reviewsatu.com – NAMA Kartini hingga hari ini harum dan menjadi spirit emansipasi perempuan di Indonesia. Setiap 21 April menjadi momen untuk memperingati perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam menyuarakan kesetaraan bagi kaum perempuan.
Penetapan Hari Kartini tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 1964. Dalam keputusan tersebut, pemerintah menetapkan tanggal lahir RA Kartini 21 April 1897 di Jepara sebagai hari besar nasional, Hari Kartini.
Peringatan ini bertujuan untuk mengenang jasa dan perjuangan RA Kartini dalam memenuhi hak-hak perempuan termasuk pendidikan di masa penjajahan.
Bahkan pengaruh Kartini juga telah diakui oleh UNESCO yang menetapkan arsip surat-surat sebagai Memory of The World.
Kini, semangat perjuangan Kartini terus diwariskan lintas generasi. Perempuan Indonesia memiliki lebih banyak kesempatan untuk berkembang, berpendidikan, dan berkontribusi dalam berbagai sektor.
Dengan memahami jejak perjuangan Kartini, masyarakat diharapkan dapat terus menjaga dan melanjutkan semangat emansipasi demi menciptakan kesetaraan yang lebih adil di masa depan.
Jejak Perjuangan Kartini
Kartini lahir dari keluarga bangsawan Jawa yakni sang ayah Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan ibu M.A. Ngasirah.
Kartini sempat mengenyam pendidikan di sekolah Belanda bernama Europese Lagere School (ELS) hingga usianya menginjak 12 tahun.
Saat mengenyam pendidikan, Kartini mulai mengenal cakrawala pemikiran Barat yang modern. Namun pada zaman itu, perempuan tidak diperbolehkan melanjutkan pendidikan lebih tinggi dibanding laki-laki. Kehidupannya mulai berubah secara drastis, Kartini kemudian menjalani masa pingit setelah lulus sekolah dasar.
Dengan kegigihan dan samangatnya untuk menjunjung kesetaraan, ini menjadi titik untuk memperjuangkan hak-hak perempuan.
Selama bertahun-tahun terisolasi, hanya dengan berbekal buku, majalah, dan surat kabar Belanda seperti De Lecomotief intelektualitas Kartini mulai berkembang secara otodidak.
Dengan kemampuan bahasa Belanda yang fasih, ia gunakan untuk bersurat dengan sahabat-sahabat penanya di Eropa, seperti Estelle “Stella” Zeehandelaar dan Ny Abendanon.
Surat-surat Kartini tak hanya sekadar curhatan, malainkan juga menuangkan kritik-kritik praktik poligami yang dianggap merendahkan martabat perempuan.
Ia juga tak sungkan mengkritik sistem pendidikan kolonial yang diskriminatif dan menyuarakan pentingnya bagi bangsa Indonesia untuk mengerjat ilmu pengetahuan yang lama tertinggal.
Pada tahun 1903, Kartini mulai kehidupan baru dan menikah dengan Bupati Rembang, KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat.
Di Rembang, Kartini mulai mendirikan sekolah khusus perempuan pertama di kompleks kantor kabupaten. Kartini mulai mengajar anak-anak gadis membaca, menulis, hingga membuat kerajinan tangan.
Dedikasinya itu ditujukan agar para perempuan menjadi ibu yang terdidik bagi generasi mendatang. Di tengah semangat emansipasinya, Kartini meninggal dunia pada 17 September 1904 setelah melahirkan putra pertamanya.
Meski sosoknya hanya tinggal nama, namun dedikasi dan semangat emansipasinya masih terus menyala hingga genarasi saat ini.
Surat-surat Kartini juga dibukukan oleh JH Abendanon dengan judul Door Duisternis tot Licht (1911). Kemudian diterbitkan dalam sebuah buku berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”, yang menjadi warisan intelektual Kartini untuk generasi penerus.
Buku tersebut menjad pematik lahirnya Yayasan Kartini dengan mendirikan sekolah-sekolah di seluruh Nusantara.
Pada tahun 1964, Kartini dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Soekarno.
Suatu pencapaian mengesankan mengingat ia meraihnya hanya melalui buah pikiran progresif dan cara pandang visioner yang menginginkan kesetaraan peluang pendidikan bagi perempuan. (*)










