Berkunjung ke Rumah Ratnasari, Ibu Mendiang Mandala yang Meninggal karena Ukuran Sepatu Kekecilan

Kawasan rumah kontrakan Ratnasari, ibu mendiang Mandala Rizky Syahputra yang meninggal karena infeksi kaki lantaran ukuran sepatu kekecilan.

Ratnasari masih berduka. Belum juga air mata kering di pipi karena ditinggal anak keduanya; Mandala Rizky Syahputra (16), ibu tunggal ini masih harus menerima stigma dari netizen yang tak sedikit bernada negatif.

Oleh: Arie Rachiem

GANG sempit di Jalan KH Ahmad Dahlan, Gang 2, Blok C, Samarinda, tampak lengang siang itu. Deretan rumah kayu berdiri rapat, nyaris tanpa jarak. Jalan kecil itu bahkan membuat 2 sepeda motor sulit berpapasan.

Di salah satu rumah sederhana bercat kusam, keluarga mendiang Mandala Rizky Syahputra, kini menjalani hari-hari yang terasa jauh lebih sunyi setelah kehilangan anak laki-laki yang selama ini menjadi kebanggaan mereka.

Ketika media ini berkunjung, terlihat rumah yang hanya sepetak itu. Lantainya sederhana, dinding kayunya mulai menua, dan ruang di dalamnya terasa penuh oleh barang-barang seperlunya.

Namun di tempat itulah Ratnasari membesarkan anak-anaknya, termasuk Mandala, dengan segala keterbatasan yang selama ini tak banyak diketahui orang.

Mandala (alm) adalah anak kedua. Ia punya seorang kakak perempuan berusia 18 tahun yang kini sudah bekerja sebagai penjaga toko di pusat perbelanjan di Samarinda. Sementara satu adik laki-lakinya masih usia SD. Yang paling kecil belum sekolah.

Di tengah suasana duka, Ratnasari justru harus menghadapi komentar warganet yang menilai penampilannya terlihat rapi. Sehari-harinya Ratnasari mengenakan hijab dan penutup muka.

Sebagai ibu tunggal, ia menghidupi keempat anaknya dari hasil jualan lumpia yang ia jajakan dengan berkeliling.

Lantaran peristiwa meninggalnya Mandala ini viral, sebagian netizen mempertanyakan bagaimana seorang ibu yang dianggap mampu berpakaian baik justru disebut tidak mampu membelikan sepatu untuk anaknya.

Ratnasari menghela napas panjang saat mendengar tudingan itu. Matanya berkaca-kaca, suaranya beberapa kali tertahan.

“Baju yang kami pakai ini semuanya pemberian orang. Tidak ada yang kami beli sendiri. Kalau ada orang kasih, kami ambil semua. Karena kami juga ingin terlihat seperti orang lain, pakai baju yang berganti-ganti,” ucapnya.

Baginya, pakaian hanyalah lapisan luar yang sering menipu pandangan. Orang melihat keluarga itu dari kejauhan, tetapi tak pernah benar-benar masuk dan mengetahui kehidupan yang dijalani di dalam rumah kecil tersebut.

“Untuk beli baju saja kami sebenarnya tidak bisa. Jadi jangan nilai hanya dari yang terlihat. Orang tidak tahu kehidupan kami seperti apa,” katanya.

Di salah satu sudut rumah kontrakan itu, Ratnasari masih menyimpan pakaian milik anak-anaknya, termasuk baju pemberian teman yang pernah diterima saudari Mandala. Barang-barang sederhana itu kini terasa jauh lebih berarti setelah kepergian Mandala.

Kesedihan Ratnasari semakin dalam setiap kali membicarakan Mandala. Dia mengaku penyesalan sebagai seorang ibu akan terus dibawanya sepanjang hidup.

“Kalau dibilang menyesal, tentu saya sangat menyesal. Tidak ada ibu yang tidak menyesal setelah kehilangan anak seperti ini,” ujarnya.

