Samarinda, reviewsatu.com — Komisi II DPRD Kalimantan Timur menanggapi munculnya nama Mantan Dirut Garuda Indonesia yang lolos seleksi administrasi sebagai calon Direktur Utama Perusda.
Hal ini menjadi sorotan publik dan menimbulkan pertanyaan soal proses seleksi yang tengah berlangsung.
Anggota Komisi II DPRD Kaltim, Firnadi Ikhsan mengatakan pihaknya menunggu penjelasan dari panitia seleksi (pansel) terkait keputusan tersebut.
Ia menilai pansel perlu menjelaskan bagaimana persoalan ini diposisikan secara objektif dalam proses seleksi.
“Nanti kita dengarkan dari Panitia Seleksi bagaimana mereka mendudukkan persoalan ini,” ujar Firnadi.
Ia menekankan bahwa hasil seleksi administrasi tentu memiliki batasan-batasan tertentu.
Namun, ia juga menilai bahwa masukan dan perhatian masyarakat terhadap proses seleksi patut menjadi pertimbangan penting bagi tim seleksi pada tahapan berikutnya.
“Untuk tahapan berikutnya, barangkali pendapat masyarakat menjadi catatan bagi mereka, tim seleksi, agar nanti diperhatikan,” tambahnya.
Firnadi juga membandingkan situasi tersebut dengan dunia politik, di mana seorang tokoh tetap bisa mencalonkan diri meskipun memiliki persoalan hukum, asalkan memenuhi persyaratan tertentu secara terbuka.
“Kalau kita di politik kan kita juga bahkan kalau tersandung sebuah hal, hukum bahkan, bisa mencalon dengan syarat tertentu ya, mengumumkan di publik dan sebagainya,” jelasnya.
Namun, ia menggarisbawahi bahwa dunia bisnis, termasuk di tubuh Perusda, sangat bergantung pada kepercayaan publik dan integritas.
Oleh sebab itu, riwayat dan rekam jejak calon sangat penting untuk diperhatikan.
“Kalau di dunia bisnis yang bermodal trust juga kepercayaan, maka itu penting untuk diperhatikan,” tegas Firnadi.
Salah satu nama yang lolos dalam pemilihan Dirut Perusda Kaltim di PT. Migas Mandiri Pratama (MMPKT) ialah I Gusti Ngurah Askhara.
I Gusti Ngurah Askhara merupakan mantan Direktur Utama Garuda Indonesia yang menjabat dari 2018 hingga dicopot pada 2019 karena kasus penyelundupan Harley dan Sepeda Brompton pada akhir 2019 lalu.
Menanggapi secara khusus calon yang pernah diberhentikan dari jabatan Direktur Utama Garuda, Firnadi mempertanyakan apakah dampak dari pemecatan tersebut akan berpengaruh terhadap kinerja jika ia memimpin Perusda.
“Apakah kemarin dampak dari pemecatan beliau sebagai dirut Garuda itu, dalam hal ini skalanya ketika diturunkan ke Perusda itu, ke depannya bisa mengganggu kinerja Perusda jika terpilih,” ujarnya.
Firnadi meyakini bahwa panjangnya proses seleksi memungkinkan tim seleksi menangkap berbagai aspek penting yang menyangkut kredibilitas calon.
Ia pun menyampaikan apresiasi atas perhatian masyarakat terhadap proses ini.
“Saya yakin panjangnya seleksi bisa menangkap itu, dan terima kasih kepada masyarakat yang sudah memberikan atensi,” tutupnya.










