Samarinda, reviewsatu.com – Alarm kewaspadaan jelang pemilu perlu dibunyikan sejak dini. Belajar dari pemilu sebelumnya, informasi sesat kerap memuncak jelang pencoblosan. Diperkirakan kasus ini akan terjadi pula pada pemilu 2024.
Sinyal kewaspadaan itu disampaikan Heru Margianto, Anggota Bidang Pendidikan Etik dan Profesi Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Ia menjelaskan bahwa informasi sesat pada pilpres 2019 lalu bisa dijadikan pelajaran, untuk mengantisipasi segala bentuk informasi sesat yang akan muncul di 2024.
“Potensi meningkatnya sebaran informasi sesat di Pemilu 2024 dapat diketahui melalui pola yang sudah ada dari pemilu 2019,” ujarnya melalui zoom meeting pada hari kedua kegiatan Training Meliput Isu Pemilu yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Samarinda, Minggu (16/7/2023).
Ia juga menjelaskan banyak istilah informasi sesat yang berkembang di masyarakat seperti manipulasi informasi, disinformasi, misinformasi, atau pun malinformasi. Dimana tujuannya adalah untuk memengaruhi opini dan tindakan publik.
Berkaca dari Pemilu 2019 lalu, Kementerian Kominfo mendapatkan data produksi informasi sesat menunjukkan peningkatan dalam beberapa bulan sebelumnya dan memuncak pada April. Dengan rincian, Januari ditemukan 175 informasi sesat, Februari jumlahnya meningkat menjadi 353. Lantas, meningkat lagi menjadi 453 pada Maret. Puncaknya adalah April yaitu 486.
“Pemilu serentak 2024 akan digelar pada 14 Februari. Melihat apa yang terjadi di 2019, waspadai peningkatan sebaran informasi sesat sejak November 2023,” ujar pria yang juga redaktur pelaksana media Kompas ini.
Heru menambahkan persebaran informasi tersebut pada pemilu 2019 naik menjelang dan setelah pencoblosan. Oleh karena itu di pemilu 2024 mendatang fenomena serua juga harus diwaspadai. Pada 2019, informasi keliru paling banyak ditemukan di tiga platform yaitu facebook, twitter, dan whatsapp. Facebook merupakan platform favorit. Sebanyak 857 konten atau 58 persen informasi tidak benar ditemukan di facebook, twitter 210 konten atau 14 persen dan whatsapp 96 konten atau 7 persen.
“Tidak seperti 2019, sekarang platform media sosial semakin banyak, seperti Tiktok misalnya. Tapi besar kemungkinan, Facebook masih menjadi ladang favorit persebaran informasi sesat,” ujar Heru.
Selanjutnya, Heru juga menyebut ada dua objek yang menjadi sasaran informasi tidak benar di Pemilu 2019. Yaitu individu dan institusi negara. Individu yang menjadi sasaran adalah capres dan cawapres, presiden yang sedang berkuasa, pejabat pemerintah, tokoh partai, tokoh agama, tokoh politik dan artis. Informasi sesat yang menyasar individu sebanyak 67,2 persen atau 986 konten. Dari jumlah itu, individu yang paling banyak disasar adalah capres dan cawapres, dengan bentuk konten yang paling banyak digunakan adalah format foto disertai caption.
“Dari data di atas, hal yang dapat diwaspadai untuk pemilu 2024 adalah serangan informasi sesat yang paling banyak akan ditujukan kepada para pasangan calon, baik capres atau cawapres, maupun pasangan kepala daerah, dan penyelenggara pemilu,” terang Heru.
“Oleh karena itu, perhatikan informasi seputar pemilu yang beredar, lakukan cross check, jangan sampai kita menjadi amplifier (orang yang lantang menyuarakan,red) dari hoaks dan disinformasi,” tutupnya. (sal/boy)










