Jangan Anggap Remeh Peran Pemilih Pemula

pemilih
Ilustrasi pemilih pemula. (net)

Samarinda, reviewsatu.com – Para peserta pemilu harus lebih jeli melihat pemilih pemula pada pemilu 2024 mendatang. Salah strategi, justru potensi suara bisa hilang.

Sonny Sudiar, akademisi Universitas Mulawarman mengatakan parpol sebenarnya dapat memanfaatkan peluang menarik pemilih pemula untuk penyumbang suara secara maksimal. Hal ini tentu akan sangat menguntungkan partai.

“Karena karakteristik mereka yang belum terafiliasi dengan parpol apapun dan rata-rata mereka sangat antusias, karena bisa jadi 2024 ini adalah momen dimana ia menggunakan suaranya untuk memilih,” ujar Sonny ketika dihubungi melalui sambungan seluler, Jumat (14/7/2023).

Parpol pun dirasa perlu merangkul mereka. Salah satu strategi yang tepat adalah menggunakan pendekatan melalui sosial media.

“Biasanya mereka pengguna media sosial, jadi yang perlu dimaksimalkan oleh caleg adalah penggunaan sosial media,” saran Sonny.

Selain itu, parpol juga perlu merancang kegiatan-kegiatan yang dianggap mampu mengakomodasi kepentingan pemuda melalui sejumlah event. Seperti festival budaya, kuliner ataupun ajang-ajang kompetisi yang menjadi kesenangan pemilih pemula itu sendiri. Hal lainnya yang juga disorot Sonny adalah fungsi dan tugas dari parpol. Yaitu rekrutmen. Para pemilih pemula jangan hanya dijadikan sebagai penyumbang suara. Tapi parpol juga harus mengajak mereka untuk ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan politik.

“Mereka diajak untuk  menjadi anggota partai politik dan berkiprah,” imbuhnya.

Menurut Sonny, akan lebih baik jika parpol menjadikan mereka sebagai ujung tombak dalam pemilu, dengan menjadikan mereka sebagai calon legislatif.

“Manfaatnya tinggi, karena para pemilih akan merasa ada representasi dari kalangan mereka” Sonny menutup.

Dalam kesempatan berbeda, Budiman yang juga akademisi dari Unmul memiliki pendapat yang berbeda. Baginya, selama ini pemilih pemula cenderung apatis dalam politik. Itu terjadi karena para pemilih belum melihat kalau kontestasi politik ini akan berpengaruh terhadap mereka. Bagi Budiman, ia melihat peran strategis pemuda bukan hanya dari jumlah, tapi berdasarkan waktu.

“Indonesia kan menggadang-gadang Indonesia emas pada tahun 2045, kalau generasi saya kan sudah tentu akan renta pada waktu tersebut,” kata Budiman.

Ia menambahkan kalau generasi muda tidak menyadari peran mereka dalam memilih nanti, tujuan negara akan sulit terwujud. Apalagi kalau yang terpilih adalah orang yang salah.

“karena kunci pengambilan keputusannya kan dari presiden bersama pembantu-pembantunya, tapi kalau pilihannya adalah orang yang lebih mementingkan diri kelompok, memperkaya diri atau kelompoknya, maka otomatis Indonesia emas itu akan susah untuk dicapai,” singgung Budiman.

Karena baginya yang merasakan nasib bangsa nanti adalah generasi muda saat ini. Maka pemuda harus memposisikan diri mereka sebagai pihak penting yang berorientasi pada masa depan.

“Pemuda sekarang sudah harus berpikir, melihat rekam jejak calon-calon yang ada, jangan sampai menyesal dikemudian hari karena tidak ikut memilih, dan akhirnya yang terpilih adalah orang yang tidak beres.”

Menurut Budiman, bukan hanya parpol, tapi juga seluruh elemen masyarakat memiliki tugas bersama menyadarkan generasi muda. Bahwa posisi mereka penting dalam memilih calon terbaik untuk Indonesia ke depan.

Berkaitan dengan strategi parpol yang menjadikan pemuda sebagai caleg, Budiman memberikan catatan penting. Baginya ketika anak muda menjadi caleg, dia harus mampu mempresentasikan dirinya sebagai jawaban dari keresahan anak muda yang ada sekarang. Tugas besarnya bukan hanya menjadi caleg, tapi harus menyosialisasikan dirinya sebagai perwakilan generasi muda secara khusus, dan rakyat secara umum.

“Jika caleg muda masuk ke gelanggang, maka dia harus benar-benar petarung yang mempresentasikan anak muda. Kalau hanya numpang mencukupkan caleg, ya sama saja bohong,” pungkasnya. (sal/boy)

Pewarta; Salasmita