MADINAH, reviewsatu.com – Jumlah jamaah calon haji Indonesia yang tiba di Tanah Suci terus bertambah. Hingga Selasa (28/4/2026) pukul 18.00 Waktu Arab Saudi, tercatat sebanyak 113 kloter atau 43.812 jamaah telah mendarat di Bandara Prince Mohammed bin Abdul Aziz, Madinah.
Dari total tersebut, sebanyak 9.206 orang merupakan jamaah lanjut usia (lansia). Tingginya jumlah lansia ini membuat petugas memberikan perhatian khusus, terutama dalam pemantauan kesehatan.
Kepala Daerah Kerja (Daker) Bandara, Abdul Basir, menyatakan bahwa jamaah dengan risiko tinggi (risti) dan memiliki penyakit penyerta (komorbid) telah terdata sejak di Tanah Air.
Selama di Madinah, kondisi kesehatan mereka akan terus dipantau secara intensif oleh tim kesehatan PPIH. “Setiap perkembangan kesehatan jamaah akan dilaporkan dan langsung ditangani oleh tenaga medis,” ujar Basir.
Salah satu kloter yang menjadi perhatian adalah SUB 16 asal Surabaya yang sempat tertahan dua hari di Medan karena kendala teknis. Kloter tersebut akhirnya tiba di Madinah pada pukul 04.22 WAS dengan membawa 380 jamaah dan seluruhnya telah ditempatkan di hotel.
Petugas juga mencatat adanya beberapa kasus jamaah yang mengalami gangguan psikologis ringan seperti demensia atau kebingungan setelah menempuh perjalanan panjang.
Kondisi ini biasanya dipicu oleh kelelahan, kurang cairan, dan minimnya pengalaman perjalanan jauh.
“Jamaah diimbau memperbanyak minum air putih, istirahat yang cukup, dan tetap tenang. Dengan penanganan tepat, kondisi ini biasanya bisa kembali normal,” jelas Basir.
PPIH juga mengantisipasi kebutuhan lansia yang kesulitan menahan buang air. Petugas mengimbau jamaah lansia menggunakan popok (pampers) sejak dari embarkasi. Fasilitas penggantian pakaian juga telah disiapkan di area kedatangan.
Untuk menjaga kondisi fisik dan mental selama penerbangan, petugas kloter (karu dan karom) didorong melakukan pendampingan kreatif, seperti membaca selawat bersama dan peregangan ringan di dalam pesawat.
Proses kedatangan jamaah calon haji gelombang pertama di Madinah masih terus berlangsung menjelang pemindahan ke Mekkah.
MULAI BERGESER DARI MADINAH KE MAKKAH
Pada 30 April, ribuan jamaah calon haji Indonesia mulai melakukan pergeseran pertama dari Madinah menuju Makkah Al-Mukarramah akan dimulai, dengan proses miqat di Bir Ali sebagai titik awal ihram.
Kepala Bimbingan Ibadah (Bimbad) Sektor Bir Ali, Agususanto, mengatakan pihaknya telah melakukan koordinasi intensif dengan seluruh pembimbing ibadah kloter untuk mempersiapkan jamaah.
Para jamaah sudah diedukasi sejak di hotel Madinah, termasuk penggunaan kain ihram bagi laki-laki dan persiapan bagi perempuan.
“Jamaah laki-laki sudah menggunakan kain ihram, begitu juga perempuan. Mereka juga telah diedukasi tentang hal-hal yang menjadi larangan ihram beserta konsekuensinya,” ujar Agususanto.
Proses pergeseran tahun ini melibatkan 34 personel Bimbad Sektor Bir Ali, jumlah terbanyak dalam sejarah.
Tim membagi delapan check point untuk memudahkan alur jamaah. Saat tiba di Bir Ali, jamaah calon haji akan disambut petugas, turun dari bus, menuju masjid untuk salat, memperbaiki wudu jika diperlukan, kemudian berniat ihram secara bersama-sama.
Bagi jamaah lansia dan disabilitas, tim mengupayakan mereka tetap di dalam bus untuk menghindari kelelahan karena jarak parkiran yang cukup jauh.
“Yang wajib adalah berniat. Turun ke Masjid Bir Ali hukumnya sunnah. Jika ada keterlambatan bus atau kepadatan, kami akan edukasi agar jamaah bisa berniat langsung di bus tanpa turun,” jelas Agus.
Ia menambahkan, parkiran di Bir Ali tahun ini jauh lebih luas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, sehingga tim menyiapkan banyak titik poin untuk mencegah jamaah tersasar.
Agus menekankan pentingnya pemahaman larangan ihram. Untuk laki-laki, dilarang memakai pakaian berjahit, menutup kepala, dan menutup mata kaki.
Bagi perempuan, sejak berniat ihram tidak boleh menampakkan aurat dan tidak menutup wajah dengan niqab atau masker kecuali darurat.
Larangan bersama meliputi tidak memotong rambut atau kuku, tidak memakai wangi-wangian, tidak menyentuh Ka’bah sebelum tahalul, tidak bermesraan (rafats), tidak berkata kotor (fusuk), tidak bertengkar (jidal), tidak merusak tanaman, tidak berburu, serta tidak menikah atau dinikahkan. Pelanggaran dapat dikenai dam.
Setelah miqat di Bir Ali, jamaah akan langsung menuju hotel masing-masing di Makkah untuk check-in, beristirahat, dan memperbaiki wudu sebelum melaksanakan tawaf qudum, sa’i, serta tahalul.
Dengan persiapan matang ini, diharapkan seluruh proses pendorongan berjalan lancar dan jamaah dapat melaksanakan ibadah haji dengan aman, nyaman, serta mencapai haji mabrur. (*)










