Menjelang Hari Raya Lebaran 2026 ini, kasus suspek campak ditemukan merebak di Kalimantan Timur (Kaltim). Yang mengemuka baru-baru ini terjadi di Balikpapan dan Kutai Kartengera (Kukar). Dimungkinkan infeksi virus menular itu juga terjadi di kabupaten/kota lainnya.
reviewsatu.com – SEBELUMNYA kasus suspek campak dirilis oleh Dinas Kesehatan (Diskes) Kutai Kartanegara (Kukar). Paling banyak di temukan kasusnya di Kecamatan Samboja. Kemudian disusul Diskes Balikpapan yang juga menemukan banyaknya kasus serupa.
Diskes Balikpapan mencatat sekitar 200 kasus suspek campak yang ditemukan. Tersebar di seluruh kecamatan. Menyerang berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Untuk diketahui, Kecamantan Samboja, Kukar, secara geografis bedekatan dengan wilayah Kota Balikpapan.
Kepada wartawan, Kepala Diskes Balikpapan, Alwiati mengatakan, peningkatan kasus campak kini menjadi perhatian serius pemerintah kota itu. “Di Balikpapan cukup banyak kasus campak, tetapi kita tidak merupakan daerah yang endemis,” kata Alwiati.
Campak (measles) adalah penyakit infeksi virus yang sangat menular. Gejalanya biasa ditandai dengan demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, dan ruam kemerahan dari wajah ke seluruh tubuh. Virus ini sering menyerang anak-anak. Ditularkan melalui droplet air liur atau melalui udara serta menyentuh benda yang terkontaminasi virus.
Ia menjelaskan, Kementerian Kesehatan sebenarnya mendorong daerah yang mengalami peningkatan kasus untuk melakukan ORI (Outbreak Response Immunization) atau imunisasi respons wabah.
Namun di Balikpapan, langkah yang dilakukan adalah kejar imunisasi, terutama bagi anak-anak yang belum mendapatkan vaksin campak. Menurut Alwiati, imunisasi tetap menjadi cara paling efektif untuk menekan penularan penyakit tersebut.
“Campak itu hanya bisa dicegah dengan imunisasi. Kalau sudah imunisasi tetapi masih terjangkit biasanya tidak terlalu parah,” terangnya.
Oleh sebab itu, ia mengimbau orangtua memastikan anak-anak mereka telah mendapatkan imunisasi campak sesuai jadwal. “Kalau ada anak yang belum imunisasi agar segera melakukan vaksinasi supaya tidak terjangkit campak,” katanya.
Di sisi lain, Dinkes Balikpapan juga terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kasus yang muncul di masyarakat.
Sebelumnya, suspek campak terjadi di Kukar. Diskes setempat temukan 105 kasus suspek campak hingga akhir Februari 2026. Data tersebut merupakan rekapitulasi hingga minggu ke-8 tahun 2026 yang dihimpun dari laporan 32 puskesmas di seluruh wilayah Kukar melalui sistem pemantauan penyakit menular milik pemerintah.
Ketua Tim Kerja Survei Kasus, Imunisasi, dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (SIPKLB) Dinas Kesehatan Kukar, Hamdana Yunisar menjelaskan, penyebaran penyakit campak dapat terjadi ketika tingkat kekebalan kelompok atau herd immunity masyarakat di suatu wilayah berada pada level rendah. Sehingga, virus lebih mudah menular kepada individu yang belum memiliki perlindungan imunisasi.
“Kalau kasusnya, memang ada. Campak merupakan salah satu penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi. Kemunculan kasus biasanya berkaitan dengan rendahnya cakupan imunisasi di suatu wilayah,” ujar Hamdana Yunisar, 10 Maret 2026 lalu.
Ia menambahkan, bahwa setiap pasien yang menunjukkan tanda dan gejala sesuai pedoman teknis penanganan campak ,wajib dilakukan pengambilan spesimen untuk memastikan diagnosis melalui pemeriksaan laboratorium.
“Kalau berdasarkan tanda dan gejala yang sesuai dengan petunjuk teknis, maka sampelnya harus diambil untuk diperiksa di laboratorium. Jadi prosesnya memang menunggu hasil pemeriksaan resmi,” katanya.
Dari pemantauan laporan melalui aplikasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), wilayah Kecamatan Samboja tercatat sebagai daerah dengan jumlah suspek campak terbanyak dibanding kecamatan lainnya.
“Salah satu laporan terbesar berasal dari RSUD Aji Batara Agung Dewa Sakti Samboja yang mencatat 38 kasus suspek,” ungkap Hamdana.
Selain laporan dari rumah sakit tersebut, beberapa puskesmas di Kecamatan Samboja juga mencatat adanya temuan kasus suspek campak dengan jumlah yang cukup menonjol.
“Dari Puskesmas Samboja tercatat 8 suspek, kemudian dari Puskesmas Sungai Mardeka ada 12 suspek, dan dari Puskesmas Handil Baru terdapat sekitar 10 kasus suspek,” jelasnya.
Jika seluruh data tersebut digabungkan dengan laporan dari rumah sakit, maka jumlah suspek campak yang terdata di wilayah Kecamatan Samboja mencapai sekitar 68 kasus.
Menurut Hamdana, tingginya jumlah laporan di wilayah tersebut dipengaruhi oleh kondisi geografis Samboja yang merupakan kawasan pesisir sekaligus daerah perlintasan masyarakat dari berbagai wilayah.
Sementara itu, laporan dari puskesmas di kecamatan lain menunjukkan jumlah yang relatif lebih kecil.
Dalam menghadapi potensi penyebaran penyakit tersebut, Dinas Kesehatan Kukar melakukan berbagai langkah pencegahan melalui pendekatan lintas program di lingkungan fasilitas kesehatan.
“Langkah yang kami lakukan adalah mitigasi supaya penyakit ini tidak menyebar lebih luas. Salah satunya dengan melibatkan tim promosi kesehatan untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat,” jelas Hamdana.
Ia menekankan bahwa peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya imunisasi menjadi langkah utama dalam mencegah munculnya kasus campak di masa mendatang.
“Kami mengimbau para orangtua yang memiliki bayi dan balita agar melengkapi imunisasi anak sejak usia dini. Kekebalan tubuh tidak terbentuk dalam waktu singkat sehingga imunisasi harus diberikan sesuai jadwal,” tegasnya.
Menurut Hamdana, imunisasi tidak hanya melindungi anak dari campak, melainkan juga dari berbagai penyakit menular lain yang dapat dicegah melalui program imunisasi nasional.
“Setidaknya ada sebelas penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Karena itu kami berharap orang tua yang memiliki anak usia nol hingga lima tahun dapat memastikan imunisasi anaknya lengkap,” pungkasnya. (*/chn/ari)










