Kabut Asap Karhutla Ganggu Jarak Pandang dan Penerbangan

Kabut asap mulai selimuti Kota Balikpapan. Meski masih kategori aman, namun BMKG terus memantau perkembangan manakala kondisinya makin memburuk. (Chandra)

Dampak kabut asap Karhutla mulai dirasakan beberapa daerah di Kaltim. Termasuk menurunnya jarak pandang dan mengganggu operasional penerbangan di sejumlah bandara.

reviewsatu.com – KABUT asap mulai menyelimuti hampir seluruh daerah di Kalimantan Timur (Kaltim). Bahkan di seluruh Kalimantan. Sebut saja di Balikpapan, Paser, PPU, Samarinda, Bontang, Kutim, Berau dan Mahakam Ulu (Mahulu), warganya sudah mengeluhkan dampak dari asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Beberapa pemerintah daerah setempat bahkan mengeluarkan surat edaran agar mengurangi aktivitas di luar rumah. Pun membatasi para pelajar dengan kebijakan belajar dari rumah. Seperti Dinas Pendidikan di Mahulu dan Kukar.  

Di Penajam Paser Utara (PPU), kabut asap mulai memengaruhi Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU). Angkanya menyentuh 72 per 31 Agustus 2026. 

Angka tersebut menempatkan tingkat pencemaran udara di daerah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) ini berada pada kategori sedang.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten PPU, Rakhmadi mengatakan, pengukuran ini terpantau secara realtime atau berdasarkan data parameter kualitas udara terkini.

“Nilainya 72 dan ini masih masuk dalam kategori sedang. Indikator ini diperbarui secara berkala per jam dan harian,” kata Rakhmadi, melalui Staf Bidang Pencemaran Lingkungan, Sumarno, Selasa 1 September 2026.

Katanya, berbagai parameter uji termasuk Particulate Matter (PM10), Sulfur Dioksida (SO2), dan Karbon Monoksida (CO), yang secara umum masih terpantau dalam kondisi baik, partikel debu dan asap berukuran 2,5 mikron (PM2,5) menjadi parameter penyumbang nilai tertinggi di wilayah PPU.

Sumarno menyebut, besaran angka ISPU daerah ditentukan oleh acuan parameter tertinggi yang terukur di lapangan. Ketika salah satu parameter melonjak, maka kategori akhir kualitas udara akan menyesuaikan nilai tersebut.

“Parameter lain seperti PM10, SO2, dan CO statusnya bagus.”

“Namun untuk PM2,5 atau partikel halus dari asap ini ukurannya sudah menyentuh angka 72,” terangnya.

Jika dibandingkan dengan kawasan tetangga, kualitas udara PPU relatif stabil. Sementara Kota Balikpapan berada di angka 61 (sedang) dan area pemantauan di kawasan IKN mencatatkan angka 76 (sedang). 

Kondisi ini dinilai jauh lebih aman dibandingkan sejumlah daerah di luar Kaltim yang terdampak paparan asap tebal. 

Seperti Kabupaten Murung Raya di Kalimantan Tengah yang sempat menyentuh angka ekstrem 830 dengan status berbahaya.

“Pengelompokan status ISPU sendiri terbagi ke dalam lima tingkatan warna, yakni baik, sedang, tidak sehat, sangat tidak sehat, hingga berbahaya,” sebutnya.

Meskipun kualitas udara di PPU saat ini masih aman, DLH PPU tetap mengimbau masyarakat untuk rutin memantau perkembangan indikator lingkungan secara mandiri. 

Data ISPU dan kondisi meteorologi harian saat ini dapat diakses secara terbuka oleh publik melalui aplikasi pemantauan kualitas udara yang tersedia di Play Store.

Dari pantauan media ini, selimut kabut asap kini jadi pemandangan rutin pagi hari di kawasan pesisir PPU. Kendati waktu menunjukkan pukul 08.30 Wita, kabut asap masih terlihat.

Saat melintasi Teluk Balikpapan menggunakan moda transportasi tradisional klotok, jarak pandang tampak terganggu. Dermaga Pelabuhan Penajam yang biasanya terlihat jelas dari kejauhan, kini diselimuti kabut asap.

