Gibran, He Is Still the Man

Prof Dr Ahmad Sihabudin

Oleh: Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si (Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta)

BEBERAPA tahun lalu tepatnya 18 November 2024 di Sindo News.com, saya pernah menulis sebuah artikel berjudul “Gibran, He Is the Man.”

Waktu itu Gibran Rakabuming Raka baru saja memasuki panggung politik nasional dengan segala kontroversinya. Banyak yang meragukan, banyak pula yang mencibir.

Ada yang mengatakan ia belum berpengalaman. Ada yang menyebutnya planga-plongo. Ada yang mempertanyakan kemampuan komunikasinya. Bahkan ada yang merasa lebih tahu masa depan Gibran daripada Gibran sendiri. 

Menariknya, waktu berjalan. Gibran ternyata tidak hilang dari panggung. Ia justru semakin berada di tengah panggung.

Dan seperti lazimnya panggung politik Indonesia, kalau seseorang mulai terlihat semakin terang, biasanya bukan hanya lampu sorot yang datang. Nyamuk pun ikut berdatangan.

Semakin terang seseorang, semakin banyak pula yang merasa perlu memadamkan lampunya. Itulah politik. 

Dari “Planga-Plongo” ke Wakil Presiden

Dulu Gibran sering menjadi bahan olok-olok. Istilah “planga-plongo” bahkan seolah menjadi semacam gelar akademik tidak resmi yang diberikan oleh para pengamat media sosial. Aneh memang.

Seseorang disebut tidak mampu, tetapi terus dibicarakan. Seseorang disebut tidak punya kapasitas, tetapi terus dicari kesalahannya. Seseorang dianggap tidak penting, tetapi setiap gerak-geriknya dipantau.

Kalau benar-benar tidak penting, bukankah lebih baik dibiarkan saja?

Dalam komunikasi politik, perhatian adalah modal. Bahkan kritik yang berlebihan kadang-kadang justru bekerja seperti iklan gratis. Bedanya, iklan dibayar oleh pemasang, sedangkan kritik politik sering kali dibayar dengan tenaga, waktu, dan emosi sendiri.

Gibran mungkin tidak perlu memasang baliho. Para pengkritiknya sudah membantu memasang baliho dalam bentuk perdebatan setiap hari. Begitulah paradoks politik.

Kadang-kadang orang ingin menjatuhkan seseorang, tetapi justru membuat namanya semakin tinggi.

Semakin Disorot, Semakin Terlihat

Kini Gibran berada pada posisi yang berbeda. Ia bukan lagi sekadar putra Presiden ke-7. Ia adalah Wakil Presiden Republik Indonesia. Tentu jabatan itu harus diawasi. Tentu kebijakannya boleh dikritik. Tentu kemampuan dan kinerjanya harus diuji oleh publik.

Demokrasi memang membutuhkan kritik. Tanpa kritik, kekuasaan bisa kehilangan cermin. Tetapi cermin dan batu adalah dua benda yang berbeda. Cermin menunjukkan wajah. Batu dilemparkan untuk melukai.

Di sinilah kita perlu membedakan kritik dengan kebencian, koreksi dengan penghinaan, serta pengawasan dengan persekusi politik.

Sebab akhir-akhir ini kita seperti sedang mengalami gejala baru dalam komunikasi politik: orang tidak cukup hanya mengkritik kebijakan; orang mulai sibuk mengorek-ngorek seluruh kehidupan pribadi.

Dari cara bicara, gaya berjalan, ekspresi wajah, sampai dokumen pendidikan. Tidak lama lagi mungkin ada yang melakukan penelitian ilmiah tentang cara Gibran mengangkat alis.

Maklum, dalam politik kita kadang-kadang hal kecil bisa menjadi tesis, sementara masalah besar cukup menjadi status WhatsApp. 

Sampai Urusan Ijazah

Dan akhirnya sampailah kita pada episode yang paling ramai: ijazah.

Persoalan mengenai syarat pendidikan Gibran kini telah masuk ke ranah hukum dan Mahkamah Konstitusi.

Artinya, persoalan tersebut semestinya diuji melalui mekanisme hukum, bukti, dokumen, dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ini penting.

Saya tidak mengatakan bahwa Gibran harus kebal kritik. Sama sekali tidak. Pejabat publik bukan manusia yang hidup di ruang kedap suara. Ia harus siap diperiksa, dikritik, bahkan diperdebatkan.

Tetapi ada satu hal yang juga perlu kita ingat: menuduh tidak sama dengan membuktikan. Dalam hukum, yang menentukan bukan siapa yang paling keras berbicara, melainkan siapa yang mampu menghadirkan bukti.

Menariknya lagi, polemik ijazah ini telah menghasilkan berbagai babak. Bahkan pada Maret 2026, ahli digital forensic, menyatakan setelah melakukan pengujian bahwa ijazah Gibran asli.

Tetapi rupanya dalam politik, satu jawaban kadang tidak otomatis mengakhiri pertanyaan. Mungkin karena sebagian orang memang tidak sedang mencari jawaban. Mereka sedang mencari kesalahan.

Ini yang perlu kita renungkan. Apakah kita sedang mencari kebenaran, atau sedang mencari kemenangan?

Sebab kalau tujuan kita benar-benar mencari kebenaran, kita seharusnya siap menerima hasil apa pun yang lahir dari proses pembuktian.

Kalau hasilnya tidak sesuai dengan prasangka kita, ya kita harus berani berkata: “Baiklah, saya keliru.” Kalimat sederhana ini tampaknya semakin mahal dalam politik.

