MAHULU, reviewsatu.com – Kualitas udara di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) kembali menunjukkan kondisi yang berbahaya.
Berdasarkan hasil Surveilans Kualitas Udara Dalam Ruang (SKUDR) oleh Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Mahulu, lonjakan konsentrasi partikulat berbahaya terjadi di 5 puskesmas, baik di luar maupun di dalam fasilitas pelayanan kesehatan.
Lonjakan paling ekstrem ditemukan di Puskesmas Ujoh Bilang. Hasil pengukuran sanitarian menunjukkan konsentrasi partikel halus PM2.5 di dalam ruangan mencapai 996 mikrogram per meter kubik (µg/m³), sementara PM10 indoor menyentuh angka 8.497 µg/m³.
Angka tersebut melampaui batas ambang kategori berbahaya dalam standar SKUDR.
Kondisi serupa tercatat di Puskesmas Laham, Long Hubung, Long Pahangai, dan Tiong Ohang.
Di Puskesmas Laham, konsentrasi PM2.5 luar ruangan mencapai 804 µg/m³ dan PM10 luar ruangan menembus 5.463 µg/m³.
Sementara di Puskesmas Long Pahangai, konsentrasi PM2.5 outdoor tercatat 304 µg/m³ dan PM10 outdoor mencapai 801 µg/m³.
Pencemaran di dalam ruang perawatan juga terdeteksi di fasilitas kesehatan lainnya. Puskesmas Long Hubung mencatat PM2.5 indoor sebesar 671 µg/m³ dan PM10 indoor 1.756 µg/m³, sedangkan Puskesmas Tiong Ohang mencatat PM2.5 indoor sebesar 483 µg/m³ dan PM10 indoor mencapai 1.221 µg/m³.
Berdasarkan laporan SKUDR, sumber pencemaran utama diduga kuat berasal dari asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di luar ruangan.
Namun, tim sanitasi menemukan anomali di Puskesmas Long Hubung dan Ujoh Bilang, di mana kepekatan partikel PM2.5 di dalam ruangan justru lebih tinggi akibat ventilasi yang buruk, minimnya sirkulasi udara, serta padatnya aktivitas manusia.
Kepala Diskes P2KB Mahulu, Petronela Tugan, menegaskan paparan partikulat ini mengancam kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita gangguan pernapasan.
Menurutnya, kelompok ini berisiko tinggi mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, bronkitis, hingga gangguan kardiovaskular.
“Kami mengimbau masyarakat agar wajib menggunakan masker saat melakukan aktivitas di luar ruangan, mengurangi aktivitas yang tidak perlu di luar ruangan, dan tetap menjaga kesehatan,” ujar Petronela, Minggu, 25 Oktober 2026.
Dinkes P2KB Mahulu menyarankan warga yang terpaksa beraktivitas di luar rumah memakai masker N95 atau masker kain berlapis.
Warga juga diminta menutup pintu, jendela, dan ventilasi tempat tinggal untuk mencegah asap masuk, serta memanfaatkan pembersih udara (air purifier) bagi yang memiliki.
Untuk memitigasi krisis ini, Diskes P2KB merekomendasikan koordinasi lintas sektor bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Rekomendasi tersebut mencakup kemungkinan operasi modifikasi cuaca, pembagian masker massal, hingga penerapan kebijakan belajar dari rumah (BDR) bagi siswa dan bekerja dari rumah (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN).
Pengukuran berkala melalui SKUDR dipastikan tetap berlangsung hingga satu pekan ke depan.
Pemerintah daerah meminta masyarakat untuk terus memantau pembaruan informasi resmi mengenai penanganan kabut asap dan perkembangan kualitas udara.
“Perkembangan suhu udara ini akan terus kita pantau. Sambil melakukan koordinasi dengan OPD yang lain,” terangnya.










