JAKARTA, reviewsatu.com – Merosotnya nilai tukar rupiah secara bertahap hingga di kisaran Rp18.000 per Dolar, membuat perusahaan ritel mulai khawatir. Perusahaan ritel besar di Indonesia mulai mewanti-wanti akan adanya kemungkinan kenaikan harga sejumlah produk di pasaran imbas melemahnya rupiah ini.
Antara lain adalah PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Perseroan; Alfamart; IDX: AMRT), atau Alfamart. Corporate Secretary AMRT Tomin Widian mengatakan, kondisi pasar saat ini tidak lebih baik dari tahun lalu. Harga-harga akan naik di tengah daya beli yang cenderung menurun.
“Jadi kami juga dapat informasi dari beberapa supplier mengenai kemungkinan jadinya menaikkan harga. Jadi kita bisa bayangkan di tengah daya beli yang relatif tidak cukup kuat, tapi harga kemungkinan juga tidak bisa bertahan,” tutur Tomin kepada Disway di Tangerang, Jumat, 5 Mei 2026. Tomin juga menambahkan bahwa melemahnya nilai tukar Rupiah menjadi alasan utama di balik keputusan para supplier tersebut.
“Di sampingnya kita semua tahu exchange rate USD yang terus memuat kelemahannya Rupiah. Ini yang terserang tantangan buat kita, karena beberapa supplier seperti ini juga tidak akan mampu lagi menahan harga,” jelas Tomin.
Dalam menghadapi situasi tersebut, Tomin menjelaskan bahwa kedepannya Alfamart akan berupaya untuk memaksimalkan pelayanan yang diberikan kepada pelanggan.
Selain itu, dirinya juga menambahkan bahwa Alfamart juga akan menempatkan beberapa penawaran tertentu untuk meningkatkan daya beli masyarakat.
“Kita tentunya berusaha untuk bisa pertama lebih mengenal konsumen dengan data yang kita miliki. Kita percaya bahwa data itu bisa membuat kita punya visibilitas lebih bagus mengenai konsumen kita, sehingga bisa memberikan penawaran yang lebih cepat,” tutur Tomin.
“Kita berusaha untuk memberikan promosi-promosi yang bisa meningkatkan loyalitas setelahnya kita. Sekali lagi promosinya bukan sekedar promosi, tapi kita berbasis data. Jadi dengan kemampuan atau data base konsumen yang kita miliki, kita yakin bisa menjawab tantangan atau kondisi yang gak mudah,” tambahnya.
Dilansir dari data Google Finance, kurs dolar AS terhadap mata uang Rupiah kembali meningkat sekitar 0,76 persen hingga ke kisaran Rp 18.001. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan bahwa pelemahan nilai tukar Rupiah yang saat ini tengah terjadi masih disebabkan oleh kondisi geopolitik Timur Tengah.
Menurutnya, tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi telah menghambat prospek damai, sehingga mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara emerging.
“Kebutuhan domestik juga masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran ULN,” ucap Destry kepada awak media pada Kamis, (04/06) lalu. (*)










