Melihat Forward P/E & Potensi Re-Rating

Ester Mulyani, Research Analyst INFOVESTA

Oleh: Ester Mulyani

(Research Analyst INFOVESTA)

reviewsatu.comKOREKSI pasar saham Indonesia sepanjang 2026 telah membawa hampir seluruh sektor ke level harga yang lebih rendah.

Pada penutupan perdagangan 21 Juli 2026, IHSG berada di level 6.340,02, turun sekitar 26,7% dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar 8.646,94. Tekanan tersebut juga disertai arus keluar investor asing lebih Rp77,73 triliun sepanjang tahun, meskipun IHSG sempat mencatat rebound lebih dari 10% pada Juli.

Pada artikel ini akan melihat pergerakan tersebut dari pandangan Forward Price /Earning (P/E), yaitu rasio harga saham dibagi perkiraan laba per saham (EPS) untuk 12 bulan ke depan.

Bedanya dengan trailing P/E yang memakai laba 12 bulan terakhir, forward P/E memakai estimasi laba masa depan dari analis atau manajemen perusahaan. Kompresi valuasi terlihat jelas pada MSCI Indonesia Index. Per 30 Juni 2026, indeks tersebut diperdagangkan pada forward P/E 8,39 kali, P/E historis 9,55 kali, dan price-to-book value 1,41 kali.

Dividend yield indeks bahkan mencapai 8,62%. Komposisinya masih didominasi perbankan besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI, serta TLKM, sehingga valuasi indeks sangat dipengaruhi oleh sektor keuangan dan telekomunikasi.

De-rating (sentimen dimana pasar membayar lebih murah untuk laba perusahaan) kali ini lebih banyak didorong oleh kenaikan premi risiko pada tingkat pasar, bukan oleh kerusakan fundamental yang merata di seluruh emiten.

Beberapa faktor bekerja secara bersamaan sepanjang paruh pertama tahun ini. Pertama, tekanan dari sisi eksternal dan komoditas, ketika lonjakan harga minyak akibat ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz mendorong Indonesian Crude Price atau ICP jauh di atas asumsi APBN sebesar US$70 per barel, sehingga menambah tekanan pada sisi fiskal sebagai negara importir minyak neto.

Kedua, kekhawatiran fiskal, khususnya terhadap batas defisit 3 persen dan kenaikan rasio pembayaran bunga terhadap pendapatan negara. 

Ketiga, tekanan pada peringkat dan outlook kredit, di mana Moody’s merevisi outlook Indonesia menjadi negatif pada Februari 2026, diikuti Fitch pada 4 Maret 2026. Sementara itu, S&P mengafirmasi peringkat Indonesia pada BBB dengan outlook stabil pada 13 Juli 2026.

Keempat, peristiwa pada indeks global, ketika MSCI mengeluarkan sejumlah saham berkapitalisasi besar dari MSCI Global Standard Index pada Mei 2026, yang memicu arus keluar pasif secara mekanis dan menekan segmen large-cap.

Kelima, pelemahan nilai tukar, dengan rupiah yang sempat menembus level psikologi sebesar Rp18.000 per dolar AS dan turut mendorong arus keluar dana asing di pasar saham hingga sekitar Rp77,73 Triliun YTD.

Kombinasi faktor tersebut menaikkan tingkat pengembalian yang diminta investor untuk memegang aset Indonesia. Ketika premi risiko naik, investor bersedia membayar kelipatan laba yang lebih rendah meskipun laba emiten tidak berubah.

Sebagian sektor menjadi murah serentak. Sektor finansial turun sebesar 11,22% secara YTD, sektor consumer non-cyclicals terkoreksi 16,45%, sektor infrastruktur turun 30,85%, sedangkan sektor kesehatan melemah sebesar 30,68%.

Koreksi tersebut telah mendorong kompresi valuasi yang signifikan. Market P/E IHSG saat ini berada di 12,78x, dibandingkan rata-rata lima tahun sebesar 16,5x, atau setara diskon sekitar 22,5% terhadap rata-rata historisnya.

Apabila hampir seluruh sektor telah mengalami de-rating, sektor mana yang memiliki peluang terbesar untuk mengalami re-rating? 

Forward P/E menunjukkan berapa kali investor membayar estimasi laba satu tahun ke depan. Multiple tersebut dapat turun karena harga saham terkoreksi lebih cepat daripada estimasi laba, tetapi juga dapat terlihat rendah apabila laba berada pada puncak siklus atau estimasi konsensus masih terlalu optimistis.

Oleh karena itu, potensi re-rating perlu dinilai melalui empat pertanyaan:

  • Seberapa besar diskon terhadap riwayat valuasi sektor? 
  • Apakah earnings revisions telah stabil atau mulai berbalik positif? 
  • Apakah sektor mampu mempertahankan ROE atau ROIC dan menghasilkan arus kas? 
  • Apakah terdapat katalis yang dapat mengubah persepsi investor?

