Diabetes Melitus, Ibunya Penyakit yang Kerap Diabaikan

cuaca panas
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim dr Jaya Mualimin. (Bayong)

Samarinda, reviewsatu.com – Diabetes Melitus dianggap sebagai ibu dari segala penyakit. Begitu penuturan Kepala Dinas Kesehatan Kaltim dr Jaya Mualimin.

“Diabetes Miletus merupakan ibunya penyakit. Karena dari situlah semua penyakit muncul,” katanya saat dikonfirmasi di ruang kerja.

Ia menyebut karena hal tersebutlah maka penyakit tersebut menjadi fokus untuk pengendalian. Diabetes Melitus bisa dikendalikan karena berhubungan dengan makanan. Yaitu dengan mengubah pola makan, makanan yang sehat dan seimbang. Dengan tidak mengedepankan makanan yang manis. Karena hal itu yang memicu penyakit DM terutama pada anak-anak. Konsumsi gula tersebut dapat dicegah dengan membiasakan makanan yang tidak menggunakan gula. Atau menggunakan gula alami yang sudah manis.

Sebab, tutur Jaya, semakin banyak makanan manis yang terserap ke dalam tubuh, maka ia akan menekan fungsi insulin di dalam tubuh. Sehingga sel-sel di pankreas menjadi mati dan tidak berfungsi.

Salah satu yang menjadi perhatian Dinkes yaitu konsumsi gula pada ibu hamil. Hal ini bisa berakibat pada anak yang ada di dalam perut. Jaya menyebut, jika anak lahir lebih dari 3,5 kilogram maka anak tersebut punya kecenderungan resiko menderita DM.

Baca juga: Biaya Pengobatan Penyakit Diabetes Kuras Uang Negara

DM pada anak tidak melulu soal faktor keturunan. Bahkan keturunan memiliki peluang yang kecil dalam mewariskan DM. Salah satu yang menjadi faktor penentu yaitu mengkonsumsi makanan yang B2SA (beragam, berisi, seimbang, aman). Jaya juga menyebut salah satu faktor penyebab DM adalah makanan yang tidak terkontrol. Salah satunya kebiasaan minum soda. Dalam takaran berlebih bisa menyebabkan obesitas. Lantas, berapa takaran ideal konsumsi gula?

Kementerian Kesehatan Indonesia menentukan batas konsumsi atau kebutuhan gula per hari adalah 50 gram. Atau setara dengan 4 sendok makan untuk orang dewasa.

Sementara itu menurut American Heart Association (AHA), kebutuhan gula per hari sekitar 100 kalori atau sekitar 6 sendok teh. Untuk anak usia 2-18 tahun dari 6 sendok teh atau 24 gram per hari. Ayah dua anak ini mengutarakan dengan pola hidup masyarakat yang menganaktirikan kesehatan, membuat Dinkes harus melakukan sejumlah langkah pengendalian. Salah satunya menggandeng akademisi dari Universitas Gajah Mada (UGM). Akademisi UGM tersebut nantinya akan mengusulkan program pendampingan untuk bisa dijalankan di seluruh kabupaten/kota. Sosialisasinya baru akan berjalan Mei mendatang. (dey/boy)