Samarinda Walking On Tour Rute Ke-9: Dari Segiri hingga Go Mall Samarinda

Ilham Syahputra, founder sekaligus pemandu Samarinda Walking On Tour, memimpin perjalan yang penuh cerita tentang Kota Samarinda. (Ari Rachiem)---

Komunitas Samarinda Walking On Tour memulai perjalanan rute kesembilan pada Sabtu sore, 3 Oktober 2026. Aktivitas jalan kaki sambil mengenang cerita masa lalu kali ini, mendatangi 7 titik bersejarah. Apa saja itu?

reviewsatu.com – LANGKAH kaki puluhan peserta menyusuri jalan Kota Samarinda. Mereka berjalan dari satu sudut kota ke sudut lainnya, berhenti sejenak di beberapa tempat, lalu mendengarkan cerita tentang masa lalu yang pernah hidup di lokasi tersebut.

Kegiatan itu bukan sekadar perjalanan menikmati suasana kota. Komunitas Samarinda Walking On Tour membawa peserta menelusuri kembali jejak perkembangan Kota Tepian melalui tempat-tempat yang pernah menjadi pusat olahraga, pemerintahan, hiburan, hingga ruang pertemuan masyarakat pada era 1970-an dan 1980-an.

Ilham Syahputra, founder sekaligus pemandu Samarinda Walking On Tour, memimpin perjalanan rute kesembilan tersebut.

Kali ini, peserta diajak mengikuti tema Jejak Modern Samarinda dengan mendatangi 7 titik yang memiliki cerita tentang perubahan wajah Kota Tepian.

“Kalau kita berjalan di Samarinda hari ini, banyak tempat yang terlihat biasa saja. Padahal, setiap kawasan punya cerita tentang bagaimana kota ini berkembang dan berubah dari waktu ke waktu,” kata Ilham pada Sabtu, 3 Oktober 2026 sore.

Rute kesembilan menjadi perjalanan yang berbeda karena peserta diajak melihat Samarinda dari sisi kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Cerita tidak disampaikan dari balik ruang kelas atau sekadar melalui buku, melainkan ketika peserta berdiri langsung di kawasan yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah tersebut.

Samarinda Walking On Tour sebelumnya telah menjelajahi sejumlah tema. Di antaranya Jejak Cendekiawan Samarinda, Kawasan Pecinan Samarinda, Jejak Sekolah Tionghoa, Kawasan Titik Nol Samarinda, Jejak Perang Samarinda, Katedral dan Cerita Kota Samarinda, serta Jejak Tiga Orde di Samarinda.

Dimulai dari GOR Segiri

Perjalanan dimulai dari Kompleks GOR Segiri. Kawasan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam sejarah olahraga Samarinda, terutama karena keberadaan Stadion Segiri yang telah lama menjadi bagian dari perjalanan sepak bola Kota Tepian.

Kompleks GOR Segiri pertama kali dibangun pada 1960, bersamaan dengan Balai Kota Samarinda pada masa Kadrie Oening.

Dari tempat tersebut, cerita tentang olahraga kemudian berkembang menjadi bagian dari perjalanan sepak bola Samarinda di tingkat nasional.

Stadion Segiri pernah menjadi kandang Putra Samarinda atau Persisam yang berkompetisi di era Galatama dan Liga Indonesia. Setelah itu, stadion tersebut menjadi markas Borneo FC Samarinda.

Ada pula cerita tentang Roger Milla yang pernah menginjakkan kaki di Stadion Segiri. Legenda sepak bola Kamerun tersebut sempat memperkuat Putra Samarinda dan merasakan langsung atmosfer sepak bola di Kota Tepian.

Balaikota Samarinda

Dari Kompleks GOR Segiri, peserta berjalan menuju Balai Kota Samarinda. Di kawasan Jalan Kusuma Bangsa, Ilham kemudian membawa peserta melihat perubahan kawasan yang dahulu berupa rawa.

Pada masa Kadrie Oening, kawasan tersebut mulai ditata dan dikembangkan menjadi salah satu pusat kota.

Balai Kota, GOR Segiri, hingga Taman Makam Pahlawan kemudian menjadi bagian dari kawasan yang membentuk wajah Samarinda.

“Dulu kawasan Jalan Kusuma Bangsa ini tidak seperti sekarang. Ada rawa yang kemudian ditata menjadi kawasan pusat pemerintahan dan aktivitas kota,” jelas Ilham.

Hotel Lamin Indah

Cerita kemudian bergerak menuju kawasan Hotel Lamin Indah. Di tempat ini, suasana perjalanan berubah karena peserta diajak membayangkan Samarinda ketika industri kayu sedang berkembang pesat pada era 1970-an.

