SAMARINDA, reviewsatu.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mulai mematangkan rencana besar pengembangan Kecamatan Palaran sebagai pusat industri dan kawasan penyangga baru.
Masterplan ini disiapkan untuk mendukung pemindahan sejumlah aktivitas logistik, pergudangan, hingga pembangunan pasar induk skala besar di wilayah tersebut.
Hal ini disampaikan Asisten II Setda Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, pada Senin, 11 Mei 2026. Menurutnya Pemkot Samarinda telah memulai langkah untuk Kecamatan Palaran.
“Kita rapatkan semua perangkat daerah terkait sebagai awal untuk mencari titik lokasi yang mana. Bisa saja melibatkan pihak ketiga, bisa juga nanti full pemerintah daerah,” ujar Marnabas.
Ia menjelaskan, Pemkot Samarinda meminta sedikitnya 3 hingga 4 alternatif lokasi di Palaran yang nantinya akan disampaikan kepada Wali Kota Samarinda sebagai bahan pengambilan keputusan.
Pengembangan Palaran disebut bukan sekadar proyek pemindahan fasilitas, tetapi bagian dari visi jangka panjang menjadikan wilayah itu sebagai kota industri sekaligus kota satelit baru di Samarinda.
Pemerintah menilai kawasan tersebut memiliki potensi besar untuk menopang pertumbuhan ekonomi kota yang selama ini masih terpusat di kawasan inti.
“Ke depan Palaran kita mau kembangkan jadi kota industri, kota satelit. Kita berharap ini benar-benar bisa terwujud,” lanjutnya.
Marnabas mengungkapkan, pemerintah pusat disebut memiliki dukungan anggaran pembangunan infrastruktur yang sangat besar. Hal itu dinilai menjadi peluang bagi Samarinda untuk menarik program nasional agar masuk ke wilayah Palaran.
“Kemarin dari kementerian juga disampaikan di pusat ada sekitar Rp1.300 triliun anggaran mereka. Kita coba dekati, siapa tahu ada yang bisa kita tarik ke Samarinda,” ucapnya.
Dalam konsep pengembangan tersebut, fasilitas pergudangan hingga terminal logistik direncanakan dipusatkan di Palaran. Bahkan, pemerintah juga menargetkan pembangunan pasar besar atau pasar induk modern di kawasan tersebut.
“Semua kita pusatkan di Palaran nanti. Jadi Palaran memang menjadi kota alternatif,” kata Marnabas.
Ia menambahkan, konsep pasar induk yang direncanakan terinspirasi dari fasilitas perdagangan modern yang pernah dipelajari pemerintah saat kunjungan ke Thailand. Luas kawasan pasar itu diperkirakan mencapai beberapa hektare.
“Pasar induk nanti kita buat di sana. Kemarin kita lihat di Thailand, pasar yang sangat besar. Kita punya mimpi seperti itu juga,” tuturnya.
Selain itu, pelabuhan multipurpose juga masuk dalam agenda pengembangan utama. Fasilitas tersebut nantinya akan mendukung aktivitas bongkar muat dan distribusi logistik yang lebih terintegrasi di Palaran.
Mengenai proyek groundbreaking pelabuhan multipurpose yang sempat dilakukan dua tahun lalu, Marnabas memastikan proyek itu masih berjalan. Namun, terdapat sejumlah kendala teknis di lokasi awal sehingga pemerintah menyiapkan opsi titik lain.
“Yang kemarin ada sedikit masalah di lokasi. Makanya saya bilang, kalau ada masalah kita harus pindah ke titik lain. Tidak boleh perencanaan hanya satu titik,” jelasnya.
Ia menegaskan, pengembangan kawasan baru di Palaran akan dilakukan bertahap. Sejumlah fasilitas strategis, termasuk aktivitas pelabuhan dan distribusi, secara perlahan diarahkan ke wilayah tersebut agar pusat kota Samarinda dapat lebih difokuskan sebagai kawasan perdagangan dan layanan publik.
“Pelan-pelan kita pindahkan ke sana. Sehingga Samarinda betul-betul menjadi pusat kota biasa dan perdagangan,” pungkasnya. (*/ari)










