PENAJAM PASER UTARA – Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), mengolah air keruh bersumber dari sungai atau danau menjadi bersih dan laik untuk dikonsumsi.
Ini adalah salah satu wujud nyata pemanfaatan Teknologi Tepat Guna (TTG). Dalam penerapannya menggunakan metode elektrokoagulasi dan filter dengan bahan-bahan yang mudah ditemui.
Ketua Pokja IV TP-PKK Kabupaten PPU, Reno Pratiwi mengatakan, inovasi itu berangkat dari adanya permasalahan dan kemudian berlanjut dicarikan solusinya.
“Saat ini banyak daerah-daerah yang memanfaatkan air danau atau sungai langsung dimanfaatkan tanpa pengolahan terlebih dahulu,” kata Reno, diwawancarai sela gelar TTG Kaltim di area Lapangan Panglima Sentik, Kecamatan Penajam.
Inovasi ini bermula dari siswa SD yang menanyakan mengenai masalah kejernihan tentang air. Pasalnya, airnya keruh. Hingga akhirnya berangkat dari itulah pihaknya meninjau langsung kondisi air dan mencari parameter yang mengakibatkan air tidak dapat dimanfaatkan.
“Ternyata parameter yang tinggi itu adalah kekeruhan. Akhirnya dari data yang kami dapati akan mengolah lebih dulu dengan alternatif menggunakan bahan kimia,” jelasnya.
Namun, upaya penjernihan air dengan memanfaatkan bahan kimia urung dilakukan. Dikhawatirkan nantinya masyarakat ataupun pelajar saat ingin mencoba tidak sesuai takaran yang memang telah seharusnya.
“Akhirnya metode itu kami abaikan saja. Hingga akhirnya bersama timnya mencoba dengan filter penjernih air,” terang dia.
Namun filter yang dilakukan untuk menjernihkan air harus dilakukan berulang-ulang, sekira 5 sampai 6 kali. Ingin hasil yang cepat dan memuaskan dalam arti tidak keruh, akhirnya mencoba metode elektrokoagulasi.
Elektrokoagulasi yakni proses pengolahan air yang menggunakan listrik untuk menghilangkan kontaminan, seperti padatan tersuspensi, logam berat, dan mikroorganisme dari air.
“Ternyata air yang keruh jika diberikan sengatan listrik bentuknya akan terjadi partikel-partikel kecil yang menggumpal,” tuturnya.
Metode itu belum cukup memuaskan, sebab partikel-partikelnya yang kecil masih keluar dan air masih keruh.
Sehingga agar partikel halusnya tetap tersaring atau tertahan, dia mencoba melakukan filterisasi dengan menggunakan batu silka dan karbon aktif.
“Sistem kerjanya dari penampungan, ke elekrokuagulasi hingga nanti filter batu silka dan karbon aktif,” tutup Reno. (adv/nos/r1)