Menurut Ratnasari, Mandala adalah anak yang sangat memahami keadaan keluarga. Sejak kecil, dia tumbuh dalam rumah yang penuh keterbatasan. Namun alih-alih menuntut, Mandala justru terbiasa menahan keinginan dan lebih memilih memikirkan kebutuhan rumah.

“Ia tidak pernah mau merepotkan orangtua. Saya pernah bilang, nanti kalau sudah PKL dan punya penghasilan, mungkin bisa beli sendiri apa yang dia butuhkan. Dan dia memahami itu,” tutur Ratnasari.

Kebiasaan Mandala menyimpan rasa sakit, rupanya bukan hal baru. Ratnasari mengaku sejak kecil mengajarkan anak-anaknya untuk tidak menunjukkan kesulitan kepada orang lain.

“Saya selalu bilang, walaupun keadaan rumah susah, tersenyumlah di luar. Jangan ceritakan semua masalah ke orang lain,” katanya.

Ajaran itu lahir dari pengalaman hidup yang keras. Ratnasari mengaku pernah beberapa kali mendapat perlakuan kurang menyenangkan ketika mencoba membuka kesulitan kepada orang lain.

“Kadang ada yang bisa menerima, ada juga yang justru membicarakan kita. Itu yang bikin saya ajarkan anak-anak lebih baik diam,” ucapnya.

Ratnasari, ibu Mandala ketika ditemui media ini

Bahkan ketika kondisi rumah sedang benar-benar sulit, termasuk saat tidak ada beras atau tidak makan sehari, anak-anaknya tetap diminta menjaga senyum di depan orang lain.

“Apapun yang terjadi di rumah, jangan dibawa keluar. Jadi mereka terbiasa terlihat baik-baik saja,” tuturnya.

Sikap itulah yang kemudian membuat Mandala tak banyak mengeluh saat mulai merasakan sakit. Ratnasari mengatakan, keluhan pada kaki baru muncul setelah Mandala selesai menjalani magang.

“Dia bilang kakinya sakit saat berpijak. Tapi dia cuma bilang pegal biasa, jadi saya pikir tidak apa-apa,” kata Ratnasari.

Tetangganya, Novi, masih mengingat jelas perubahan kondisi Mandala beberapa hari sebelum meninggal. Dia mengaku sempat merasa ada yang berbeda.

“Saya lihat dia sudah susah jalan. Sehari sebelum meninggal, dia keluar mau ambil jemuran, kelihatan pucat sekali dan kurus. Saya kasihan, jadi saya bantu ambilkan jemurannya,” ujar Novi.

Menurut Novi, Mandala bukan anak yang suka banyak bicara. Kini, tak ada lagi langkah kaki Mandala di rumah kecil itu. Yang tersisa hanya pakaian, kenangan, dan penyesalan yang terus mengendap di dada seorang ibu.

Di balik tudingan yang ramai di media sosial, ada keluarga sederhana yang sedang berusaha bertahan menghadapi kehilangan terbesar dalam hidup mereka.

Dan di rumah kayu sempit di Gang 2 Blok C itu, Ratnasari hanya bisa mengenang anaknya sambil menatap ruang yang kini terasa jauh lebih kosong.

SEBELUMNYA

Seorang siswa kelas XI di SMK Negeri 4 Samarinda meninggal dunia setelah mengalami infeksi pada kaki yang diduga dipicu penggunaan sepatu sekolah yang tidak sesuai ukuran. Korban berasal dari keluarga tidak mampu dan berstatus yatim.

Peristiwa bermula saat korban tetap mengikuti kegiatan belajar menggunakan sepatu yang sudah kekecilan. Kondisi tersebut diduga menyebabkan lecet pada bagian kaki. Keterbatasan ekonomi membuat sepatu lama terus digunakan dalam aktivitas sehari-hari di sekolah.

Luka pada kaki tidak segera mendapat penanganan medis. Dalam beberapa hari, kondisi luka memburuk dan berkembang menjadi infeksi. Korban tetap beraktivitas meski mengalami rasa nyeri. Kondisi fisik korban kemudian dilaporkan terus menurun.