IMG_256

Source: Bloomberg

Basic Materials: Murah secara Historis, tetapi Sangat Siklikal

Sektor basic materials diperdagangkan pada forward P/E sebesar 12,4 kali, hampir menyentuh level -2 standar deviasi sebesar 12,5 kali. Dibandingkan rata-rata lima tahun sebesar 22,4 kali, sektor ini berada pada diskon sebesar 44,7%, dengan z-score -2,03.

Secara statistik, basic materials merupakan salah satu sektor dengan potensi re-rating terbesar. Namun, interpretasi forward P/E pada sektor ini harus dilakukan secara lebih hati-hati karena laba perusahaan basic materials sangat dipengaruhi oleh harga komoditas, utilisasi kapasitas, biaya energi, volume produksi, dan kebijakan pemerintah.

Forward P/E yang rendah dapat menunjukkan bahwa harga saham sudah terlalu tertekan, tetapi juga dapat terjadi karena estimasi laba masih menggunakan asumsi harga komoditas yang tinggi. Karena itu, kandidat re-rating di sektor ini sebaiknya dicari pada perusahaan yang pertumbuhan labanya berasal dari peningkatan volume, efisiensi biaya, dan peningkatan kapasitas produksi, bukan hanya dari kenaikan harga jual komoditas.

Potensi kenaikannya basic materials dapat besar ketika siklus industri dan sentimen komoditas membaik, tetapi tingkat kepastian labanya cenderung lebih rendah dibandingkan sektor yang bersifat defensif.

Financials: Diskon Besar dengan Peluang Normalisasi Peluang Terukur

Sektor financials memiliki forward P/E sebesar 8,2 kali, atau sekitar 35,2% di bawah rata-rata lima tahun sebesar 12,7 kali. Z-score sektor berada pada -1,52, sehingga valuasinya berada di antara -1 dan -2 standar deviasi.

Secara statistik, diskon financials tidak sedalam healthcare, consumer non-cyclicals, maupun basic materials. Namun, sektor ini tetap dapat menjadi kandidat re-rating dengan tingkat keyakinan yang lebih tinggi apabila penurunan valuasi tidak disertai pelemahan fundamental yang sebanding.

Untuk sektor perbankan, investor tidak hanya perlu memperhatikan forward P/E, tetapi juga return on equity, pertumbuhan kredit, net interest margin, cost of credit, kualitas aset, dan kekuatan dana murah. Jika ROE tetap tinggi, pertumbuhan kredit masih positif, dan rasio kredit bermasalah terkendali, maka forward P/E yang berada jauh di bawah rata-rata historis dapat mencerminkan kenaikan risk premium yang bersifat sementara.

Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan kredit perbankan pada Mei 2026 masih tumbuh 11,51% secara tahunan. Kredit investasi tumbuh paling tinggi sebesar 21,95%, diikuti kredit modal kerja sebesar 8,09% dan kredit konsumsi sebesar 5,89%. Dana pihak ketiga tumbuh 13,49%, sementara rasio kecukupan modal atau CAR tetap tinggi pada 23,74%. Gross NPL berada di level 2,17%, net NPL 0,84%, dan loan at risk 8,72%. ROA industri tercatat 2,45%.

Risiko pada pertumbuhan kredit lebih terkonsentrasi pada kredit investasi dan korporasi, sedangkan kredit konsumsi dan UMKM tumbuh lebih lambat. BRIDS juga mencatat kenaikan tekanan kualitas aset pada beberapa segmen rumah tangga. Re-rating sektor bank dapat tertunda apabila NIM terus tertekan, biaya kredit naik, atau pelemahan daya beli menyebar ke kualitas aset.

Healthcare: Diskon Terdalam tapi Tidak Otomatis paling Undervalue

Healthcare mencatat dislokasi valuasi paling ekstrem. Sektor ini diperdagangkan pada forward P/E 12,5 kali, dibandingkan rata-rata lima tahun sebesar 25,2 kali. Diskonnya mencapai 50,4%, dengan z-score -2,75, jauh di bawah -2 standar deviasi.

Secara statistik, healthcare merupakan sektor termurah dibandingkan historinya sendiri. Namun, rendahnya z-score belum cukup untuk menyimpulkan bahwa sektor ini undervalued. Rata-rata historis yang tinggi dapat terbentuk ketika pasar memberikan premium besar atas karakter defensif, pertumbuhan struktural layanan kesehatan, dan ekspansi kapasitas rumah sakit. Apabila asumsi pertumbuhan tersebut tidak lagi tercapai, sebagian penurunan multiple dapat bersifat struktural.

Sektor ini menjadi menarik apabila rendahnya valuasi disertai pertumbuhan pasien, kenaikan utilisasi aset, pemulihan EBITDA margin, dan peningkatan ROIC atas rumah sakit atau fasilitas baru. Perhatian utama perlu diberikan pada kualitas pertumbuhan.

