BALIKPAPAN, reviewsatu.com – Perjuangan para sopir truk dan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di DPRD Balikpapan, pekan lalu, yang menuntut penambahan kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar subsidi akhirnya membuahkan hasil konkret.
Para mahasiswa dengan beberapa anggota DPRD Balikpapan berangkat ke Jakarta dan langsung menemui Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) untuk melakukan audiensi yang meminta tambahan kuota solar.
Ketua Cabang PMII Balikpapan, Hijir Ismail, mengungkapkan bahwa audiensi berlangsung pada Rabu, 6 Mei 2026, dengan keputusan kuota solar harian di dua titik SPBU utama diputuskan bertambah hingga total 40 ton per hari.
Menurut Hijir, dalam pertemuan tersebut pihaknya membawa empat tuntutan utama kepada BPH Migas. Mulai dari penambahan kuota solar, penambahan outlet SPBU penyedia solar, pembukaan SPBU selama 24 jam, hingga pengawasan distribusi solar di Balikpapan.
“BPH Migas siap menambah kuota solar di Balikpapan dan hal itu akan dibahas dalam rapat triwulan yang insyaallah dilaksanakan pada bulan Juli 2026 ini,” ujar Hijir, dikonfirmasi pada Jumat 8 Mei 2026.
Sebagai langkah cepat sebelum rapat triwulan dilaksanakan, BPH Migas disebut mengambil kebijakan percepatan penggunaan kuota solar yang sebenarnya dialokasikan untuk Oktober, November, dan Desember 2026.
Langkah itu diambil menyusul kelangkaan solar yang terjadi di lapangan dan menyebabkan sopir truk harus mengantre berhari-hari untuk mendapatkan BBM subsidi.
“Kuota pada bulan Oktober, November, dan Desember akan digunakan lebih awal, mulai setelah aksi kemarin,” katanya.
Hijir menjelaskan, di SPBU Kilometer 13, kuota harian yang sebelumnya hanya 40 ton kini meningkat menjadi 64 ton atau bertambah 24 ton.
Sementara di SPBU Kilometer 15, kuota yang sebelumnya 24 ton naik menjadi 40 ton atau bertambah 16 ton. Sehingga total distribusi solar harian di dua titik itu meningkat dari 64 ton menjadi 104 ton.
“Kalau ditotal, kuota kita yang awalnya 64 ton menjadi 104 ton. Nah, ini menjadi solusi dari BPH Migas,” ungkapnya.
Meski antrean masih terjadi, Hijir menilai kondisi di lapangan mulai membaik dibanding sebelumnya. Ia menyebut para sopir kini tidak lagi harus mengantre hingga dua sampai tiga hari seperti beberapa waktu lalu.
“Kondisi sekarang, kalau antrean itu pasti tetap ada. Yang membedakan, sopir-sopir sudah tidak sampai mengantre dua sampai tiga hari,” jelas Hijir.
Selain penambahan kuota, kata dia, BPH Migas juga disebut menyetujui pembukaan SPBU selama 24 jam serta membuka peluang penambahan outlet SPBU penyedia solar apabila Pemerintah Kota Balikpapan melengkapi persyaratan administrasi.
Di sisi lain, Hijir menekankan bahwa penambahan kuota harus dibarengi pengawasan distribusi yang ketat agar tidak kembali menimbulkan persoalan di lapangan.
“Salah satu poin utama yang harus kita garisbawahi, ketika kuota solar ini sudah ditambahkan, aparat penegak hukum harus memberikan pengawasan yang cukup ketat,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan para sopir agar tidak melakukan penimbunan solar yang dapat memperburuk distribusi BBM subsidi di Balikpapan.
Menurutnya, hasil audiensi tersebut harus benar-benar dikawal bersama agar tidak berhenti sebagai janji tanpa realisasi nyata.
“Jangan sampai ini hanya menjadi omong-omong belaka, dan jangan sampai juga ini hanya menjadi penenang bagi kita yang hari ini telah antre berhari-hari,” pungkasnya. (*/chn)










