Suspek Campak Mulai Merebak di Kukar, Hingga Februari Ada 105 Kasus

Foto ilustrasi campak.

KUKAR, reviewsatu.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mencatat sebanyak 105 kasus suspek campak hingga akhir Februari 2026. Kasus tersebut masih berstatus terduga karena seluruh sampel masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium yang dikirim ke pusat.

Data tersebut merupakan rekapitulasi hingga minggu ke-8 tahun 2026 yang dihimpun dari laporan 32 puskesmas di seluruh wilayah Kukar melalui sistem pemantauan penyakit menular milik pemerintah.

Ketua Tim Kerja Survei Kasus, Imunisasi, dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (SIPKLB) Dinas Kesehatan Kukar, Hamdana Yunisar menjelaskan, bahwa campak merupakan salah satu penyakit menular yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi lengkap sejak usia dini.

“Kalau kasusnya, memang ada. Campak merupakan salah satu penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi. Kemunculan kasus biasanya berkaitan dengan rendahnya cakupan imunisasi di suatu wilayah,” ujar Hamdana Yunisar, Selasa, 10 Maret 2026.

Ia menerangkan, bahwa penyebaran penyakit campak dapat terjadi ketika tingkat kekebalan kelompok atau herd immunity masyarakat di suatu wilayah berada pada level rendah.

Sehingga, virus lebih mudah menular kepada individu yang belum memiliki perlindungan imunisasi.

Hingga laporan minggu ke-8 tahun 2026 atau akhir Februari, Dinas Kesehatan Kukar mencatat total 105 kasus suspek campak yang tersebar di sejumlah puskesmas di berbagai kecamatan.

“Semua kasus ini masih suspek, karena untuk memastikan seseorang positif campak harus ada hasil laboratorium. Sampel yang diambil dari pasien akan dikirim ke laboratorium rujukan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” terangnya.

Ia menambahkan, bahwa setiap pasien yang menunjukkan tanda dan gejala sesuai pedoman teknis penanganan campak wajib dilakukan pengambilan spesimen untuk memastikan diagnosis melalui pemeriksaan laboratorium.

“Kalau berdasarkan tanda dan gejala yang sesuai dengan petunjuk teknis, maka sampelnya harus diambil untuk diperiksa di laboratorium. Jadi prosesnya memang menunggu hasil pemeriksaan resmi,” katanya.

Dari pemantauan laporan melalui aplikasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), wilayah Kecamatan Samboja tercatat sebagai daerah dengan jumlah suspek campak terbanyak dibanding kecamatan lainnya.

“Salah satu laporan terbesar berasal dari RSUD Aji Batara Agung Dewa Sakti Samboja yang mencatat 38 kasus suspek,” ungkap Hamdana.

Selain laporan dari rumah sakit tersebut, beberapa puskesmas di Kecamatan Samboja juga mencatat adanya temuan kasus suspek campak dengan jumlah yang cukup menonjol.

“Dari Puskesmas Samboja tercatat 8 suspek, kemudian dari Puskesmas Sungai Mardeka ada 12 suspek, dan dari Puskesmas Handil Baru terdapat sekitar 10 kasus suspek,” jelasnya.

Jika seluruh data tersebut digabungkan dengan laporan dari rumah sakit, maka jumlah suspek campak yang terdata di wilayah Kecamatan Samboja mencapai sekitar 68 kasus.

Menurut Hamdana, tingginya jumlah laporan di wilayah tersebut dipengaruhi oleh kondisi geografis Samboja yang merupakan kawasan pesisir sekaligus daerah perlintasan masyarakat dari berbagai wilayah.

Sementara itu, laporan dari puskesmas di kecamatan lain menunjukkan jumlah yang relatif lebih kecil.

Dalam menghadapi potensi penyebaran penyakit tersebut, Dinas Kesehatan Kukar melakukan berbagai langkah pencegahan melalui pendekatan lintas program di lingkungan fasilitas kesehatan.

“Langkah yang kami lakukan adalah mitigasi supaya penyakit ini tidak menyebar lebih luas. Salah satunya dengan melibatkan tim promosi kesehatan untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat,” jelas Hamdana.

Ia menekankan bahwa peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya imunisasi menjadi langkah utama dalam mencegah munculnya kasus campak di masa mendatang.

“Kami mengimbau para orangtua yang memiliki bayi dan balita agar melengkapi imunisasi anak sejak usia dini. Kekebalan tubuh tidak terbentuk dalam waktu singkat sehingga imunisasi harus diberikan sesuai jadwal,” tegasnya.

Menurut Hamdana, imunisasi tidak hanya melindungi anak dari campak, melainkan juga dari berbagai penyakit menular lain yang dapat dicegah melalui program imunisasi nasional.

“Setidaknya ada sebelas penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Karena itu kami berharap orang tua yang memiliki anak usia nol hingga lima tahun dapat memastikan imunisasi anaknya lengkap,” pungkasnya. (*/ari)