Ekspansi pendapatan yang tidak menghasilkan arus kas operasional dan pengembalian modal yang memadai belum cukup untuk mendukung re-rating.

Diskon saat ini dapat dibenarkan apabila earnings revisions masih negatif, utilisasi kapasitas baru rendah, biaya tenaga medis meningkat, atau ekspansi dilakukan dengan leverage yang agresif. Sebaliknya, diskon menjadi berlebihan apabila laba dan arus kas mulai pulih sementara valuasi tetap berada jauh di bawah historical band.

Risiko berasal dari kebijakan tarif BPJS, normalisasi volume, kenaikan biaya tenaga medis, dan belanja modal yang belum menghasilkan return memadai. Valuasi yang rendah baru akan relevan apabila ekspansi kapasitas diikuti peningkatan asset turnover dan ROIC.

Consumer Non-Cyclicals: Bergantung pada Pemulihan Volume

Consumer non-cyclicals diperdagangkan pada forward P/E 8,6 kali, lebih rendah 32,8% dari rata-rata lima tahun sebesar 12,7 kali. Z-score sektor berada pada -2,32, sedikit di bawah level -2 standar deviasi.

Valuasi tersebut menunjukkan bahwa pasar telah memasukkan asumsi yang cukup konservatif terhadap daya beli, volume penjualan, kemampuan menaikkan harga, dan pemulihan margin. Sektor ini secara tradisional memperoleh premium karena permintaannya relatif defensif dan banyak emitennya memiliki merek kuat, jaringan distribusi luas, serta arus kas yang stabil. Hilangnya premium tersebut menjadi menarik apabila tekanan konsumsi hanya bersifat siklikal.

Namun, diskon dapat tetap dibenarkan apabila pertumbuhan pendapatan hanya berasal dari kenaikan harga sementara volume terus melemah.

Perusahaan juga dapat terlihat murah secara P/E, tetapi belum menarik apabila gross margin tertekan, working capital meningkat, dan cash conversion memburuk.

Indikator penting adalah arah earnings revisions, pertumbuhan volume, pemulihan gross margin, serta konsistensi arus kas operasional. Emiten dengan posisi net cash, ROIC tinggi, dan kemampuan mengonversi laba menjadi kas memiliki peluang re-rating lebih besar dibandingkan perusahaan yang bergantung pada promosi atau utang untuk mempertahankan pertumbuhan.

Katalis yang terukur adalah pertumbuhan volume yang kembali positif, perbaikan gross margin, dan revisi naik estimasi EPS setelah stabilisasi biaya bahan baku serta nilai tukar. Risiko utamanya adalah pelemahan daya beli yang berkepanjangan, down-trading konsumen, kenaikan harga bahan baku, depresiasi rupiah, dan persaingan harga yang menekan margin.

Infrastructure: diskon terhadap mean besar, tetapi belum ekstrem secara statistik

Infrastructure diperdagangkan pada forward P/E 12,7 kali, dibandingkan rata-rata lima tahun sebesar 20,3 kali. Sektor ini mencatat diskon 37,8%, tetapi z-score hanya -0,97, atau kurang lebih berada pada minus satu standar deviasi. 

Perbedaan antara diskon yang besar dan z-score yang relatif moderat menunjukkan bahwa historical P/E Infrastructure memiliki volatilitas tinggi.

Rentang valuasi lima tahunnya sangat lebar, mencerminkan perbedaan model bisnis, tingkat leverage, durasi aset, dan volatilitas laba antarperusahaan.

Sektor ini menjadi murah karena tingginya cost of capital, kebutuhan capex, risiko pelaksanaan proyek, dan kekhawatiran terhadap leverage. Pada subsector telekomunikasi, potensi pertumbuhan didukung kenaikan konsumsi data, perluasan fixed broadband, serta upaya perbaikan monetisasi jaringan.

PwC memperkirakan pendapatan layanan telekomunikasi Indonesia mencapai sekitar US$17–18 miliar pada 2025 dan berpotensi tumbuh dengan compound annual growth rate menengah satu digit hingga 2030, didukung pertumbuhan penggunaan data, perluasan jaringan, dan penetrasi broadband rumah. Sektor informasi dan komunikasi sendiri tumbuh 8,35% pada 2025 dan menyumbang 4,40% terhadap produk domestik bruto.Dengan demikian, diskon 37,8% belum otomatis menunjukkan bahwa Infrastructure berada pada valuasi ekstrem. 

Risiko sektor ini adalah kegagalan price repair, biaya spektrum yang tinggi, kebutuhan capex yang tetap besar, serta tekanan ARPU. Sekitar 97% pelanggan seluler Indonesia masih menggunakan layanan prabayar, yang cenderung memiliki churn lebih tinggi dan sensitivitas harga lebih besar. (*)