Pasar tradisional di tengah hutan mangrove sepertinya hanya ada di Kabupaten Tana Paser. Tepatnya di Desa Klempeng Sari, Kecamatan Kuaro. Namanya Pasar Pakot Lati Tuo yang berarti Pasar Hutan Tua. Transaksinya menggunakan koin berbahan kayu.
reviewsatu.com – LIBUR Lebaran 2026 ini, Desa Klempeng Sari, Kecamatan Kuaro, Kabupaten Paser menawarkan hal baru; Pengalaman belanja di tengah keindahan alam hutan mangrove.
Inovasi wisata berbasis kearifan lokal ini hadir dengan konsep “pasar tumpah”. Sebuah pasar tradisional unik yang digelar di kawasan wisata mangrove Lati Tuo.
Berbeda dari pasar pada umumnya, Pasar Pakot Lati Tuo menawarkan ragam kuliner khas sambil menyusuri kawasan mangrove yang asri, menciptakan suasana wisata yang tidak hanya menarik tetapi juga berkesan.
Nuansa tradisional terasa kental dengan para pedagang yang mengenakan pakaian adat khas Paser. Berbagai hidangan lokal disajikan langsung oleh warga, menghadirkan cita rasa autentik yang sulit ditemukan di tempat lain.
Bahkan, beberapa jenis kuliner yang dijajakan merupakan sajian eksklusif yang hanya tersedia di pasar ini.
Keunikan lain terletak pada sistem transaksinya. Pengunjung harus menukarkan uang dengan koin berbahan kayu sebelum berbelanja.
Seluruh transaksi dilakukan menggunakan koin tersebut, memberikan sensasi berbeda sekaligus memperkuat identitas lokal.
Kepala Desa Klempang Sari, Sugiarto menjelaskan, pasar ini merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah desa, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), serta berbagai elemen masyarakat seperti PKK, UMKM, dan kelompok tani hutan.
“Pasar ini kami namakan Pakot Lati Tuo yang berarti pasar hutan tua. Tujuannya untuk menghidupkan desa wisata sekaligus memberdayakan masyarakat,” ujar Sugiarto, Minggu 29 Maret 2026.
Ia menambahkan, kuliner yang disajikan merupakan perpaduan makanan khas lokal dengan sentuhan dari daerah lain, namun tetap mempertahankan keaslian rasa tradisional.
Sementara itu, Kabid Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Paser, Khairudin menilai, Pasar Pakot Lati Tuo sebagai inovasi unggulan yang mampu menarik minat wisatawan sekaligus memperkenalkan kekayaan kuliner daerah.
“Ini menjadi daya tarik baru. Bahkan ada makanan seperti ponta dari ketan muda yang jarang ditemukan di tempat lain,” ungkapnya.
Pasar ini direncanakan akan digelar rutin setiap akhir pekan dan hari besar nasional. Selain itu, kawasan wisata juga dilengkapi fasilitas penunjang seperti jembatan kayu yang memudahkan akses pengunjung menjelajahi hutan mangrove.
Tak hanya menawarkan kuliner, kawasan ini juga menyuguhkan panorama alam yang memikat serta menjadi habitat satwa seperti monyet yang kerap terlihat di sekitar lokasi.
Dengan menggabungkan unsur wisata alam, budaya, dan ekonomi kreatif, Pasar Pakot Lati Tuo diharapkan menjadi destinasi unggulan baru di Paser sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan. (*)










