UTAMA  

Ketika Tahura Banten Menjadi Pengekspor Benih ke Provinsi Deforestasi Hutan

Tahura banten
Pohon Mahoni di Tahura Banten. (Bayong)

Reviewsatu.com – Taman Hutan Raya (Tahura) Banten menyimpan segalanya yang tidak dimiliki Tahura lain. Bahkan menjadi pengekspor benih bagi hutan yang alami deforestasi.

Oleh: Baharunsyah

Andra Soni, Gubernur Banten begitu asyik menikmati semburan air yang mengalir di tengah-tengah Curug Putri. Ia tertawa lepas. Menikmati jernihnya air yang bersimbah di sekujur tubuhnya hingga kuyup. 

Setidaknya itulah suasana yang ditampilkan oleh Hudri, Kepala UPTD Tahura Banten dalam video dokumenter potensi Tahura, kepada peserta dari Forum Pimred Multimedia Indonesia.

Sebelumya, kami, para peserta Forum Pimred Multimedia Indonesia berangkat dari Hotel Aston, Serang menaiki bus milik Pemprov Banten.

Jarak Tahura Banten dari kabupaten Serang – Anyer memakan waktu hampir 1,5 jam. Melewati Desa Dadubeureum di Kecamatan padarincang dan Kecamatan Pabuarang.

Suguhan alam yang memanjakan menjadi penghibur selama perjalanan. Ada sawah berpetak-petak namun belum muncul padi yang panen. Sampai dihadang jejeran pantai dengan berbagai vila dan cottage. Hingga tibalah kami di pintu gerbang Tahura Banten.

Jalan dengan lebar sekitar 10 meter menuntun masuk bus. Pohon Meranti Tembaga (Shorea leprosula), dan Mahoni (Swietenia mahagoni) ikut menyambut, menjulang kokoh hampir 10 meter lebih.

Suara dedaunan dari pepohonan saling bergesek bersahutan. Cahaya matahari masuk berhimpitan, menyusup di antara pepohonan yang jaraknya berdekatan. Rindang. Meski tak ada suara burung yang menyapa.

Di situ, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banten Wawan Gunawan beserta rombongan sudah menunggu dengan seragam batik dan setelan dinas masing-masing. Dalam sambutannya, ia menjelaskan luasan lahan Tahura Banten sekitar 2.471 hektare. dibagi menjadi 3 kawasan fungsi hutan. Konservasi, lindung dan produksi. Tahura ini masuk dalam kawasan konservasi dan hutan lindung.

“Dari 40 tahura se-Indonesia, hanya di Banten yang menjorok ke laut,” kata Wawan, Kamis 17 Juli 2025.

Sampai tiba giliran Hudri. Ia mempresentasikan jika Tahura Banten berada di ketinggian 0-900 DPL. Senada dengan Wawan, Tahura Banten ini istimewa ucapnya. Jika Tahura lain berada di kawasan pegunungan, Tahura Banten berada kawasan hutan dan pantai.

“Kami ada kawasan pantai dan gunung sehingga perkembangan flora dan fauna di sini sangat memungkinkan,” Kata Hudri.

Ucapannya bukan karangan fiksi. Di bagian belakang kantor UPTD, bentangan laut terhampar. Termasuk pohon kelapa yang berjejer, menjulang tinggi dan menjorok ke arah laut. Di Tahura ini memiliki berbagai jenis tanaman.

Termasuk tanaman endemik seperti Kokoleceran. Selain itu, terdapat juga jenis-jenis pohon. Seperti akasia, mahoni, jati, dan lainnya. Namun yang kami lihat baru jenis Mahoni dan Meranti.

Dulunya tahura ini merupakan hutan produksi, yang dikelola perusahaan negara PT Perhutani. Dimana mereka boleh menanam dan menebang kembali hasil produksi kehutanannya. Tapi oleh pemerintah diubah. Tahura ini hanya boleh menanam. Hasilnya, diharamkan untuk ditebang.

Hudri juga bilang, kawasan ini semula tidak dipungut biaya, alias gratis. Semua boleh masuk. Meski pada akhirnya, pihak UPTD  menetapkan tarif masuk seharga Rp 8.000 per orang. Ini juga merupakan langkah untuk berkontribusi menambah penghasilan bagi daerah. Jumlahnya? Ia tidak menyebut.

“Mungkin tidak besar, tapi meski sedikit, kami ingin berkontribusi bagi daerah,” sebut pria berkepala cepak itu.

Jumlah pengunjungnya pun meningkat. Pada 2024 lalu, hanya terdapat sekitar 2.600 pengunjung. Tahun ini, paska kunjungan Gubernur Banten Andra Soni,  tingkat kunjungannya naik menjadi 3.500.

Diam-Diam Pengekspor Meranti

Keunikan dari Tahura Banten bukan cuma soal keanekaragaman flora-fauna. Diam-diam, UPTD Tahura Banten justru menjadi pengekspor benih Meranti untuk ditanam. Tujuannya bukan kaleng-kaleng. Kalimantan dan Sumatera. Ya, dua wilayah yang hasil hutannya kini justru alami deforestasi.

Salah satu provinsinya adalah Kalimantan Timur. Kalimantan Timur kembali menjadi sorotan nasional, karena tercatat menjadi provinsi dengan angka deforestasi tertinggi sepanjang 2024.

Laporan Yayasan Auriga Nusantara mengungkapkan, bahwa laju kehilangan hutan di Kaltim mencapai 44.483 hektare. Melonjak hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya yang tercatat 28.633 hektare.

“Dulu kita minta benih kayu Meranti ke Sumatera dan Kalimantan. Tapi sekarang kami kirim 400an kilogram benih Meranti. Mereka minta ke kami, karena pohon gedenya udah habis,” tutur Hudri.

Ketua DPP FPMI Bernadus Wilson Lumi pun menyampaikan kekagumannya saat melihat-lihat Tahura Banten.

“Di sini luar biasa ada banyak pilihan. Ada pegunungan, ada sawah dan pantai. Semoga bisa tetap terus terjaga,” harap Wilson. 

Sebagai kawasan yang dilindungi, Tahura Banten tidak hanya menjadi benteng pelindung keanekaragaman hayati. Tapi juga  bentuk edukasi bagi generasi yang akan datang, untuk ikut serta berperan menjaga alam.

Bahkan, bisa menjadi pendorong dan penopang hasil alam ke daerah lain. Mungkin Tahura-Tahura di provinsi lain wajib menaruh iri dengannya.