NUSANTARA, reviewsatu.com – Bubur Baqa yang menjelma menjadi Bubur Nusantara, kini menjadi salah satu menu takjil andalan Masjid Negara Ibu Kota Nusantara (IKN) selama Ramadan. Kehadirannya turut menyorot sosok peracik yang menjaga konsistensi rasa bubur ikonik tersebut.
Dia adalah Husnul Syahab (51), sosok perempuan yang menjadi pemegang amanah sekaligus pewaris resep otentik Bubur Baqa, kuliner legendaris asal Samarinda Seberang yang kini melintasi batas wilayah menuju ibu kota baru.
Husnul Syahab mengungkapkan bahwa tradisi memasak bubur ini memiliki akar sejarah yang sangat panjang dalam keluarganya, bahkan jauh sebelum ia dilahirkan.
Resep ini bermula dari lingkungan Masjid Al-Baqa di Samarinda Seberang, yang dahulu masih berupa bangunan sederhana sebelum akhirnya dipugar menjadi masjid megah seperti sekarang.
Asal-usul aroma kuat yang menjadi ciri khas Bubur Baqa ternyata lahir dari persilangan budaya dan pertemuan antarbangsa di masa lalu.
Husnul menceritakan bahwa datuknya (kakek buyut) memiliki darah keturunan Arab, yang kemudian menjadi titik awal transformasi rasa bubur tersebut.
“Itu sebenarnya saya belum lahir, sudah dari kakek buyut itu sudah bikin di Masjid Al-Baqa,” ujar Husnul Syahab saat menceritakan silsilah kuliner tersebut, melalui sambungan telepon, Rabu (4/3/2026).
Awalnya bubur yang disajikan di masjid hanyalah bubur putih biasa tanpa tambahan bumbu yang kompleks. Perubahan besar terjadi ketika datuknya kedatangan seorang rekan dari Arab yang membawa berbagai macam rempah-rempah khusus untuk dicampurkan ke dalam masakan.
“Kebetulan kami ini ada turunan Arab dari datuk kami. Waktu itu ada teman dari Arab yang membawa rempah-rempah. Jadi awalnya, kata abah saya, dulu buburnya cuma putih saja,” kenangnya.
Sejak momen pertemuan tersebut, keluarga Syahab mulai mengombinasikan bumbu dasar dengan rempah-rempah tersebut yang kemudian dikenal sebagai bumbu kari.
Tidak hanya faktor keturunan Arab, keluarga Husnul juga memiliki kaitan sejarah dengan Kesultanan Kutai Kartanegara, di mana buyut dari pihak neneknya merupakan Pangeran Bendahara Kutai Kartanegara.
Bubur Baqa bukan sekadar makanan, melainkan simbol kohesi sosial bagi masyarakat Samarinda Seberang sejak puluhan tahun silam. Husnul mengingat betul bagaimana tradisi ini sudah mengakar kuat setidaknya sejak pertengahan hingga akhir tahun 1970-an.
“Sekitar akhir tahun 1970-an sudah ada. Pokoknya akhir-akhir 70-an, hampir ke tahun 1975–1976. Waktu saya masih kecil pun sudah sempat makan itu,” jelasnya.
Dahulu, saat rumah-rumah warga masih berupa rumah panggung tradisional di pinggir sungai, momen setelah waktu asar menjadi saat yang paling dinantikan. Anak-anak di sekitar kampung akan berbondong-bondong menuju masjid dengan membawa peralatan makan masing-masing untuk mendapatkan jatah bubur gratis.
“Anak-anak masyarakat sini kalau selesai masak bubur, mereka berbondong-bondong ke masjid bawa rantang masing-masing,” kata Husnul.
Sajian ini memang dikhususkan untuk siapa saja yang membutuhkan, mulai dari jemaah tetap hingga para pengelana yang kebetulan melintas.
“Kalau ada musafir yang singgah dan tidak sempat berbuka di rumah, bebas makan di sana bersama jemaah masjid,” tambahnya lagi.
Banyak orang bertanya-tanya apa yang membedakan Bubur Baqa dengan varian bubur ayam atau bubur sop pada umumnya. Husnul menegaskan bahwa perbedaan mendasar terletak pada ketiadaan daging ayam dan dominasi bumbu kari buatan sendiri yang sangat spesifik.
“Bumbunya tetap bumbu dasar, tapi yang membedakan memang di bumbu kari dan rempah-rempahnya,” tutur Husnul.
Jika dahulu bubur ini menggunakan potongan daging sapi, kini resepnya sedikit beradaptasi dengan menggunakan kornet atau daging giling untuk menjaga konsistensi tekstur di setiap suapan.
“Kami tidak pakai ayam. Dulu pakai daging potong, sekarang pakai kornet atau daging giling. Spesifiknya memang di karinya,” tegasnya.
Selain bahan, teknik memasak atau how dari pembuatan bubur ini menjadi tantangan tersendiri, terutama karena harus dimasak dalam porsi besar menggunakan panci berdiameter sekitar 80 centimeter hingga satu meter.
“Setelah bubur hampir pecah berasnya, masukkan margarin, lalu bumbunya, aduk terus supaya tidak gosong. Itu seninya,” tambahnya.
