PemDes Kota Bangun Inginkan Pendampingan Penerapan Pupuk Organik di Lahan Pertanian

Kades Kota Bangun I, Nur Rohim (Istimewa)

Kukar, reviewsatu.com – Desa Kota Bangun I yang terletak di Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) hungga kini terus berupaya untuk mengembangkan sektor pertanian di desanya.

Kepala Desa Kota Bangun I, Nur Rohim mengatakan bahwa selama ini warga di desanya banyak yang berprofesi sebagai petani, sehingga sektor pertanian merupakan salah satu penopang perekonomian mereka.

“Kita kan Desa Transmigrasi, ya tidak terlepas dari agraris sebagai sumber penghasilan masyarakat. Disamping itu juga ada pertanian agro, seperti lombok, tomat, semangka dan juga sawit,” ucap Rohim saat dikonfirmasi, Senin (15/5/2023).

Ia mengungkap bahwa di Desa Kota Bangun I sendiri terdapat lahan sawah seluas 150 hektare. Dengan rincian 128 hektare lahan sawah produktif, serta 22 hektare lahan yang telah vakum. Terdapat 12 kelompok tani di Desa Kota Bangun I yang mengelola langsung lahan pertanian tersebut.

Rohim mengatakan bahwa terdapat sejumlah permasalahan yang kerap dialami oleh petani di desanya, yakni seperti kadar asam tanah. Sehingga disebutkannya perlu adanya pupuk dolomit atau kapur untuk menetralisir kadar asam tersebut.

“Selama ini yang menjadi permasalahan yaitu kadar asam tanah. Makanya kita butuh pupuk dolomit atau kapur untuk menetralisir asam. Ini yang terus kami upayakan bersama Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak),” ungkapnya.

Untuk memecahkan permasalahan ini, pihaknya telah melakukan pengujian kadar Ph tanah. Setelah dilakukan pengecekan, didapati pH tanah di lahan persawahan di Desa Kota Bangun I, ada di kisaran 4,3 dan 4,7.

Untuk bantuan dari Pemerintah sendiri, Rohim mengakui, sejak tahun 2020 para petani di desanya rutin mendapat 2 paket pupuk NPK dan Urea. Selain itu juga, pihaknya menerima bantuan Alsintan sebanyak 8 unit traktor dan 6 alat perontok padi berukuran kecil.

Ia berharap kedepannya ada pendampingan dari tenaga ahli untuk pengaplikasian pupuk organik di desanya.

“Harapan kami sih perlu ada pendampingan dari tenaga ahli, dalam hal pengaplikasian pupuk dan penanggulangan hama. Artinya kita tidak ingin selalu ketergantungan pada pupuk kimia, dan lebih berusaha menggunakan pupuk organik. Karena kami di Desa Kota Bangun I, selain bertani juga didampingi dengan peternakan,” pungkasnya. (adv/jat/boy)