Catatan oleh Baharunsyah*
reviewsatu.com – SELASA 15 September 2026 sore. Matahari sedang merona merah, karena masih tertutup kabut-kabut asap yang cenderung tipis. Saya berdiri di pinggir Sungai Mahakam yang menjadi jantung transportasi air masyarakat. Tepatnya di Kampung Sebelang, Kecamatan Muara Pahu, Kutai Barat. Kadang-kadang beberapa kapal penumpang yang menuju Kutai Barat melintas di sungai yang mulai menyusut akibat kemarau.
Rupanya semakin ke dalam, lebar Sungai Mahakam justru semakin menyempit. Mungkin sampai 100 meter lebih. Tidak selebar di Samarinda apalagi Tenggarong. Bahkan kapal-kapal tugboat yang biasa membawa tongkang berisi batu bara masih bisa melintas.
Saking keringnya Mahakam ketika itu, beberapa sampan atau perahu kecil milik warga harus terparkir jauh dari bibir sungai. Biasanya, jarak antara rumah warga dengan bibir sungai, kalau dalam keadaan normal, mungkin hanya sekitar 10 meter. Tapi jarak antara rumah warga dengan tepi sungai saat itu bisa sampai lebih dari 20 meter. Bekas guratan-guratan keringnya permukaan sungai bahkan bisa kelihatan. Di momen ini, saya belum berfikir bahwa matahari yang saya lihat tadi, besoknya kondisinya tidak akan sama lagi. Masih santai.
Crisantus Lung Ngo, kawan saya dari PEKA Borneo sempat melihatkan kondisi keadaan cuaca di Kutai Barat melalui aplikasi ISPU. Sore itu juga. Nilainya sekitar 97. Yang berarti sudah masuk kategori sedang. Bersyukurlah kami. Ia juga mengenalkan saya beberapa aplikasi untuk mengecek keberadaan titik api (hot spot) di Kaltim. “Kita ini baru 3 tahun belakangan mulai aware dengan hot spot. Padahal di Amerika, ini sudah berjalan sejak 1980an,” kata Lung. Cuma bedanya, mitigasi yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat lebih bagus ketimbang pemerintahan kita.
Sekitar pukul 18.30 atau masuk waktu magrib, terdengar suara sirine pemadam kebakaran dari tempat saya dan rekan-rekan PEKA Borneo menginap. Informasi dari warga sekitar, telah terjadi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di daerah Desa Penyinggahan, masih di Kecamatan Muara Pahu juga. Kawasan tersebut konon katanya bersinggungan dengan lokasi perkebunan sawit. Ketika langit sudah mulai gelap, kekhawatian itu akhirnya benar-benar terjadi. Kabut mulai datang. Awalnya tipis.
“Ah, paling cuma embun,” pikir kami. Tapi, tidak mungkin ada embun karena pada saat itu cuaca sedang terik. Sampailah kami pada satu kesimpulan. Ini benar-benar asap. Besok pagi kami ingin buktikan hipotesa itu. Dan, ya, betul. Kampung Sebelang yang sebelumnya aman-aman saja, justru dikepung asap dari semua sisi. Ini merupakan asap kiriman.
Kampung Sebelang, Rabu 16 September 2026 pagi, sudah ditutupi oleh asap. Kondisi udaranya melalui aplikasi ISPU tadi berada di angka 140 yang berarti berbahaya.
Jarak pandang mulai menipis. Mungkin hanya sekitar 100 meter. Beberapa warga terpaksa memakai masker. Sebab ada sebagian yang mengeluh alami sakit tenggorokan. Bahkan aroma asap mulai tercium sampai di depan rumah. Bapak tuan rumah kami pun mengeluh sakit tenggorokan. Sampai dia terpaksa menyalakan kipas angin besar, lalu mengarahkannya ke luar kamar agar tidak ada asap yang masuk. Memang sempat turun hujan. Tapi itu tidak serta merta membuat asap menghilang.
Hingga sore, kabut asap masih menyelimuti kawasan Kampung Sebelang. Sampai saya pergi keesokan paginya pada Kamis 17 September 2026, kabut asap masih menari-nari di atas permukaan Sungai Mahakam, di belakang rumah kami menginap. Bahkan cukup berani menutup cahaya matahari, sampai kami tidak tahu apakah ini masih siang atau sore hari.
Saya pun akhirnya pergi dari Kampung Sebelang dengan perasaan yang sulit untuk diutarakan. Senang, aneh dan kesal. Bisa-bisanya saat kami sedang senyum-senyumnya merasakan kondisi udara yang baik, eh, cuma dalam hitungan jam, sudah berubah menjadi racun. Entah siapa yang harus disalahkan dalam kejadian ini. (bersambung)