Sejumlah objek vital di kawasan pesisir juga terlihat samar. Mulai dari permukiman warga, kapal tugboat, kawasan industri, kilang Pertamina, hingga Jembatan Pulau Balang tertutup kabut dari kejauhan.

Fenomena ini diduga kuat dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di beberapa titik wilayah Kabupaten PPU dan sekitarnya.

BALIKPAPAN DAPAT ASAP KIRIMAN

Kabut asap juga merambah Kota Balikpapan. Menurut pantauan wartawan pada Senin, 31 Agustus 2026, langit Balikpapan tampak tertutup awan kelabu. Bentang alam di Balikpapan yang masih berbukit-pun juga samar. Tidak seperti biasanya yang terlihat dedauan berwarna hijau cerah.

Gedung-gedung di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman, juga terlihat samar diduga tertutup kabut tipis.

Namun berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi udara Balikpapan masih tergolong aman.

Kepala BMKG Stasiun Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, Djoko Sumardiono, mengatakan asap tersebut bukan berasal dari Balikpapan.

Hasil rekaman citra satelit menunjukkan asap yang masuk ke Balikpapan berasal dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel).

“Kalau pantauan kami sekarang, memang ada beberapa titik-titik yang sudah masuk untuk asap, tapi kabut asapnya ini tidak parah, dan ini dari Kalimantan Selatan,” jelas Djoko, Senin (31/8/2026).

Menurutnya, kondisi geografis dan arah angin menyebabkan asap karhutla dari Kalimantan Selatan bergerak menuju wilayah utara Pulau Kalimantan.

Pola angin tersebut juga membuat asap dari Kalimantan Timur menyebar menuju sejumlah wilayah lain di bagian utara. “Bahkan untuk asap yang dari Berau, terpantau sudah sampai Malaysia,” ungkapnya.

Kondisi Balikpapan masih berbeda dengan sejumlah daerah lain di Kalimantan Timur yang terdampak lebih berat.

Berdasarkan data yang pernah ditampilkan BMKG, Balikpapan masih berada dalam kategori hijau, sedangkan Kutai Barat dan Kutai Kartanegara sudah masuk kategori oranye.

Djoko mengatakan masyarakat Balikpapan masih dapat beraktivitas tanpa menggunakan masker khusus akibat kondisi asap yang relatif tipis.Namun, BMKG tetap memantau pergerakan asap untuk mengantisipasi perubahan kondisi udara di Balikpapan.

Wilayah Berau menjadi salah satu daerah dengan kondisi paling parah akibat kepulan asap karhutla. “Bahkan ada penerbangan yang harus dialihkan,” ujarnya.

Minimnya jarak pandang menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pengalihan penerbangan di wilayah tersebut.

Di Balikpapan, jarak pandang masih berada pada kisaran 8 hingga 10 kilometer, sedangkan Berau hanya sekitar 3,5 kilometer. Kondisi tersebut berkaitan dengan kebakaran yang masih sulit dipadamkan di wilayah Berau.

Djoko mengapresiasi penanganan karhutla di Balikpapan yang dinilainya cukup cepat sehingga api tidak berkembang menjadi kebakaran besar.

“Kami salut untuk di Balikpapan, selalu sigap api tidak pernah sampai membesar,” tutur Djoko.

Meski kondisi Balikpapan masih aman, BMKG tidak menghentikan pemantauan terhadap pergerakan asap. Pemantauan juga tetap dilakukan di wilayah yang saat ini masih berada dalam kategori zona hijau.

JARAK PANDANG DAN PENERBANGAN

Sementara itu, kabut asap Karhutla dikabarkan mulai mengganggu operasional penerbangan di wilayah kerja Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah VII Balikpapan sepanjang 24-30 Agustus 2026.

Kepala Otoritas Bandar Udara Wilayah VII Balikpapan, Ferdinan Nurdin, mengatakan hasil pemantauan dan koordinasi selama periode tersebut mencatat 147 penerbangan terdampak asap Karhutla.

Dari total tersebut, sebanyak 95 penerbangan mengalami pembatalan atau penundaan keberangkatan. Kemudian 46 penerbangan mengalami keterlambatan, dan enam penerbangan dialihkan ke bandar udara lain.

“Keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama dan tidak dapat dikompromikan dalam setiap pengambilan keputusan operasional,” kata Ferdinan, Selasa 1 September 2026.

Dampak paling signifikan terjadi di Kalimantan Tengah dengan 88 penerbangan terdampak atau sekitar 59,8 persen dari keseluruhan penerbangan yang mengalami gangguan.

Gangguan tersebut terutama terjadi pada operasional penerbangan di Bandar Udara Haji Muhammad Sidik, Bandar Udara Tjilik Riwut, dan Bandar Udara Iskandar.

Kondisi itu berkaitan dengan menurunnya jarak pandang di sekitar bandar udara akibat peningkatan konsentrasi asap Karhutla.

“Ketika jarak pandang turun jauh di bawah batas operasi, penerbangan tidak bisa dipaksakan hanya untuk mempertahankan jadwal,” ujar Ferdinan.

Hasil pemantauan Otoritas Bandar Udara Wilayah VII menunjukkan jarak pandang terendah tercatat di Bandar Udara Long Apung, Kalimantan Utara, yakni hanya 100 meter.

Sementara itu, jarak pandang terendah di Bandar Udara Tjilik Riwut mencapai 300 meter dan di Bandar Udara Haji Muhammad Sidik tercatat 500 meter.

Kondisi jarak pandang tersebut berada jauh di bawah Aerodrome Operating Minima (AOM), sehingga memengaruhi kemampuan pesawat melakukan keberangkatan maupun pendaratan secara aman.

“Pembatalan, penundaan, keterlambatan, maupun pengalihan penerbangan merupakan langkah mitigasi ketika kondisi lapangan tidak memungkinkan operasi berlangsung secara aman,” tutur Ferdinan.

Selain aspek keselamatan penerbangan, Otoritas Bandar Udara Wilayah VII turut memantau pemenuhan hak penumpang yang terdampak pembatalan maupun keterlambatan penerbangan.

Ia menegaskan, maskapai pun berkewajiban memenuhi hak penumpang sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Termasuk kompensasi berdasarkan kondisi keterlambatan, penjadwalan ulang, atau pengembalian biaya tiket secara penuh.

“Penumpang yang terdampak tetap harus mendapatkan penanganan sesuai haknya berdasarkan kondisi penerbangan yang mereka alami,” kata Ferdinan.

Otoritas Bandar Udara Wilayah VII juga terus berkoordinasi dengan maskapai dan penyelenggara bandar udara agar penanganan penumpang berlangsung tertib, transparan, dan tetap mengedepankan kualitas pelayanan.

Pemantauan kondisi Karhutla, terutama jarak pandang dan dampaknya terhadap operasional penerbangan, akan terus dilakukan di seluruh bandar udara dalam wilayah kerja Otoritas Bandar Udara Wilayah VII.

Hal serupa juga terjadi di Bandar Udara Kalimarau, Berau. Kepulan asap tebal terpantau menyelimuti kawasan tersebut.

Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Bandar Udara Kalimarau, Patah Atabri, mengungkapkan bahwa kondisi cuaca di sekitar bandara Selasa 1 September 2026, mengalami penurunan drastis akibat paparan asap. 

Berdasarkan pemantauan instrumen penerbangan di lapangan, jarak pandang horizontal mengalami degradasi yang cukup signifikan.

“Kondisi di Bandar Udara Kalimarau pada tanggal 1 September 2026 siang ini terdampak asap, di mana terjadi penurunan jarak pandang antara 1.800 hingga 5.000 meter,” ujar Patah saat dikonfirmasi mengenai situasi terkini di bandar udara.

Fluktuasi jarak pandang yang menyusut hingga di angka 1.800 meter ini tentu memerlukan kewaspadaan ekstra bagi maskapai yang akan melakukan pendaratan maupun penerbangan dari Bandara Kalimarau. 

Standar keselamatan operasional penerbangan sangat bergantung pada visibilitas atau jarak pandang minimal demi memastikan keselamatan penumpang dan kru pesawat.

“Untuk penerbangan selanjutnya, tentu kami memantau kondisi jarak pandang.” 

“Jika memungkinkan, maka akan terbang, jika tidak makan akan menunggu hingga batas aman,” katanya. (*/set/chn/wal/dwa)