Lamin Indah berdiri memanjang di atas sebuah bukit yang sejajar dengan tepian Sungai Mahakam.

Hotel tersebut dibangun oleh kontraktor asal Filipina setelah memperoleh konsesi dan izin usaha penebangan kayu di Kalimantan Timur.

Bangunan Lamin Indah kemudian diserahkan kepada pemerintah daerah dan dikelola melalui kerja sama dengan pihak swasta.

Pada masa kejayaannya, kawasan tersebut menjadi salah satu tempat yang dikenal dalam kehidupan hiburan Kota Samarinda.

Di bagian bawah Lamin Indah pernah terdapat Mini Club. Tempat tersebut merupakan diskotek yang menjadi bagian dari kehidupan malam Samarinda pada masa itu.

Cerita mengenai Lamin Indah memperlihatkan sisi Samarinda yang mungkin tidak lagi terlihat dalam lanskap kota saat ini.

Bangunan dan suasananya telah berubah, tetapi kisah tentang tempat tersebut masih dapat ditelusuri melalui cerita dan dokumentasi sejarah.

Bagi peserta, titik tersebut menjadi salah satu bagian perjalanan yang menarik. Mereka tidak lagi sekadar melihat sebuah kawasan perbukitan, tetapi membayangkan bagaimana tempat itu pernah menjadi salah satu pusat hiburan warga Samarinda.

Go Mall Samarinda

Dari Lamin Indah, rombongan kemudian bergerak menuju kawasan Go Mall Samarinda. Di kawasan tersebut, Ilham kembali membuka cerita masa lalu tentang sebuah tempat hiburan yang pernah menjadi tujuan masyarakat.

Menurut Ilham, kawasan itu dulunya merupakan lokasi Bioskop Parahyangan. Bioskop tersebut dikenal sebagai salah satu bioskop elite di Samarinda pada masanya.

Perjalanan pun terus bergerak. Setiap langkah membawa peserta pada cerita berbeda tentang Samarinda.

Ada kawasan yang masih dapat dilihat bentuknya, ada yang telah berubah, dan ada pula yang kini hanya tersisa dalam ingatan serta catatan sejarah.

Peserta dari Luar Daerah

Peserta Samarinda Walking On Tour ternyata tidak hanya diikuti oleh peserta yang berasal dari Samarinda. Andri Ernestus, warga asal Kecamatan Bentian Besar, Kutai Barat, sengaja menyempatkan diri mengikuti perjalanan tersebut.

Andri yang bekerja sebagai guru IPS di salah satu sekolah swasta di Samarinda. Ia melihat Walking On Tour sebagai cara lain untuk mempelajari sejarah.

Dia dapat melihat langsung tempat yang menjadi bagian dari cerita, meskipun sebagian bangunannya sudah tidak ada.

“Sebagai guru IPS, saya tidak hanya menikmati sejarah melalui rangkaian kata di dalam buku. Saya juga bisa menikmatinya secara langsung, meskipun bangunannya sudah tidak ada seperti Lamin Indah,” ujar Andri.

Menurut Andri, pengalaman berjalan langsung di lokasi membuat cerita sejarah lebih mudah dibayangkan.

Tempat yang selama ini hanya dikenal melalui informasi tertulis menjadi lebih dekat karena peserta dapat melihat kawasan dan lingkungan yang berkaitan dengan cerita tersebut.

Peserta lain, Fred, memiliki alasan berbeda mengikuti kegiatan itu. Pria asal Palangkaraya tersebut baru pindah ke Samarinda pada 2015.

Sejak menetap di Kota Tepian, dia merasa perlu mengenal kota tempat tinggalnya secara lebih dalam.

Fred menikmati setiap cerita yang disampaikan sepanjang perjalanan. Baginya, memahami sebuah kota tidak cukup dengan mengetahui nama jalan, gedung, atau kawasan yang ada di dalamnya.

“Saya baru pindah ke Samarinda pada 2015. Jadi, saya merasa perlu mengenal lebih dalam bagaimana perjalanan panjang Kota Tepian sampai menjadi seperti sekarang,” kata Fred.

Kisah yang dibawa Samarinda Walking On Tour akhirnya kembali kepada satu hal sederhana, yakni berjalan kaki.

Dengan langkah yang perlahan, peserta diberi kesempatan untuk berhenti, melihat sekitar, mendengarkan cerita, lalu membandingkannya dengan wajah Samarinda hari ini. (*/Ari)