Dari Mesin Jahit ke Panggung Nasional, Perjalanan Nora Suratman Menembus Indonesia Fashion Week

Nora Suratman, Pengusaha di bidang Fashion.-Sakiya Yusri-Disway Kaltim

KUTAI TIMUR, reviewsatu.com – Ketekunan dan konsistensi membawa Nora Suratman menapaki dunia fashion selama hampir dua dekade.

Berawal dari usaha menjahit rumahan pada 2007 di Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, kini karya-karyanya telah menembus panggung nasional, termasuk tampil di ajang Indonesia Fashion Week 2025.

Nora mengawali perjalanan bisnisnya dengan mengandalkan keterampilan dasar menjahit. Seiring meningkatnya jumlah pesanan, ia mulai merekrut karyawan untuk membantu produksi.

“Awalnya menjahit sendiri, lama-lama order makin banyak dan butuh bantuan,” ujarnya.

Minat Nora pada dunia fashion bukan datang tiba-tiba. Latar belakang pendidikannya di bidang tata busana menjadi pondasi kuat.

Perempuan asal Tulungagung ini menempuh pendidikan SMK jurusan tata busana, lalu melanjutkan pendidikan desain fashion di Arfa Studio Surabaya (kini Arfa School).

Ia mengikuti pendidikan secara bertahap dari tingkat dasar hingga mahir dan mengantongi sertifikat desain fashion berskala nasional.

“Karena sudah punya keterampilan, ya harus diterapkan. Apa yang kita kuasai, itu yang kita jalani,” katanya.

Dalam berkarya, Nora banyak mengeksplorasi busana muslim dengan sentuhan lokal dan kontemporer.

Ia kerap mengangkat tema-tema tertentu, seperti penggunaan batik khas daerah yang diolah menjadi dress, outer, maupun busana dengan berbagai siluet.

Ide desainnya juga disesuaikan dengan target pasar dan lokasi pergelaran fashion.

“Kalau mau tampil di Jakarta, tentu konsepnya berbeda. Kita lihat dulu pasarnya, arahnya mau ke mana,” jelasnya.

Selama menekuni dunia fashion, tantangan terbesar yang dihadapi Nora adalah keterbatasan bahan baku di Kutai Timur, terutama di masa awal.

Namun, perkembangan teknologi dan sistem penjualan daring kini sangat membantu. Kebutuhan kain bisa dipenuhi dari berbagai daerah hanya dengan komunikasi jarak jauh.

“Sekarang jauh lebih mudah. Tinggal telepon atau online, bahan bisa disiapkan,” katanya.

Berbagai pencapaian telah diraih Nora. Kepercayaan dari instansi pemerintah untuk mengerjakan seragam dinas menjadi salah satu kebanggaan tersendiri.

Selain itu, loyalitas pelanggan lama yang terus kembali juga menjadi indikator keberhasilan usahanya.

Puncak pengakuan datang saat ia dipercaya bekerja sama dengan Dekranasda Kutai Timur untuk mengikuti Indonesia Fashion Week 2025.

Menurut Nora, kesempatan tersebut menjadi bukti bahwa desainer dari daerah juga mampu bersaing di tingkat nasional.

“Selama ini kita sering dianggap hanya penjahit. Tapi sekarang ada pengakuan sebagai fashion designer, meski kita dari Kutai Timur,” ujarnya.

Meski demikian, Nora tetap rendah hati. Baginya, seorang desainer tidak hanya menciptakan karya, tetapi juga harus mampu memenuhi kebutuhan klien dan menjaga kepuasan pelanggan agar terjadi repeat order.

Ke depan, Nora bersama sejumlah desainer Kalimantan Timur berencana menggelar fashion show di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Ia juga terlibat dalam rencana pendirian Indonesia Fashion Chamber (IFC) wilayah Kalimantan Timur guna mendorong pertumbuhan industri fashion lokal.

Saat ini, jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam usahanya bersifat fleksibel. Dalam kondisi pesanan padat, total pekerja yang terlibat mulai dari modiste, penjahit, hingga konveksi bisa mencapai 20 orang.

Nora berpesan kepada generasi muda agar tidak mudah menyerah dalam menekuni dunia usaha.

“Jangan lelah belajar, jangan takut gagal, dan jangan malu bertanya. Silaturahmi itu penting, dan ilmu tidak boleh pelit,” pesannya.