami penurunan penjualan dan mulai melakukan berbagai langkah efisiensi.

Menurut Purwadi, kondisi tersebut dapat berdampak pada berkurangnya kebutuhan tenaga kerja. 

Dalam situasi tertentu, perusahaan bahkan bisa mengambil langkah pemutusan hubungan kerja untuk menekan biaya operasional.

“Kalau ekonomi terus melemah dan pengangguran meningkat, potensi ketidakpuasan sosial juga ikut meningkat. Ini yang harus diantisipasi sejak dini,” jelasnya. 

Bagi Kaltim, dampak pelemahan rupiah juga berpotensi dirasakan oleh berbagai sektor usaha. 

Seperti yang masih bergantung pada peralatan, suku cadang, maupun bahan penunjang produksi dari luar negeri. Kenaikan biaya operasional, dapat menekan keuntungan perusahaan dan memperlambat ekspansi usaha.

Meski demikian, Purwadi menilai beberapa sektor yang berorientasi ekspor berpeluang memperoleh keuntungan dari penguatan dolar. 

Namun manfaat tersebut, tidak selalu dirasakan secara merata. Sebab, sebagian pelaku usaha tetap memiliki kebutuhan impor untuk mendukung aktivitas produksinya.

Ia menekankan pentingnya menjaga optimisme pasar dan kepercayaan masyarakat, agar tekanan ekonomi tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar. 

Menurutnya, stabilitas ekonomi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan moneter, tetapi juga oleh keyakinan masyarakat dan pelaku usaha terhadap kondisi ekonomi ke depan.

“Pemerintah tidak boleh hanya fokus pada stabilitas kurs semata. Yang lebih penting adalah memastikan sektor riil tetap bergerak, lapangan kerja terjaga, dan daya beli masyarakat tidak terus mengalami penurunan,” katanya.

Purwadi menilai, pemerintah bersama Bank Indonesia perlu mengambil langkah cepat untuk menjaga stabilitas ekonomi. Mulai dari penguatan cadangan devisa, menjaga konsistensi kebijakan ekonomi, serta mengurangi ketergantungan terhadap impor. 

Hal ini baginya menjadi beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk meredam tekanan terhadap rupiah.

Menurut Purwadi, menjaga stabilitas nilai tukar bukan hanya penting untuk mengendalikan inflasi, tetapi juga untuk mempertahankan ketahanan ekonomi nasional. Sebab, berbagai negara pernah mengalami krisis berkepanjangan, yang bermula dari pelemahan mata uang dan berujung pada gejolak sosial maupun politik.

“Negara memang tidak langsung runtuh hanya karena kurs dolar naik. Tetapi ketika pelemahan mata uang dibiarkan berlarut-larut, inflasi tidak terkendali, daya beli masyarakat jatuh, investasi menurun, dan PHK terjadi di mana-mana, maka fondasi ekonomi negara bisa terguncang,” ujarnya.

Ia mengingatkan, tekanan terhadap ekonomi yang berlangsung terus-menerus dapat mengikis kepercayaan masyarakat dan pasar.  

Walhasil, upaya menjaga stabilitas rupiah harus menjadi perhatian bersama, agar dampaknya tidak meluas ke berbagai sektor kehidupan. “Ketahanan sebuah negara sangat ditentukan oleh kekuatan ekonominya.” 

“Jika fondasi ekonomi rapuh dan tekanan terus dibiarkan, dampaknya bisa meluas ke berbagai sektor kehidupan berbangsa dan bernegara,” pungkasnya. (*/may)