Proses pengadukan ini membutuhkan tenaga ekstra dan kerja sama tim karena dilakukan secara nonstop selama hampir dua jam.
“Mengaduknya minimal dua orang karena harus nonstop supaya tidak gosong,” imbuhnya.
Untuk mendukung kecepatan proses, Husnul menyarankan penggunaan kompor mata seribu agar suhu panas merata dan air cepat mendidih.
Kehadiran Bubur Baqa di Masjid Negara IKN, yang kini populer dengan sebutan Bubur Nusantara, merupakan hasil supervisi langsung dari Husnul Syahab.
Ia turun tangan langsung ke Nusantara selama hampir satu minggu untuk melakukan transfer pengetahuan kepada para juru masak lokal di sana.
“Saya hampir seminggu di sana, tapi karena bulan puasa tidak bisa lama-lama di luar kota, jadi saya ajarkan cara membuatnya,” kata Husnul.
Untuk memastikan rasa yang tersaji di IKN sama persis dengan yang ada di Samarinda Seberang, Husnul melakukan kontrol kualitas yang sangat ketat. Ia mengirimkan bumbu racikan aslinya langsung dari Samarinda dalam beberapa tahap pengiriman.

“Bumbu sudah saya kirim dari sini untuk 10 hari pertama, lalu kirim lagi untuk 10 hari kedua,” jelasnya.
Sistem perbandingan yang ia ajarkan juga sangat presisi untuk memudahkan para juru masak di IKN dalam mengolah porsi besar.
“Takaran sudah tahu, misalnya 15 kilo beras, berarti 15 kaleng kornet. Perbandingannya saja yang diatur,” tambahnya.
Hasilnya pun terbukti memuaskan, di mana pada hari kedua praktik mandiri, rasa yang dihasilkan sudah sesuai dengan standar aslinya.
Hingga saat ini, pengelolaan Masjid Al-Baqa dan tradisi buburnya tetap dipegang oleh garis keturunan keluarga Syahab. Kakak tertua Husnul kini menjabat sebagai pengurus masjid, meneruskan tongkat estafet dari datuk dan ayah mereka.
“Pengurusnya juga turun-temurun dari keluarga. Dari datuk, lalu bapak, sekarang kakak saya yang tertua,” katanya.
Meski kini menggunakan peralatan yang lebih modern seperti gas menggantikan kayu bakar, Husnul memastikan bahwa esensi dari Bubur Baqa tetap terjaga. Baginya, bisa melihat resep keluarganya dinikmati oleh ratusan orang di IKN, termasuk saat kunjungan Menteri Agama, adalah sebuah kebanggaan tersendiri.
“Hari Jumat, waktu ada Bapak Menteri Agama, porsinya besar sampai dua panci. Senang sekali resep warisan keluarganya kini menjadi bagian dari sejarah baru di Ibu Kota Nusantara,” pungkas Husnul.
Sebelumnya, melihat tingginya permintaan, pihak Otorita IKN kini menyiapkan antara 700 hingga 800 porsi setiap harinya. Angka ini melonjak tajam pada hari Sabtu, 28 Februari 2026 lalu, yakni mencapai 1.000 porsi.
“Kami lupa karena kemarin ya hari libur, bahwa masyarakat banyak yang berkunjung ke IKN. Menurut kami ini menunjukkan bahwa Bubur Baqa telah berhasil bertransformasi menjadi sajian massal yang diminati berbagai kalangan di ibu kota baru,” kata Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat OIKN, Alimuddin.
Pihak Otorita IKN juga berencana meningkatkan skala penyajian ini pada momentum besar Nuzulul Quran mendatang.
“Insya Allah yang memiliki racikan asli akan kami undang kembali, untuk rencananya di peringatan Nuzulul Quran yang akan dipusatkan di IKN pada tanggal 7 Maret 2026. Kehadiran pemilik resep asli diperlukan karena volume masakan yang disiapkan akan jauh lebih besar dari porsi harian biasanya,” jelas Alimuddin.
Meskipun Bubur Baqa kini sangat populer dengan sebutan Bubur Nusantara di IKN, Alimuddin menegaskan bahwa pihaknya tetap menghormati asal-usul dan hak cipta dari racikan tersebut.
Ia memandang bahwa popularitas yang didapatkan saat ini harus tetap memberikan apresiasi kepada masyarakat Samarinda Seberang sebagai pemilik asli tradisi tersebut. Otorita IKN berharap langkah ini akan membuat kuliner lokal Kalimantan Timur terangkat dengan sendirinya ke kancah yang lebih luas.
“Saya melihat bahwa hak cipta racikan ini milik teman-teman di Samarinda Seberang,” tegas Alimuddin.
Ke depannya, OIKN juga berencana untuk menghadirkan variasi kuliner legendaris lainnya, seperti bubur dari Masjid Shiratal Mustaqim, untuk semakin memperkaya khazanah takjil di Masjid Negara.
“Dengan demikian, IKN tidak hanya menjadi pusat pemerintahan, tetapi juga menjadi etalase bagi kelestarian budaya dan kuliner tradisional Kalimantan,” tandasnya.










