UTAMA  

Perjalanan Menyisir Jejak Kebudayaan di Sungai Mahakam (1)

sungai
Rombongan jelajah budaya menuruni kapal. (Bayong)

Dua Jam Bergoyang-Goyang Di Sungai Dari Atas Kapal Menuju Kota Raja

Baharunsyah, Samarinda.

Dekade 1960an, Syekh Mahmud Shaltut, Rektor Universitas Al Azhar Kairo, Mesir, menapakkan kaki ke tanah Nusantara untuk pertama kali. Lisannya terlontar sebuah ucapan yang terngiang-ngiang hingga sekarang. Indonesia qith’atu minal-jannah ala al-ardh. Indonesia adalah kepingan surga di bumi.   

Kata-kata itu disampaikan kembali oleh budayawan Kaltim, Syafrudin Pernyata. Di atas kapal menuju Tenggarong dari dermaga Sungai Kunjang, Samarinda. Keberangkatan kami dimulai pada 

Rabu (26/7/2023) pagi. Sekitar 100 orang anggota rombongan jelajah budaya yang diadakan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIV, berhati-hati memasuki kapal yang bergoyang naik turun. Kapal ini akan membawa kami menyusuri Sungai Mahakam. Tiga hari berturut-turut. Sekitar pukul 08.00 Wita, nakhoda mulai menaikan deru mesin. Tanda kapal segera meninggalkan Kota Tepian. Agenda pertama dimulai yaitu dialog kebudayaan. Syafrudin, atau sebut saja Es Pernyata, mulai mengambil tempat di tengah-tengah. Tampi dengan topi safari, ia mulai membuka laptop. 

Ia memulai materi dengan pernyataan Syekh Mahmut Shaltut tadi. Indonesia qith’atu minal-jannah ala al-ardh. Indonesia adalah kepingan surga di bumi. “Indonesia ini seperti sepotong surga yang dilempar ke bumi,” ucapnya melalui pengeras suara. Maklum, di sini suara manusia kalah telak dengan deru mesin diesel kapal.

Es memaparkan budaya adalah identitas kita sebagai entitas sebuah bangsa. Ia sempat bertanya balik. Apakah kita siap menghilangkan identitas tersebut? Terlebih dengan adanya IKN? Karena itu ada tantangan baru yang sedang dihadapi oleh generasi saat ini. Pertarungan identitas. Dirinya pernah sedikit geram dengan salah satu siaran radio lokal yang membacakan berita tentang IKN, tapi menggunakan narasi dari luar. “Mereka berkata, elu. Itu kan bahasa Jakarta, harusnya pakai bahasa lokal saja. Sekarang tantangannya dibalik. Bagaimana orang yang datang ke IKN, mereka terikat dengan budaya kita.”

Syafrudin Pernyata memberikan materi tentang kebudayaan di atas kapal. (Bayong)

Kondisi saat ini pun membuatnya cukup mengernyitkan dahi. Semua orang bangga dengan atribut kebarat-baratan. Atau ke-Korea-Korea an. Padahal orang luar negeri justru senang dengan karakter alami orang Indonesia. Pernah suatu ketika Es bertemu dengan perempuan asal Jepang. Perempuan itu bilang bahwa ia menyukai laki-laki Indo. Alasannya simple. Laki-laki Indonesia orangnya perhatian dan pengayom. Meski ada juga sebagian kecil yang tidak begitu.

Semua peserta di atas kapal menyimak. Di tengah pecahnya deburan ombak sungai. Kapal terus bergoyang-goyang melawan derasnya arus sungai dan gelombang dari kapal lain yang lewat. Sambil merasakan sensasi bergoyang di atas kapal, Es berkesempatan membagi beberapa novelnya secara gratis. Mulai dari yang judulnya Digdaya, sampai Zulaikha. “Ini saya bagi cuma-cuma. Kalau dijual, harganya bisa Rp 1 juta,” katanya berkelakar.  Kembali ke soal kebudayaan, ia sempat mengkritik perhelatan Kaltim fest yang diselenggarakan Pemprov Kaltim beberapa waktu lalu.  Sangat disayangkan event itu tidak menampilkan pertunjukan budaya dalam skala akbar. Justru seharusnya pemerintah bisa mengambil peran. Karena baginya, orang luar negeri, yang datang kemari, justru ingin menikmati sesuatu yang tidak ada di tempat asal mereka.

Mantan Kadis Pariwisata Kaltim ini juga tegaskan meski pun sebuah bangsa dijajah, namun jika budaya masih ada, maka bangsa itu masih eksis. Sebab baginya budaya merupakan ketahanan bangsa. Jika tak ada budaya, identitas bangsa menjadi nihil. “Memang ada pergeseran budaya. Budaya saat lebih bersinggungan dengan jati diri kita,” tegasnya.

Sepanjang perjalanan, kapal kami melewati banyak tongkang batu bara. Bahkan melewati tempat konveyor emas hitam ditaruh di atas tongkang yang menepi. Mulai dari Loa Duri sampai Loa Kulu. Semuanya sudah masuk kabupaten Kukar.   

Kepala BPKW XIV Titit Lestari akhirnya ikut menjelaskan saat ini tugas balai tidak hanya mengurusi budaya berwujud benda.  “Tapi juga yang tidak benda,” kata Titit.  Dia menyebut sudah melanglang buana ke sejumlah tempat semasa bertugas di balai. Mulai dari Jawa, Sumatera hingga sekarang di Kaltim. Perbedaan budaya di setiap tempat menurutnya menjadi daya tarik. Di Kaltim sendiri ia merasa pulang kampung. Sebab, neneknya merupakan suku asli Banjar.

Titit juga menuturkan tujuan dari Jelajah Budaya adalah menjalankan amanat UU 5/2017 tentang pemajuan budaya. Keberadaan budaya sendiri baginya sangat penting.  “Kita tetap harus mengenal budaya supaya tidak kehilangan jati diri, meski pun tetap ada IKN,” seloroh perempuan berjilbab ini.

Laju kapal berkurang. Nakhoda mulai menepikan kapal di dermaga Tenggarong. Tepatnya berseberangan dengan Museum Mulawarman. Sekitar pukul 10.13 Wita, peserta jelajah budaya mulai turun dari kapal. Mereka berombongan menyebarangi jalan raya, berpose lebih dulu di depan Museum, lalu masuk ke dalam untuk mempelajari sejarah. Tidak cuma berkeliling museum tapi juga melihat jejak sejarah kebudayaan peninggalan kerajaan Kutai lainnya.

“Baru-baru ini Kiayi Mukhtar Mukhti datang ke sini ke museum,” tutur pemandu museum Titiantoro. 

Kiayi Mukhtar Mukhti sendiri merupakan pengasuh ponpes Shiddiqiyah dari kabupaten Jombang, Jawa Timur. Ia datang bersama rombongan. Satu bus. Bahkan menurut Mangir, sapaannya Titiantoro, pihak TNI ikut mengawal. Kedatangannya untuk berziarah ke makam para sultan Kutai. Sayangnya pembicaraan kami harus terhenti. Panitia mulai sibuk memanggil supaya semua peserta kembali ke kapal.

Pukul 12.18 Wita, tiga menit sebelum azan zuhur berkumandang, mesin kapal mulai mendorong dengan sekuat tenaga kembali melawan arus sungai. Perjalanan kami berlanjut. Rute berikutnya adalah Desa Lekaq Kidau, di Kecamatan Sebulu, Kukar. Konon katanya di sini terdapat pemandangan indah yang cukup memukau mata. Demikian kabar burung itu beredar, sampai-sampai mata saya pun dibuat tak berkedip. (bersambung)