Gibran dan Seni Tidak Terprovokasi

Menariknya dari Gibran justru bukan hanya apa yang dikatakannya, tetapi bagaimana ia menghadapi serangan. Ia relatif tenang. Tidak semua serangan dijawab. Tidak semua sindiran dibalas. Tidak semua tuduhan harus dibawa ke media sosial.

Dalam budaya komunikasi yang semakin gaduh, diam kadang-kadang justru menjadi bentuk komunikasi yang paling mahal.

Hari ini orang bisa bertengkar hanya karena komentar tiga kata. Pagi hari bertengkar soal politik. Siang hari bertengkar soal agama. Sore hari bertengkar soal ijazah. Malam hari masih sempat bertengkar soal siapa yang paling benar.

Kalau begitu, kapan bekerja?

Di sinilah ketenangan seorang pejabat menjadi penting. Gibran boleh saja dikritik karena dianggap kurang banyak bicara. Tetapi dalam politik, terlalu banyak bicara juga bisa menjadi masalah.

Kita sudah sering melihat orang yang baru ditanya satu pertanyaan, jawabannya seperti seminar tiga SKS. Gibran justru cenderung singkat.

Mungkin orang menganggapnya planga-plongo. Atau mungkin ia sedang belajar satu seni komunikasi yang sudah lama dilupakan manusia modern: tidak semua hal harus dijawab.

He Is the Man?

Ketika dulu saya menulis “He Is the Man”, saya tentu tidak sedang mengatakan bahwa Gibran manusia sempurna. Tidak ada pemimpin yang sempurna.

Seorang pemimpin harus tumbuh melalui kritik, pengalaman, kesalahan, tekanan, dan bahkan ketidakpopuleran. Justru tekanan politik yang besar dapat menjadi sekolah kepemimpinan yang mahal.

Kalau seseorang mampu melewati tekanan tanpa kehilangan kesantunan, tidak mudah terpancing, dan tetap bekerja, maka tekanan itu pada akhirnya dapat berubah menjadi energi politik.

Besi menjadi kuat karena ditempa. Pohon menjadi kokoh karena diterpa angin. Dan seorang pemimpin mungkin menjadi matang karena berkali-kali diuji.

Karena itu saya melihat perjalanan Gibran bukan sebagai perjalanan yang selesai, melainkan perjalanan yang baru dimulai.

Hari ini ia Wakil Presiden. Besok sejarah akan menilai apa yang ia kerjakan. Bukan berdasarkan meme. Bukan berdasarkan komentar netizen. Bukan berdasarkan label “planga-plongo”. Bukan pula berdasarkan jumlah orang yang membencinya.

Tetapi berdasarkan kinerja, integritas, keberanian mengambil keputusan, kemampuan berkomunikasi, dan manfaat yang dirasakan masyarakat.

Politik Jangan Kehilangan Akal Sehat

Kita boleh tidak suka kepada Gibran. Itu hak politik. Kita boleh mengkritiknya. Itu bagian dari demokrasi. Tetapi jangan sampai ketidaksukaan membuat kita kehilangan akal sehat.

Begitu pula sebaliknya, jangan karena kita menyukai Gibran, lalu semua tindakannya kita anggap benar. Jangan membela secara membabi buta, tetapi jangan pula menuduh secara membabi buta.

Inilah kedewasaan demokrasi. Gibran harus diberi kesempatan untuk membuktikan dirinya. Kalau ia gagal, kritiklah. Kalau ia berhasil, akuilah.

Jangan karena kita tidak suka kepada seseorang, lalu keberhasilannya dianggap kebetulan dan kesalahannya dianggap bukti ketidakmampuan.

Itu bukan kritik. Itu namanya sudah punya kesimpulan sebelum membaca bukunya. Dan kalau politik sudah seperti itu, kita bukan lagi sedang mencari kebenaran. Kita hanya sedang mencari pembenaran.

He Is Still the Man

Mungkin judul lama itu sekarang perlu sedikit diperpanjang: Gibran, He Is Still the Man. Bukan karena ia sudah menjadi pemimpin sempurna. Bukan karena ia bebas dari kekurangan.

Tetapi karena ia telah menunjukkan satu hal yang penting dalam politik: ia tetap berdiri ketika banyak orang berharap ia jatuh. Ia tidak perlu membalas semua suara. Ia tidak perlu menjawab semua ejekan. Ia tidak perlu setiap hari membuktikan bahwa dirinya hebat. Waktu akan mengujinya.

Sejarah akan mencatatnya. Dan rakyat akan memberikan penilaiannya. Barangkali itulah ujian terberat seorang pemimpin muda. Bukan menghadapi lawan yang terang-terangan menyerang.

Tetapi menghadapi dunia yang terus-menerus ingin melihatnya kehilangan kesabaran. Kalau ia mampu tetap tenang, tetap santun, tetap bekerja, dan belajar dari kritik, maka semua kegaduhan hari ini bisa menjadi sekolah politik yang sangat berharga baginya.

Sebab seorang calon pemimpin masa depan tidak dibentuk hanya oleh tepuk tangan. Kadang-kadang ia justru dibentuk oleh cemoohan, tuduhan, tekanan, dan kesalahpahaman.

Dan kalau semua itu berhasil dilewatinya tanpa kehilangan akal sehat dan tanpa kehilangan rasa hormat kepada orang lain, mungkin kelak kita akan memahami kembali kalimat yang pernah saya tulis beberapa tahun lalu: He is the Man.

Bukan karena ia tidak pernah diserang. Tetapi karena ia tidak mudah tumbang hanya karena diserang. (*)