MAHAKAM ULU, reviewsatu.com – Selama dua pekan terakhir ini, Sungai Mahakam di wilayah hulu surut. Kondisi ini menyulitkan masyarakat di wilayah Kecamatan Long Apari dan Long Pahangai di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur.
Akibatnya pasokan kebutuhan pokok berkurang. Datang lebih lambat dan memicu kekhawatiran masyarakat di wilayah perbatasan tersebut.
Warga Long Pahangai, Margaretha Tubuq, mengatakan, distribusi barang kini tidak lagi berjalan normal karena jalur sungai yang menjadi akses utama sudah sangat dangkal.
“Sekarang longboat sudah tidak berani melintas karena akses di riam sangat terbatas. Speed boat juga sudah tidak ada yang beroperasi karena risikonya cukup tinggi,” ungkap Tubuq, Minggu 9 Agustus 2026.
Ia mengungkapkan, terhentinya transportasi sungai membuat masyarakat hanya mengandalkan jalur darat untuk distribusi barang.
Namun, kondisi jalan menuju Long Pahangai maupun wilayah Kecamatan Long Apari dinilai belum memadai untuk menggantikan fungsi jalur sungai sebagai sarana utama pengangkutan logistik.
“Sekarang pasokan barang ke kampung menjadi berkurang dan terlambat,” ucapnya.
Tubuq berharap, pemerintah segera mengambil langkah nyata agar kebutuhan masyarakat di wilayah perbatasan tetap terpenuhi.
Menurutnya, pemerintah perlu menjamin ketersediaan sembako, BBM, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya dengan harga yang tetap terjangkau.
Ia menambahkan, apabila kondisi kemarau terus berlangsung, masyarakat khawatir kesulitan memperoleh kebutuhan pokok akan semakin parah dan aktivitas sehari-hari ikut terganggu.
Kondisi tersebut juga dibenarkan Camat Long Pahangai, Thomas Ding. Ia menyebutkan bahwa kondisi debit Mahakam di wilayah Hulu saat ini sangat dangkal.
“Kalau transportasi sungai untuk wilayah Kecamatan Long Pahangai, longboat sudah tidak bisa turun lagi,” kata Thomas.
Menurut Thomas, saat ini hanya speedboat mesin satu yang masih dapat digunakan. Namun, penggunaannya pun sangat terbatas karena kondisi sungai yang semakin dangkal serta tingkat risikonya tinggi.
“Itu pun dengan susah payah. Sekarang hanya bisa membawa orang,” ujarnya.
Kondisi tersebut turut berdampak terhadap aktivitas masyarakat, terutama distribusi bahan bakar minyak (BBM).
Thomas menyebutkan, berdasarkan laporan pengelola APMS kepadanya, stok BBM masih tersedia. Namun, penyalurannya kini harus dibatasi agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat selama kemarau berlangsung.
Saat ini, jatah BBM untuk masyarakat dibatasi sekitar 5 liter per kepala keluarga.
Khusus aktivitas tertentu di dalam kampung, ketersediaan tersebut diperkirakan masih mampu bertahan hingga 10-15 hari ke depan jika sistem pembagian tetap dilakukan secara ketat.
“Kalau laporan teman-teman APMS, cukup untuk 10 sampai 15 hari ke depan dengan sistem pembagian. Kemarin sekitar 238 drum kalau tidak salah,” jelasnya.
Kondisi serupa dan paling parah juga terjadi di wilayah kecamatan Long Apari yang merupakan daerah paling ujung Mahulu.
Camat Long Apari, Petrus Ngo mengatakan ketersediaan bahan kebutuhan di beberapa tempat sudah semakin menipis, termasuk stok BBM. Menurutnya, kelangkaan terjadi akibat pasokan yang masuk dari wilayah hilir yang terganggu akibat kondisi Sungai Mahakam yang semakin dangkal.
Guna mengatasi kehabisan stok BBM, pihak APMS setempat terpaksa membatasi jumlah pembelian BBM bagi masyarakat.
“Sekarang dibatasi jumlah pembelian, daripada kehabisan. Karena pendistribusian BBM tidak lancar,” jelasnya. (*/is)










