Oleh: Silvi Aris Arlinda, S.I.Kom., M.I.Kom
(Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Slamet Riyadi Surakarta)
reviewsatu.com – HARI ini banyak generasi muda mampu menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling media sosial, tetapi kesulitan membaca beberapa halaman buku secara utuh.
Informasi hadir begitu cepat melalui video pendek, notifikasi, konten viral, hingga potongan-potongan informasi yang terus berganti dalam hitungan detik. Ironisnya, di tengah banjir informasi tersebut, kemampuan memahami informasi secara mendalam justru semakin menurun.
Perkembangan teknologi digital memang telah mengubah cara masyarakat memperoleh dan mengonsumsi informasi. Media sosial menghadirkan pola komunikasi yang serba cepat, praktis, dan visual. Segala sesuatu dirancang agar pengguna terus berpindah dari satu konten ke konten lain tanpa jeda.
Akibatnya, masyarakat semakin terbiasa menerima informasi secara singkat tanpa proses refleksi yang mendalam.
Fenomena ini melahirkan apa yang dapat disebut sebagai “generasi scroll”, yaitu generasi yang terbiasa mengonsumsi informasi secara cepat, tetapi sering kali kehilangan ruang untuk memahami informasi secara utuh. Aktivitas scrolling perlahan membentuk kebiasaan baru dalam cara berpikir masyarakat digital.
Fokus menjadi lebih pendek, perhatian mudah teralihkan, dan kemampuan membaca panjang semakin menurun.
Dalam kehidupan sehari-hari, kondisi tersebut semakin terlihat jelas. Banyak orang membaca judul tanpa memahami isi berita.
Tidak sedikit pula yang langsung membagikan informasi tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Bahkan opini publik sering terbentuk hanya dari cuplikan video singkat atau potongan informasi yang belum tentu lengkap konteksnya.
Media sosial pada akhirnya tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga membentuk budaya konsumsi informasi masyarakat. Konten yang singkat, sensasional, dan emosional cenderung lebih mudah menarik perhatian dibandingkan tulisan panjang yang membutuhkan konsentrasi dan pemikiran mendalam.
Algoritma digital mendorong pengguna untuk terus bertahan di layar, sementara kemampuan refleksi perlahan semakin berkurang.
Di sinilah krisis literasi menjadi persoalan penting. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca teks, tetapi kemampuan memahami, menganalisis, dan mengevaluasi informasi secara kritis.
Ketika budaya membaca melemah, masyarakat menjadi lebih mudah terpengaruh hoaks, lebih cepat bereaksi emosional, dan kurang memiliki kemampuan berpikir kritis terhadap berbagai persoalan sosial.
Krisis membaca juga berdampak pada kualitas komunikasi publik. Ruang diskusi di media sosial semakin dipenuhi respons singkat, komentar emosional, dan perdebatan yang sering kali minim pemahaman. Padahal membaca memiliki peran penting dalam membangun cara berpikir yang lebih tenang, reflektif, dan rasional.
Membaca buku sesungguhnya melatih manusia untuk memahami konteks, melihat persoalan secara lebih utuh, serta membangun kedalaman berpikir.
Berbeda dengan budaya scrolling yang serba cepat, membaca membutuhkan kesabaran, fokus, dan kemampuan merenung. Karena itu, menurunnya budaya membaca bukan hanya persoalan pendidikan, tetapi juga persoalan kualitas masyarakat di era digital.
Meski demikian, perkembangan teknologi tidak sepenuhnya harus dipandang sebagai ancaman bagi literasi. Media digital juga dapat dimanfaatkan untuk membangun budaya membaca dengan pendekatan yang lebih relevan bagi generasi muda. Konten edukatif, komunitas literasi digital, diskusi buku di media sosial, hingga platform membaca digital dapat menjadi ruang baru untuk menumbuhkan minat baca masyarakat.
Namun yang paling penting adalah membangun kesadaran bahwa membaca bukan aktivitas yang kuno atau membosankan. Membaca justru menjadi kebutuhan penting agar masyarakat tidak terjebak dalam arus informasi dangkal yang terus bergerak cepat. Di tengah dominasi layar dan budaya instan, membaca menjadi ruang refleksi yang membantu manusia tetap berpikir jernih dan kritis.
Pada akhirnya, tantangan terbesar generasi digital saat ini bukan lagi kurangnya akses informasi, melainkan bagaimana menjaga kualitas pemahaman di tengah arus informasi yang begitu cepat.
Sebab di era ketika semua orang dapat memperoleh informasi dengan mudah, kemampuan membaca secara mendalam justru menjadi keterampilan yang semakin berharga. (*)










