Pertamina Hentikan Uji Coba, Debu di Balikpapan Mengandung Material Zeolit

Lapisan debu halus tampak menempel di jok motor warga Balikpapan. (Ist)

Hasil uji Laboratorium Sucofindo Jakarta menunjukkaan “hujan debu” di Balikpapan mengandung material zeolit. Diskes Balikpapan sebut kandungan tersebut tidak berbahaya. DPRD Balikpapan meminta agar pemantauan kesehatan masyarakat tidak berhenti disitu.

reviewsatu.com – HASIL pemeriksaan awal terhadap partikel debu yang sempat dikeluhkan warga di sejumlah kawasan di Balikpapan selama sepekan ini, sudah keluar dan diterima Dinas Kesehatan Kota (Diskes) Balikpapan.   

Hasil uji laboratorium itu tidak menunjukkan adanya kandungan bahan berbahaya. Namun demikian Diskes Balikpapan akan tetap melakukan  pemantauan kesehatan terhadap masyarakat terdampak.

Kepala DKK Balikpapan Alwiati mengatakan sampel debu telah diperiksa di Laboratorium Sucofindo Jakarta. Berdasarkan hasil yang diterima dinas, material tersebut diidentifikasi sebagai zeolit yang mengandung aluminium silikat.

“Hasil pemeriksaan yang kami terima menunjukkan material itu merupakan zeolit. Sejauh ini tidak ditemukan kandungan yang membahayakan kesehatan masyarakat,” kata Alwiati dalam keterangan tertulis, pada Minggu 28 Juni 2026.

Dia menyebut, partikel debu muncul saat berlangsung uji coba peralatan di kawasan Kilang Pertamina Balikpapan. Pada proses tersebut terjadi gangguan teknis sehingga material keluar dan terbawa ke lingkungan sekitar.

Alwiati pun menjelaskan karakteristik debu tersebut menyerupai pasir, tetapi memiliki ukuran partikel yang lebih halus. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium yang diterima DKK, tidak ditemukan indikasi kandungan zat berbahaya.

Meski demikian, DKK tidak menghentikan langkah pemantauan. Pemeriksaan kesehatan terhadap warga di wilayah terdampak tetap dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya keluhan yang berkaitan dengan paparan debu.

“Kami tetap melakukan pemeriksaan kesehatan kepada warga terdampak sebagai langkah antisipasi dan untuk memastikan kondisi masyarakat setelah kejadian tersebut,” ujarnya.

Hingga pemeriksaan dilakukan, DKK menyatakan belum menerima laporan adanya peningkatan kasus gangguan kesehatan yang dikaitkan dengan peristiwa tersebut.

Pemantauan melalui puskesmas di wilayah terdampak juga belum menunjukkan lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

HENTIKAN UJI COBA

Di sisi lain, Pertamina disebut telah menghentikan proses uji coba setelah gangguan terdeteksi. Perusahaan juga melakukan evaluasi terhadap peralatan yang mengalami masalah.

Diinformasikannya, perusahaan berencana menambah perangkat pengendali emisi berupa scrubber untuk mengurangi potensi keluarnya partikel saat proses uji coba berikutnya.

DKK tetap mengimbau warga menjaga kebersihan diri apabila masih menemukan sisa debu di lingkungan. Masyarakat disarankan mencuci tangan setelah kontak dengan debu, membilas mata menggunakan air mengalir apabila terkena paparan, serta segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan.

“Apabila muncul gangguan kesehatan setelah terpapar debu, segera periksakan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat agar dapat ditangani lebih cepat,” tutup Alwiati.

DPRD MINTA DISKES CEK LAPANGAN

Komisi IV DPRD Kota Balikpapan meminta Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan melanjutkan kajian terhadap dampak kesehatan akibat sebaran debu yang sempat dikeluhkan warga di sejumlah wilayah.

Permintaan itu disampaikan meski hasil pemeriksaan awal laboratorium menyebut material debu tidak mengandung zat yang membahayakan kesehatan.

Anggota Komisi IV DPRD Balikpapan Sofyan Jufri menilai hasil uji laboratorium tidak serta-merta menjadi dasar untuk menyimpulkan tidak ada dampak terhadap masyarakat.

Ia menekankan, pemerintah tetap perlu memastikan kondisi kesehatan warga yang berada di kawasan terdampak melalui pemeriksaan langsung.

“Dinas Kesehatan bersama timnya harus turun ke lapangan, mengecek warga, kemudian mengkaji apakah ada dampak kesehatan yang ditimbulkan,” tegas Sofyan saat diwawancara, Senin, 29 Juni 2026.

Sofyan menilai kajian dampak kesehatan tidak cukup hanya mengacu pada hasil laboratorium dan pemantauan fasilitas kesehatan. Pemeriksaan terhadap warga yang tinggal di lokasi terdampak dinilai penting agar pemerintah memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi masyarakat setelah kejadian.

“Bagaimana bisa menyatakan tidak ada korban kalau belum benar-benar dicek? Kondisi masyarakat yang rumahnya terdampak debu harus dipastikan lebih dulu,” ujarnya.

Sebaran debu sebelumnya dilaporkan warga mengotori rumah, halaman, hingga kendaraan di kawasan Balikpapan Tengah, Balikpapan Barat, dan Balikpapan Utara.

Peristiwa itu diduga berkaitan dengan gangguan saat uji coba peralatan di Kilang Pertamina Balikpapan.

Selain meminta pendalaman dampak kesehatan, Komisi IV DPRD juga akan kembali menjadwalkan rapat dengar pendapat dengan pihak Pertamina.

Agenda yang sebelumnya tertunda itu akan digunakan untuk meminta penjelasan mengenai penyebab munculnya sebaran debu sekaligus langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

“Pemanggilan sebenarnya sudah dijadwalkan, tetapi ditunda. Dalam waktu dekat akan kami jadwalkan kembali,” ungkap Sofyan.

Kemudian, tutur Sofyan, hasil uji laboratorium terhadap sampel debu yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup tetap penting untuk mengetahui karakteristik material.

Namun, penyelesaian persoalan harus diarahkan pada evaluasi penyebab utama munculnya sebaran debu.

“Yang terpenting bukan hanya mengetahui debunya apa, tetapi mengevaluasi kenapa kejadian itu bisa terjadi. Itu yang harus menjadi perhatian bersama,” pungkasnya. (*/sls)