KALTIM  

Sebanyak 5.320 Hektare Lahan Pertanian di Kaltim Terancam Kekeringan

Kondisi Sungai Mahakam yang menyusut beberapa hari terakhir menyebabkan air laut masuk dan mengganggu air PDAM. (Mayang)

SAMARINDA, reviewsatu.com – Kekeringan yang tidak kunjung berakhir di Kalimantan Timur (Kaltim), memperluas dampak pada sektor pertanian. Hingga September 2026, sebanyak 5.320 hektare lahan pertanian di sejumlah daerah terdampak kekeringan.

Kepala Pelaksana BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan mengatakan, dampak kemarau telah merambah kebutuhan dasar masyarakat. Penanganan bencana pun tidak cukup hanya berorientasi pada pemadaman api kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Jadi kebakaran ini bukan lagi hanya soal kebakaran dan asap, tetapi sudah menjadi efek kekeringan, baik kekeringan lahan maupun kekurangan air bersih,” kata Buyung, pada Selasa, 22 September 2026.

Tekanan akibat kekeringan mulai dirasakan sektor pertanian di sejumlah daerah. Dampaknya bervariasi, mulai dari lahan yang mengalami kekeringan hingga kondisi yang berujung pada gagal panen.

“Kalau untuk pertanian, di bulan Agustus itu sekitar 2.700 hektare yang terdampak kekeringan. Kemudian di bulan September ini bertambah sekitar 2.620 hektare. Ini tersebar di beberapa daerah, seperti Kutai Kartanegara, Paser, dan Penajam Paser Utara,” urainya.

Jika dijumlahkan, luas lahan pertanian yang terdampak kekeringan pada Agustus dan September mencapai sekitar 5.320 hektare.

Kondisi tersebut membuat persoalan air berkaitan langsung dengan keberlangsungan produksi pertanian. Ketika sumber air menyusut dan hujan belum turun secara merata, lahan yang bergantung pada pasokan air menjadi lebih rentan mengalami kerusakan.

Dampak kekeringan juga mulai dirasakan masyarakat. Di Samarinda, kebutuhan pasokan air muncul di kawasan Palaran, Simpang Pasir, Lempake, dan Tanah Merah.

Penyaluran air dilakukan untuk membantu warga yang mengalami penurunan ketersediaan sumber air selama kemarau.

Dampak kemarau dan karhutla juga terlihat pada kualitas udara di sejumlah wilayah. Asap yang bertahan di atmosfer turut memengaruhi kondisi udara.

Buyung menjelaskan, kondisi tersebut sempat membuat asap turun ke lapisan atmosfer yang lebih dekat dengan permukaan pada 15-19 September. Dampaknya dirasakan di sejumlah wilayah, termasuk Samarinda.

“Jadi bukan karena pada saat itu kebakaran yang ada di wilayah Samarinda atau sekitarnya sedang besar, tetapi akibat turunnya asap yang ada di atmosfer,” jelasnya.

Data BPBD Kaltim pada 21 September menunjukkan kualitas udara di sejumlah titik berada pada kategori berbeda.

Taman Segiri Samarinda tercatat dalam kategori Baik dengan nilai 27. Sementara Wonotirto, Sanipah, dan Muara Jawa Tengah di kawasan IKN berada pada kategori Tidak Sehat dengan nilai masing-masing 177, 94, dan 122.

Situasi tersebut berlangsung ketika peluang hujan di sebagian besar wilayah Kaltim masih terbatas. Berdasarkan pembaruan BMKG, periode 21-30 September diperkirakan didominasi curah hujan rendah sekitar 0-50 milimeter.

Wilayah utara Berau dan bagian barat Mahakam Ulu diprakirakan mendapat curah hujan 50-75 milimeter.

Untuk meminimalisir dampak kekeringan, Pemerintah Provinsi Kaltim mengandalkan operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan memanfaatkan awan yang memenuhi syarat penyemaian.

Pelaksanaan OMC tidak dapat dilakukan setiap waktu karena sangat bergantung pada kondisi awan.

“Kalau potensi awan sudah ada, teman-teman langsung melakukan sortie. Ada bibit awan seukuran apa pun yang berpotensi, langsung disebar NaCl atau garam,” kata Buyung.

Di sisi lain, kebutuhan air tidak bisa menunggu datangnya hujan. Pemerintah pusat telah menyalurkan 75 unit pompa ke Kaltim untuk mendukung penanganan di wilayah yang menghadapi potensi kekeringan, karhutla, maupun banjir.

Dukungan juga diberikan untuk menghadapi dampak asap terhadap kesehatan masyarakat. Sebanyak 20 ribu masker disiapkan melalui Bank Indonesia dan Kementerian Lingkungan Hidup, sementara pemeriksaan kesehatan dilakukan bersama Yayasan Jantung Indonesia.

Penanganan melalui udara juga menjadi bagian dari strategi menghadapi kondisi tersebut.

“BPBD merekomendasikan patroli udara, OMC, dan water bombing untuk lokasi yang sulit dijangkau dari darat. Operasi udara juga dapat diarahkan untuk mendukung pengisian embung pertanian,” bebernya.

Dampak asap juga berpotensi melewati wilayah sumber kebakaran. BPBD mencatat arah angin timur hingga tenggara berpotensi membawa asap menuju Sarawak, Sabah, Singapura, hingga Semenanjung Malaysia.

Skala persoalan tersebut, kata Buyung, tercermin dari status kebencanaan yang telah ditetapkan di daerah. Sebanyak 10 kabupaten/kota di Kaltim memiliki status kebencanaan dengan tingkatan berbeda.

Paser berstatus tanggap darurat karhutla. PPU, Berau, Kubar, dan Kutim berstatus siaga darurat karhutla.

Mahulu menetapkan siaga darurat kekeringan, sedangkan Samarinda berstatus siaga darurat karhutla sekaligus tanggap darurat kekeringan. Sementara Kukar, Balikpapan, dan Bontang berstatus siaga bencana.

Di tingkat provinsi, Pemerintah Provinsi Kaltim menetapkan status siaga darurat kekeringan, karhutla, dan asap.

Status tersebut menunjukkan dampak kemarau dan kebakaran ditangani sebagai persoalan lintas sektor, mulai dari ketersediaan air dan kondisi pertanian hingga kualitas udara serta perlindungan masyarakat.