Perjalanan Menjalani Pertukaran Pelajar di Jepang (2)

Oleh: Zeydan Viranda Saylen*

Reviewsatu.com– Saya mendapat banyak pengalaman bermanfaat dan menyenangkan selama 8 bulan berada di Jepang. Saya tinggal di asrama publik bertempatan di prefektur Osaka, Kota Hirakata. Di asrama, ada total 13 anak pertukaran pelajar yang terdiri dari: 5 orang Indonesia, 4 orang Malaysia, 1 orang Turki, 2 orang India, 1 orang Pakistan. Saya banyak bertemu dengan orang yang berbeda-beda negara di asrama publik ini, hingga menambah wawasan saya akan negara luar, serta wawasan berbahasa Inggris saat mengobrol dengan mereka.

Berada di asrama juga mengajarkan kepada saya untuk menjadi pribadi yang mandiri dikarenakan tinggal di kamar sendiri mengharuskan saya untuk mengurus pakaian sendiri, mencuci, menjemur, mengurus kasur, menjaga kebersihan meja belajar, cuci piring, menyapu, mengepel dan lain-lain.

Pengalaman bersekolah di Negeri Sakura adalah pengalaman yang bikin kangen. Saya bersekolah di prefektur Osaka, namun di bagian yang berdekatan dengan prefektur Kyoto, yaitu di Kota Takatsuki. Host School  saya bernama Takatsuki Junior and Senior High School. Jarak dari asrama menuju sekolah sekitar 15 menit jalan kaki ditambah 20 menit lebih dengan Bus. Warga sekolah saya orang-orangnya sangat ramah, baik, dan asik. Di sekolah saya tidak menerima pelajaran-pelajaran tertentu.

Saya tidak menerima pelajaran seperti Matematika, Biologi, Kimia, Literatur bahasa Cina, dan lain-lainnya. Pelajaran-pelajaran tersebut sangat membuat saya pusing sebab digabung dengan bahasa Jepang yang membuat  saya tidak mengerti sama sekali mengenai materi yang diberikan. Sehingga di sekolah yang saya pelajari adalah seperti bahasa Inggris belajar, sastra Jepang modern, Sejarah, PJOK, Kaligrafi, Fisika, dan kelas bahasa negara ini.

Saya diberi paling tidak ada tiga kali pertemuan belajar bahasa asli yang dari kelas bahasa Jepang ini, sebagai persiapan di bulan Desember karena akan diadakan Japanese Language Proviciency Test atau yang biasa dikenal dengan JLPT. Hari yang paling menyenangkan di sekolah adalah hari Rabu dan Jumat karena di hari Rabu ada pelajaran yang saya sukai yaitu pelajaran kaligrafi dan ditambah pelajaran PJOK. Saya sangat suka pelajaran tersebut karena seru dan bisa banyak ngobrol lucu dengan teman-teman terutama di pelajaran PJOK.

Suasana saat pengenalan diri di sekolah di Jepang.

Selain itu pengalaman yang sangat-sangat menyenangkan, yaitu berpetualang sama orang tercinta. Pada saat musim panas dan musim dingin dimulai saya bersamanya pergi ke tempat-tempat keren dan menakjubkan yang berada dekat di daerah yang kami tinggali. Kami mendatangi tempat baik yang modern maupun tempat dengan arsitektur tradisionalnya yang kental. Kami berjalan-jalan seperti ke kebun binatang, illumination, taman,  sayail- sayail, pegunungan. Kami juga menyantap  sayaliner- sayaliner lezat, seperti crepes, takoyaki, makanan Indonesia, makanan India, makanan Turki, dango manisan jepang, taiyaki, dan banyak lagi.

Proses menyesuaikan diri di Negeri Matahari Terbit ini terutama dalam segi bahasa membutuhkan sekitar 6 bulan. Sehari-harinya di Jepang saya menggunakan bahasa Inggris untuk di asrama sedangkan saya banyak menggunakan bahasa asli negara ini saat berada di sekolah. Untungnya, saya sudah sekitar 2 tahun mempelajari bahasa Jepang sebelum mengikuti program pertukaran pelajar. Sehingga saya sudah memiliki basic dalam berkomunikasi. Sedangkan bahasa Inggris, saya sudah mempelajari bahasa Inggris sejak SD sampai sekarang, hanya saja untuk praktek penggunaannya sangat jarang. Sehingga wawasan saya dalam berbahasa Inggris  kurang dalam segi penyampaiannya.

