Samarnda, reviewsatu.com – Sekelompok pemuda yang tergabung dalam Extinction Rebellion (XR) Bunga Terung, membentangkan spanduk di Sungai Mahakam dalam rangka memeringati hari air sedunia yang jatuh setiap 22 Maret.
Mereka membentangkan spanduk berisi sejumlah pesan dan tuntutan, baik di Sungai Mahakam maupun di anak sungai, seperti Sungai Karang Mumus Samarinda.
“Sayangnya, Sungai Mahakam tengah menghadapi ancaman serius. Sungai yang dulu disebut sebagai Tirta Amerta atau air kehidupan perlahan-lahan sekarat, tercekik oleh kerakusan eksploitasi sumber daya alam,” ucap Winda, Anggota XR Bunga Terung.
Dalam momentum ini, Winda bersama kawan-kawannya menyerukan pemulihan terhadap Sungai Mahakam dengan cara menghentikan deforestasi, alih fungsi lahan hingga privatisasi sungai.
Dirinya menerangkan bahwa Kalimantan Timur yang mencakupi kawasan Mahakam Ulu, Kutai Barat, Kutai Kartanegara dan Samarinda menganggap Sungai Mahakam bukan sekadar sungai.
“Ia adalah Maha Kama, anugerah kehidupan (cinta) yang agung, tempat bergantungnya air bersih, jalur transportasi, perekat budaya, dan habitat ribuan makhluk hidup,” tuturnya disela-sela membentangkan spanduk dalam aksi kampanye nya.
Tak hanya itu, Sungai Mahakam dikenal dengan kekayaan air yang ditampung di danau-danau dataran banjir seperti Semayang, Melintang, hingga Jempang serta puluhan danau kecil lainnya.
“Sungai ini menjadi rumah bagi 147 jenis ikan air tawar, 298 jenis burung, dan makhluk mitologis yang benar-benar hidup Pesut Mahakam mamalia air tawar yang kini nyaris punah,” sebut Winda.
Kendati demikian baginya pesona itu perlahan menghilang. Pada 1970-an, Sungai Mahakam pernah dilanda Banjir Kap atau banjir kayu gelondongan hasil penebangan hutan tropis.
“Sungai Mahakam sekarang tak pernah sepi dari lalu lalang ponton batubara, hutan hujan tropis yang dulu menyuburkan Mahakam kini habis ditebang, selain itu lahan-lahan dibuka tanpa kendali demi tambang, perkebunan sawit, dan pemukiman,” jelasnya.
Oleh sebab itu, kualitas air menurun drastis yang dulunya juga diyakini membawa berkah kini membawa ancaman.
“Limbah kayu, batubara, pestisida, hingga sampah domestik mencemari sungai dari hulu ke hilir sumber air bersih warga pun tak lagi terjamin, bahkan setelah diolah oleh PDAM,” ungkap Winda.
XR Bunga Terung pun menekankan langkah konkret yang dapat dilakukan bersama-sama yaitu mengembalikan Mahakam sebagai ruang hidup bersama.
“Sungai Mahakam bukan milik korporat, bukan milik segelintir elit. Ia adalah milik bersama, rumah bagi manusia, tumbuhan, dan satwa. Mahakam adalah cinta yang agung dan cinta itu harus diselamatkan, bukan dibunuh,” tutup Winda.
Sumber: nomorsatukaltim










