Kubar, reviewsatu.com – Desa Tanjung Isuy, Kecamatan Jampang, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi salah satu dari 5 desa seluruh Indonesia yang terseleksi meraih Apresiasi Desa Budaya 2025 dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Program ini adalah puncak kegiatan dari Program Pemajuan Desa, salah satu program unggulan Kementerian Kebudayaan.
Tahun 2025 kemarin itu ada sekitar 150 desa yang telah diseleksi. Dari jumlah tersebut menjadi 30 Desa yang akhirnya menjadi 10 besar. Kemudian diambil lagi menjadi 5 desa yang terpilih meraih apresiasi dari Kementerian Kebudayaan. Kelima desa itu, yakni:
1.Desa Cibaliung, Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang, Banten
2.Desa Duarato, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur
3.Desa Suak Timah, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, Aceh
4.Desa Tanjung Isuy, Kecamatan Jempang, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur
5.Desa Tebat Patah, Kecamatan Taman Rajo. Kabupaten Muaro Jambi, Jambi
“Alhamdulillah rasa syukur dan terharu, bahwa desa kami yang mengikuti aktivasi dari Kementerian Kebudayaan, pada akhirnya salah satu dari lima desa menerima Apresiasi Desa Budaya 2025. Apresiasi itu berkat kerjasama dan semangat dari daya desa, komunitas dan warga tingkat desa, sehingga kami masuk dalam lima besar,” jelas Kepala Desa Tanjung Isuy, Akhmadi.
Atas keberhasilanya itu, lanjut Akhmadi, desa-nya akan melakukan pembenahaan, antara lain dengan melibatkan perusahaan dalam pemanfaatan CSR untuk kegiatan kebudayaan. Tujuannya untuk menjaga kegiatan kebudaayaan bagi generasi masa akan datang.
Selain itu, dirinya sebagai Kepala Desa akan mendorong kepada pemerintah Kabupaten Kutai Barat agar dibuatkan agenda besar tahunan di Kabupaten. “Kami akan dorong adanya agenda tahuhanan untuk Desa Tanjung Isuy di Kabupaten Kutai Barat,” jelasnya.
Seperti kita ketahui, Desa Tanjung Isuy di Kecamatan Jampang, Kabupaten Kutai Barat adalah kampung adat Suku Dayak Benuaq yang terkenal sebagai destinasi wisata budaya karena masih melestarikan tradisi. Desa tersebut masih memiliki Rumah Lamin (rumah adat), sanggar tari, dan kerajinan tangan unik seperti tenun Ulap Doyo dan ukiran kayu serta menjadi pusat kegiatan ekonomi kerajinan dan oleh-oleh khas Kalimantan Timur.
Di penghujung tahun 2025, diselenggrakan Pesta Sua Doyo 2025, tepatnya Senin, 24 November 2025. Kegiatan itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Dan yang paling penting menjadi momentum penting bagi masyarakat Dayak Benuaq, khususnya para penggiat tenun doyo yang menjadikan warisan leluhur itu sebagai identitas budaya.
“Kegiatan dilaksanakan untuk menunjukkan betapa kayanya kearifan lokal Bumi Tanaa Purai Ngeriman. Karena Tanjung Isuy juga memiliki ciri khas tersendiri, mulai kuliner, ritual adat dan seni budaya hingga kreativitas serta inovasi Doyo yang terus-menerus diupayakan pemasarannya,” lanjut Kepala Desa.
Bagi Kepala Desa Pesta Sua Doyo, bukan sekedar kegiatan karena butuh proses yang panjang, tak lain sejak Festival Tanjung Isuy 2008 sampai akhirnya terpilih sebagai satu dari 10 kampung budaya yang mendapat aktivasi dari Kementerian Kebudayaan.
Begitu pula penetapan Tanjung Isuy sebagai Desa Budaya oleh Kementerian Kebudayaan bukanlah proses instan. Komunitas lokal sejak lama berjuang mengembangkan kegiatan seni, organisasi kebudayaan, hingga mendirikan kelompok pelestari budaya seperti Perkumpulan Tongau Puaringa (PDTKB).
Ia berharap dengan kegiatan itu dapat menghidupkan kembali budaya-budaya lokal dari Tanjung Isuy yang hampir saja tenggelam. Pesta Sua Doyo 2025 tidak hanya memperkuat identitas budaya dan menjadin ruang pelaku ekonomi kreatif lokal, namun dapat menghantarkan desa-nya meraih Apresiasi Desa Budaya.
Pesta Sua Doyo adalah perayaan untuk mencintai alam dan menghargai budaya, dan memastikan generasi muda dalam mencintai budaya, adat dan tradisi.
Kegiatan itu juga menjadi sorotan budaya di Kaltim sekaligus simbol ketahanan budaya Dayak Benuaq di tengah perubahan arus. Kegiatan yang diselenggarakan Desa Tanjung Isuy yang didukung Kementerian Kebudayaan bagian salah satu program Pemajuan Kebudayaan Desa, Terlebih Posisi Kutai Barat sebagai wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara membuka peluang besar bagi pengembangan destinasi wisata budaya.
Karena itu, Dispar mendorong kampung-kampung untuk memperkuat pengelolaan potensi budaya dan pariwisata, termasuk fasilitasi pelatihan, pendokumentasian, dan pengembangan sentra kerajinan. “Pesta Sua Doyo bukan hanya agenda seni. Ini bagian dari upaya besar untuk menjaga warisan budaya. Aktivasi Desa Budaya harus berdampak. Bukan hanya seremonial, tetapi memberi nilai ekonomi bagi masyarakat,” harapnya.
Seperti dikatakan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, bahwa desa memiliki posisi sentral dalam membentuk identitas dan karakter bangsa Indonesia. “Desa-desa budaya adalah jantung dari identitas kebudayaan Indonesia. Di desa-desa inilah tradisi, adat istiadat, seni, dan kearifan lokal hidup dan berkembang. Budaya bukan sekadar simbol, tetapi merupakan kekuatan hidup yang menyatukan, menginspirasi, dan membangun karakter bangsa,” ujar Fadli Zon.
Disamping itu pula Fadli Zon menekankan bahwa di tengah arus modernisasi dan globalisasi, desa budaya berperan sebagai benteng peradaban sekaligus ruang inovasi berbasis nilai-nilai lokal. Menurutnya, penguatan desa budaya hanya dapat tercapai melalui kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan. (*)