Pada Kamis, 23 April 2026, kondisi korban semakin melemah dan tidak lagi mampu beraktivitas normal. Sehari kemudian, Jumat, 24 April 2026, korban meninggal dunia di rumah. Dugaan sementara, infeksi yang tidak tertangani menjadi penyebab utama.

Menanggapi kejadian itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Timur, Armin, menyampaikan keprihatinan atas kejadian tersebut. 

“Meninggalnya karena infeksi. Itu mestinya kalau ada masalah seperti sepatu kekecilan, segera disampaikan,” ungkap Armin, dihubungi Minggu, 3 Mei 2026.

Ia menyebut sejumlah skema bantuan pendidikan tersedia untuk mendukung kebutuhan siswa, termasuk perlengkapan sekolah. 

Program tersebut antara lain Program Indonesia Pintar (PIP), Bantuan Operasional Sekolah Nasional (BOSNAS), serta Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDA). “Kalau hanya satu dua anak yang kesulitan, mestinya bisa dibantu,” sebutnya.

Armin meminta komunikasi antara siswa, orang tua, dan sekolah berjalan dengan baik agar kebutuhan dasar siswa dapat terpantau. Informasi terkait kesulitan ekonomi atau keterbatasan perlengkapan diharapkan dapat disampaikan sejak awal.

“Saya siap membantu kalau ada yang datang langsung. Bilang saja anaknya tidak punya sepatu atau tidak bisa sekolah. Sayang sekali kalau dibiarkan,” ucapnya.

Ia menegaskan setiap siswa berhak memperoleh akses pendidikan tanpa hambatan perlengkapan dasar. Dukungan dari sekolah dan dinas pendidikan diperlukan agar siswa tetap dapat mengikuti kegiatan belajar.

“Sangat kita sesalkan kalau ada anak tidak sekolah hanya gara-gara sepatu atau baju. Mau kelas berapa pun, tetap kita bantu,” tegas Armin.

Selain itu, Armin meminta pihak sekolah meningkatkan pengawasan terhadap kondisi siswa. Peran guru bimbingan konseling dan wali kelas disebut penting dalam memantau kondisi peserta didik secara langsung.

“Sekolah harus betul-betul mencari tahu kondisi anaknya. Guru BK dan wali kelas harus tahu kondisi setiap anak,” tutur Armin.

Ia menyebut sekolah memiliki peran sebagai ruang yang mendukung siswa, termasuk dalam menyampaikan persoalan yang dihadapi selama mengikuti kegiatan belajar.

“Sekolah harus jadi second home. Anak harus nyaman dan bisa curhat kepada gurunya,” terang dia.

Armin juga membuka ruang komunikasi bagi siswa atau keluarga yang mengalami kesulitan untuk menyampaikan langsung ke dinas pendidikan. “Kalau tidak bisa curhat ke sekolah, curhat ke dinas. Saya bantu, bahkan secara pribadi saya bantu,” sebut Armin.

Peristiwa ini menjadi perhatian publik di Samarinda. Data terkait kondisi ekonomi siswa serta akses terhadap bantuan pendidikan kembali menjadi sorotan. Pemerintah daerah melalui dinas pendidikan menyebut akan memperkuat koordinasi dengan sekolah guna memastikan kebutuhan dasar siswa dapat terpenuhi.

Pihak sekolah diharapkan melakukan pendataan terhadap kondisi siswa secara berkala, termasuk latar belakang ekonomi dan kebutuhan perlengkapan belajar. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.

Kasus ini menempatkan perhatian pada pentingnya deteksi dini terhadap kondisi siswa di lingkungan sekolah. Koordinasi antara sekolah, orang tua, dan dinas pendidikan menjadi bagian dari upaya penanganan kebutuhan dasar siswa di Kaltim.

“Kalau ada anak-anak kita yang kesulitan, jangan diam. Sampaikan ke sekolah atau ke dinas, pasti kita bantu,” tutup Armin. (ari/may)