Namun berkat pergi ke Jepang dan dihadapkan dengan beberapa orang yang menggunakan bahasa Inggris mengharuskan saya untuk juga ikut serta dalam berbahasa yang mereka gunakan. Sehingga itu menjadi meningkatkan wawasan dan pengalaman saya dalam bahasa Inggris dan Jepang

Lalu penyesuaian diri saya dalam segi budaya Jepang. Saya sudah lumayan terbiasa dan saya sangat suka dengan budaya Jepang yang berupa seperti tepat waktu, hormat, apresiasi tinggi, mengantri, bermasker saat berpergian keluar, jaga kebersihan dimanapun itu berada, dan banyak lagi. Budaya-budaya ini menurut saya adalah budaya yang begitu indah sekali dan sangat positif. Saya telah mencoba mengaplikasikan budaya Jepang sendiri di Indonesia sebelum saya pergi ke Jepang Sehingga saya sudah punya gambaran mengenai budaya Jepang memudahkan saya untuk bisa beradaptasi dengan budaya Jepang.

Sistem pendidikan Jepang berbeda dengan sistem pendidikan Indonesia. Salah satunya, Di Sekolah Jepang mengimplementasikan 50 menit belajar dan 10 menit istirahat untuk setiap mata pelajaran di sekolah. Saat Pelajaran dimulai, murid dan guru diharuskan untuk melakukan salam pembuka. Murid dan guru berdiri dan menundukkan kepalanya terhadap sesama. Salam hormat seperti itu dilakukan di awal dan di akhir pembelajaran. Tugas yang diberikan kata teman saya sangat banyak. Untungnya, saya tidak menerima tugas-tugas pelajaran, kecuali untuk mata pelajaran bahasa Jepang.

Sekolah di sini juga sering menggunakan media kertas untuk pembelajaran dan bahkan ulangannya. Pengumpulan tugasnya menggunakan media seperti GCR tapi bukan menggunakan aplikasi GCR. Siswa tidak diperbolehkan untuk menggunakan smartphone. Seragam yang dikenakan berganti berdasarkan pergantian musim. Waktu kepulangan itu tergantung harinya, hari Senin dan Selasa pulang jam 16.00 sore, Rabu sampai Jumat pulang jam 15.00 sore, dan hari Sabtu pulang jam 12.00 siang. Sebagai muslim, syukur masih bisa melaksanakan kewajiban  saya selama bersekolah di Jepang, kecuali untuk pelaksanaan sholat Jumat. Saya membutuhkan waktu 5 bulan untuk membiasakan diri dengan sekolah Jepang sebagai Muslim.

Di sekolah saya memiliki banyak teman, tetapi mereka adalah ‘teman kelas’. Mereka bukan teman yang walau kami sudah berjauhan, kami masih berkomunikasi satu sama lain melalui sosmed, mereka bukan seperti itu. Hingga, saya sempat merasakan sekitar 5 bulan tidak memiliki ‘teman’. Karena orang Jepang terkenal dengan sifat individualismenya yang tinggi. Orang Jepang juga cenderung pemalu. Teman-teman saya juga kelihatan sibuk dengan belajar dan tugasnya. Karena sifat mereka yang pasif, Saya harus aktif dalam membuat hubungan atau menciptakan topik ngobrol dengan teman-teman saya untuk bisa mendapatkan teman di Jepang. Akhirnya, di bulan-bulan terakhir program pertukaran pelajar, karena bahasa Jepang saya yang sudah mulai meningkat membuat  saya bisa bercanda ringan, mengobrol, menjawab pertanyaan teman-teman Jepang saya, hingga membuat hubungan saya dengan teman-teman semakin dekat. (bersambung)