BERAU, reviewsatu.com – Pemeriksaan HIV di Kabupaten Berau menunjukkan lonjakan signifikan sepanjang 2025.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau mencatat, lebih dari 6.800 warga menjalani tes HIV dalam satu tahun terakhir, 87 orang di antaranya dinyatakan positif.
Angka tersebut mencerminkan perluasan jangkauan skrining HIV yang semakian masif, sekaligus meningkatnya partisipasi masyarakat dalam layanan pemeriksaan kesehatan.
Dinkes menilai capaian itu menjadi indikator penting dalam upaya pengendalian HIV di daerah.
Wasor P2-HIV (Analis Penyakit Menular) Dinkes Berau, Andy Nuriyanto mengatakan, temuan kasus sepanjang 2025 berkaitan langsung dengan meningkatnya jumlah warga yang bersedia menjalani tes.
“Semakin luas pemeriksaan dilakukan, maka potensi kasus yang teridentifikasi juga bertambah. Ini menunjukkan kesadaran masyarakat untuk mengetahui status kesehatannya semakin baik,” ujar Andy, Selasa 3 Februari 2026.
Berdasarkan data statistik Dinkes Berau, jumlah pemeriksaan HIV pada 2024 berada di kisaran 5.900 orang dengan kasus positif sebanyak 80 orang.
Angka tersebut meningkat cukup tajam pada 2025 hingga melampaui 6.800 orang. Seiring dengan peningkatan cakupan tes itu, jumlah kasus HIV yang terdeteksi tercatat sebanyak 87 kasus.
Andy menegaskan, deteksi dini menjadi kunci utama dalam pengendalian HIV. Dengan mengetahui status sejak awal, pasien dapat segera mendapatkan pengobatan yang tepat, sekaligus menekan risiko penularan di masyarakat.
Ia menambahkan, pasien HIV yang rutin dan patuh menjalani pengobatan antiretroviral (ARV) dapat menekan jumlah virus dalam tubuh hingga berada pada kondisi Undetectable atau tidak terdeteksi.
Dalam kondisi tersebut, risiko penularan kepada orang lain menjadi sangat kecil bahkan tidak menular.
“Selama pasien minum ARV secara rutin dan terkontrol, virusnya bisa ditekan sampai tidak terdeteksi. Kalau sudah undetectable, maka secara medis tidak menularkan,” terangnya.
Oleh karena itu, Andy terus mendorong masyarakat, khususnya kelompok berisiko, untuk memanfaatkan layanan tes HIV yang tersedia di fasilitas kesehatan.
Melalui perluasan skrining dan kesinambungan pengobatan, pemerintah daerah berharap laju penularan HIV dapat ditekan, meski cakupan pemeriksaan terus diperluas.










