Kampung Ketupat di Samarinda, Merawat Budaya Lokal dari Generasi ke Generasi

Samarinda, reviewsatu.com – Di tepian Sungai Mahakam, suasana Kampung Ketupat di Samarinda Seberang selalu memiliki cerita yang hidup, di mana anyaman daun nipah bukan sekadar rutinitas dapur, melainkan bagian dari napas panjang tradisi yang dijaga oleh warganya dari generasi ke generasi.

Di kampung ini, ketupat tidak hadir sebagai komoditas biasa, melainkan sebagai simbol kebersamaan yang tumbuh dari nilai lokal yang dikenal sebagai betolongan etam, sebuah semangat gotong royong yang membuat setiap proses produksi terasa seperti kerja kolektif yang penuh makna.

“Budaya betolongan etam itu adalah jantung kehidupan masyarakat Kutai, karena di situ ada nilai saling membantu dan kebersamaan yang tanpa pamrih,” ujar budayawan Kalimantan Timur, Awang Irwan Setiawan, Rabu (25/3/2026).

Ia menceritakan bahwa di Kampung Ketupat, proses menganyam daun nipah, memasak beras hingga menjadi ketupat, hingga mendistribusikannya ke pasar dilakukan dengan semangat kebersamaan yang telah diwariskan sejak lama.

“Fenomena ketupat ini bukan sekadar usaha musiman, tetapi cerminan budaya yang sudah mengakar dan terus hidup dalam keseharian masyarakat,” katanya.

Di Samarinda Seberang, pertemuan budaya juga terasa begitu kuat, di mana masyarakat Kutai hidup berdampingan dengan komunitas dari Sulawesi Selatan, khususnya Bugis Wajo, yang kemudian membentuk harmoni sosial yang khas di kawasan tersebut.

“Nilai betolongan etam berpadu dengan semangat masyarakat pesisir Mahakam, sehingga melahirkan kehidupan sosial yang kuat dan saling mendukung,” tuturnya.

Bagi warga setempat, ketupat menjadi lebih dari sekadar makanan pendamping, karena di dalamnya tersimpan cerita tentang kebersamaan, kerja keras, dan harapan yang terus dirajut setiap hari.

“Ketupat itu simbol persatuan dan kebersamaan, sekaligus warisan budaya Melayu yang hidup di tepian Mahakam,” ucap Awang Irwan.

Di sisi lain, suara tentang masa depan ketupat juga datang dari kalangan akademisi yang melihat potensi besar dari usaha ini jika dikelola dengan pendekatan yang lebih terarah dan berkelanjutan.

“Ketupat ini sebenarnya budaya nasional, hampir semua daerah punya tradisi yang sama, jadi peluangnya besar untuk menjadi sumber penghasilan tambahan bagi pelaku UMKM,” ujar Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Purwadi, saat menjelaskan peluang ekonomi dari tradisi tersebut.

Ia menggambarkan bahwa langkah sederhana seperti membangun ekosistem usaha yang saling terhubung dapat memberikan dampak besar bagi para pengusaha ketupat di Samarinda Seberang.

“Kalau di Kampung Ketupat dibuat kawasan kuliner yang terintegrasi dengan warung soto, coto Makassar, atau soto Banjar, maka akan tercipta hubungan yang saling mendukung antar pelaku usaha,” katanya.

Menurutnya, pengembangan kawasan tematik seperti menggabungkan Kampung Ketupat dengan Kampung Nasi Kuning dapat menjadi identitas baru yang memperkuat daya tarik daerah sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.

“Hotel dan rumah makan besar juga bisa diarahkan untuk mengambil ketupat dari pengusaha lokal, sehingga usaha mereka bisa terus berjalan sepanjang waktu,” ujarnya. (Ari)