UTAMA  

Seberapa Besar Potensi EBT di Kaltim?

EBT
Pemprov Kaltim berupaya memaksimalkan potensi SDA untuk mendukung keberlanjutan rencana pengembangan energi baru terbarukan (EBT). (foto: dewan daerah perubahan iklim Kaltim)

Samarinda, reviewsatu.com – Kebutuhan energi di Bumi Etam adalah hal mutlak yang harus dipenuhi di provinsi yang kaya sumber daya alam ini. Energi baru terbarukan (EBT) menjadi alternatif, demi menjamin ketersediaan listrik atau elektrifikasi.

Pemprov Kaltim sendiri sudah merancang rencana untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Regulasi untuk itu sudah diatur dalam Pergub Kaltim nomor 8 tahun 2019 tentang Rencana Umum Energi Daerah (RUED). Kepala dinas energi dan sumber daya mineral (ESDM) Kaltim Munnawar membebernya secara gamblang.

Ada lima sasaran yang hendak dicapai melalui RUED tersebut. Pertama, target rasio elektrifikasi hingga 100 persen pada 2025. Dimana seluruh desa di kawasan perbatasan negara sudah teraliri listrik. Targetnya bisa menerima pasokan energi listrik sampai 600 Watt setiap hari.  

Kedua, akses masyarakat mendapatkan BBM dan LPG. Ketiga, terjaminnya ketersediaan listrik untuk kawasan industri di Kaltim, khususnya Kariangau, Bontang dan Maloy. Keempat, memaksimalkan pemanfaatan potensi energi baru terbarukan (EBT). pemprov menargetkan 2025 mendatang bauran EBT sudah mencapai 12,4 persen.

Kelima, tercapainya sejumlah indikator energi. Seperti: elastisitas energi 0,45 di tahun 2025, pemakaian energi 13,05 TOE/miliar rupiah tahun 2025, pemakaian energi final per kapita 2,19 TOE tahun 2025. Dan terakhir pemakaian listrik per kapita 2.138 kWh di tahun 2025 (kWh/kapita/tahun). 

Munawwar menjelaskan pula dalam RUED mencakup sejumlah misi.

“Salah satunya menjamin ketersediaan energi untuk masyarakat dan meningkatkan akses masyarakat untuk mendapatkan energi dengan harga terjangkau,” ujarnya.

Langkah lain untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat adalah dengan memanfaatkan EBT. Potensi yang saat ini bisa dikembangkan adalah POME, atau limbah cair kelapa sawit.

Limbah cair kelapa sawit atau POME saat ini tengah dilirik pemprov Kaltim untuk diubah menjadi energi baru terbarukan. (doto:dok)

Tujuh daerah di Kaltim saat ini tengah mengembangkan potensi pembangkit listri dari POME ini. Yaitu: Kutim, Kukar, Berau, Kuabr, PPU, Paser dan Mahulu. Masing-masing daerah memiliki potensi tandan buah sawit (TBS) dan mampu menghasilkan kapasitas pembangkit hingga puluhan megawatt (MW).

Yang terbesar adalah di Kutim. Potensi POME yang dihasilkan 5.015.811,02 meter kubik (M3) dengan kapasitas pembangkit 44,55 MW. Kemudian Kukar dengan jumlah POME 2.224.551,62 meter kuk dan kapasitas 19,76 MW.

Memang masih banyak tantangan untuk memenuhi kebutuhan listrik tersebut. Namun Munawwar optimistis 2025 mendatang sudah tidak ada daerah di Kaltim yang gelap gulita. (adv/boy)