SAMARINDA, reviewsatu.com – Neraca perdagangan Kalimantan Timur (Kaltim) mencatat surplus sebesar USD 1,28 miliar pada Agustus 2026.
Capaian tersebut ditopang sektor non migas yang membukukan surplus USD 1,71 miliar, meskipun sektor migas mengalami defisit sebesar USD 426,13 juta.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Mas’ud Rifai mengatakan, sektor non migas masih menjadi penopang utama perdagangan luar negeri daerah.
Di tengah penurunan nilai ekspor secara bulanan, industri pengolahan menunjukkan peningkatan signifikan dan menjadi salah satu perkembangan penting dalam struktur ekspor Kaltim.
“Surplus perdagangan ini didukung sektor nonmigas yang kelebihan nilai dagang 1,71 miliar dolar AS, sementara sektor migas defisit 426,13 juta dolar, sehingga total surplus menjadi 1,28 miliar dolar,” ujar Mas’ud Rifai melalui rilis resmi, pada Minggu (18/10/2026).
Berdasarkan data BPS Kaltim, nilai ekspor melalui pelabuhan di provinsi ini pada Agustus 2026 mencapai USD 1,88 miliar. Angka tersebut turun 3,60 persen dibandingkan Juli 2026, tetapi masih tumbuh 2,85 persen dibandingkan Agustus 2025.
Penurunan bulanan terutama terlihat pada sektor pertambangan dan migas.
Sebaliknya, industri pengolahan mencatat pertumbuhan kuat yang membantu menjaga kinerja ekspor daerah di tengah perubahan permintaan pasar.
Dari total ekspor melalui pelabuhan di Kaltim pada Agustus 2026, sektor pertambangan dan lainnya menyumbang USD 1,24 miliar.
Nilai tersebut turun 16,61 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan berkurang 3,04 persen secara tahunan.
Sementara industri pengolahan mencatat nilai ekspor USD 557,17 juta. Sektor ini tumbuh 51,87 persen dibandingkan Juli 2026 dan meningkat 47,86 persen dibandingkan Agustus tahun lalu.
Kinerja tersebut memperlihatkan peningkatan kontribusi industri pengolahan dalam aktivitas perdagangan luar negeri Kaltim.
Meski demikian, sektor pertambangan masih menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 65,77 persen dari keseluruhan ekspor melalui pelabuhan.
Sementara itu, ekspor migas mencapai USD 86,63 juta atau turun 13 persen secara bulanan.
Jika dibandingkan dengan Agustus 2025, nilai ekspor migas mengalami penurunan lebih dalam sebesar 50,42 persen.
Sektor pertanian juga mencatat nilai ekspor yang relatif kecil, yakni USD 150 ribu. Angka tersebut turun 87,60 persen dibandingkan Juli 2026 dan menyusut 89,66 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara keseluruhan, ekspor nonmigas menyumbang 95,40 persen dari total ekspor melalui pelabuhan di Kaltim.
Industri pengolahan memberikan kontribusi 29,62 persen, sedangkan migas sebesar 4,61 persen dan pertanian 0,01 persen.
Dari sisi negara tujuan, Tiongkok menjadi pasar utama ekspor nonmigas Kaltim pada Agustus 2026 dengan nilai USD 464,37 juta atau 25,88 persen dari total ekspor nonmigas.
India berada di posisi berikutnya dengan nilai USD 267,42 juta atau 14,90 persen. Filipina menyusul dengan USD 206 juta atau 11,48 persen, kemudian Jepang sebesar USD 164,08 juta atau 9,14 persen.
Malaysia juga menjadi salah satu tujuan penting dengan nilai ekspor USD 153,08 juta atau 8,53 persen. Negara tujuan lainnya meliputi Vietnam, Bangladesh, Pakistan, Korea Selatan, dan Taiwan.
Secara kawasan, ekspor nonmigas Kaltim ke negara-negara ASEAN mencapai USD 507,10 juta atau 28,26 persen. Sementara itu, ekspor ke negara dan kawasan lainnya mencapai USD 1,29 miliar atau 71,74 persen.
Komposisi tersebut menunjukkan perdagangan luar negeri Kaltim menjangkau pasar regional maupun sejumlah negara besar di Asia.
Tiongkok, India, dan Filipina menjadi tiga tujuan utama yang menyerap nilai ekspor nonmigas terbesar selama Agustus 2026.
Selain ekspor melalui pelabuhan, BPS juga mencatat perkembangan ekspor asli Kaltim, yakni barang yang diproduksi di provinsi ini.
Nilainya mencapai USD 1,90 miliar pada Agustus 2026, turun 2,16 persen dibandingkan Juli, tetapi tumbuh 3,52 persen secara tahunan.
“Sebagian besar barang produksi Kaltim dikirim melalui pelabuhan di wilayah sendiri dengan nilai USD 1,88 miliar. Sisanya dikirim melalui Jawa Timur senilai USD 14,4 juta, DKI Jakarta USD 8,75 juta, Bali USD 130 ribu, serta provinsi lainnya USD 50 ribu,”jelasnya.
Menurut sektor, ekspor asli Kaltim dari pertambangan dan lainnya mencapai USD 1,23 miliar, turun 16,46 persen secara bulanan.
Industri pengolahan mencatat USD 579,09 juta atau meningkat 49,68 persen dibandingkan Juli 2026.
“Sektor migas mencatat nilai USD 88,63 juta, sedangkan pertanian mencapai USD 1,56 juta. Ekspor nonmigas menyumbang 95,44 persen dari total ekspor asli Kaltim, dengan kontribusi pertambangan sebesar 64,89 persen dan industri pengolahan 30,47 persen,” imbuhnya.










