25 Siswa SD 008 Waru Diduga Keracunan, Dinkes Kaltim Stop SPPG MBG di PPU

Siswa SD 008 Kecamatan Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), mendapatkan perawatan medis usai muntah-muntah, pusing dan lemas. (Foto: Awal/Disway Kaltim)

Dinas Kesehatan Kaltim hentikan sementara kegiatan SPPG di Penajam Paser Utara (PPU). Sebanyak 25 pelajar diduga mengalami keracunan makanan dari Program MBG. 

SETELAH menerima laporan adanya pelajar yang keracunan makanan dari Program Makan Siang Gratis, Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Dinkes Kaltim) langsung melakukan investigasi menyeluruh. Mereka menelusuri sumber dugaan keracunan tersebut, termasuk pemeriksaan sampel makanan dan bahan baku yang digunakan.

Ketika dikonfirmasi Jumat, 13 Februari 2026, Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, kepada waratawan mengaku melakukan penghentian sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai langkah awal pengamanan sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

“Secara koordinasi, teman-teman BGN sudah ada surat penghentian SPPG sementara di Kecamatan Waru, PPU,” ujar Jaya, saat itu.

Menurut Jaya, penghentian sementara SPPG itu merupakan prosedur standar guna memastikan keamanan makanan sebelum program kembali berjalan. Dugaan awal mengarah pada kemungkinan keracunan akibat proses pengelolaan makanan.

“Di dalam surat itu masalahnya seputaran kemungkinan keracunan karena pengelolaan makanan,” jelasnya.

Meski begitu, laporan resmi dari Dinkes kabupaten setempat masih ditunggu. Proses investigasi kini difokuskan pada pengumpulan dan pemeriksaan sampel.

Sampel yang diuji tidak hanya berasal dari makanan yang disajikan, tetapi juga dari sisa konsumsi dan bahan baku. “Sampelnya akan dikirim ke laboratorium kami atau laboratorium kesehatan di Kota Balikpapan,” imbuh Jaya.

Menurut Jaya, pemeriksaan laboratorium dilakukan komprehensif untuk memastikan sumber kontaminasi. Beberapa sampel yang diperiksa meliputi makanan siap saji, sisa makanan, bahan mentah, hingga sampel biologis korban.

“Yang kita periksa itu sampelnya, baik makanan, sampel bekas muntahan, bahan makanan, apakah ada bakteri yang menyebabkan makanan ini tidak layak dimakan,” terangnya.

Metode pemeriksaan juga mencakup kultur bakteri guna mengidentifikasi jenis mikroorganisme penyebab.

“Termasuk juga pemeriksaan itu di kultur, jadi bakteri itu kita bisa lihat jelas bakterinya apa. Biasanya antara tiga sampai empat hari hasilnya bisa kelihatan,” ujarnya.

Selain itu, produk olahan yang disuplai pelaku UMKM, seperti puding, turut menjadi bagian dari investigasi. “Nanti kita akan lihat juga hasilnya dari produk ini. Kita akan mencari bakteri patogen seperti streptococcus, E. coli, dan lainnya yang sering dihubungkan dengan keracunan,” kata Jaya.

Ia menambahkan, setiap kasus keracunan memiliki masa inkubasi berbeda, tergantung jenis bakteri yang mengontaminasi makanan. “Ada yang satu sampai delapan jam, ada yang 30 menit sampai 59 menit,” jelasnya.

Di sisi lain, Dinkes Kaltim juga menyoroti aspek higienitas dapur penyedia MBG. Berdasarkan laporan sementara, sebagian besar SPPG di daerah telah mengantongi sertifikat laik higiene sanitasi, meski belum seluruhnya.

“Dari sekitar 100 yang ada itu hampir 70 persennya sudah ada sertifikatnya, sisanya masih dalam persiapan,” ungkapnya.

Proses sertifikasi, lanjut dia, membutuhkan tahapan panjang karena harus memeriksa bahan makanan, sarana dapur, hingga tata cara pengolahan. “Harus diperiksa dulu dari makanannya dan tata cara pembuatannya,” tuturnya.

Jaya menegaskan, jika hasil investigasi menemukan adanya kontaminasi, maka evaluasi menyeluruh akan dilakukan sebelum layanan diaktifkan kembali.

“Kalau didapatkan memang terjadi kontaminasi dari proses pengolahan, bahan, prosedur masaknya termasuk distribusinya, kita akan koreksi agar tidak terjadi lagi,” tegas Jaya.

Setelah seluruh perbaikan dipastikan, operasional baru dapat dijalankan kembali dengan pengawasan ketat, termasuk memastikan kelengkapan izin sanitasi.

PERISTIWA KERACUNAN

Sebagaimana diketahui, Rabu 11 Februari 2026, sebanyak 25 siswa SD Negeri 008 Kecamatan Waru, diduga keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka mengaku mengalami mual, muntah, lemas dan pusing.

Saat ini puluhan siswa yang diduga keracunan tengah mendapatkan perawatan medis di Kecamatan Waru. Antara lain diinfus dan diberikan obat.

Salah seorang wali murid kelas 6 SDN 008, Hasnah, mengatakan, anaknya mengalami gejala usai konsumsi puding dalam varian menu MBG.

“Kata anak saya habis makan puding MBG langsung muntah,” kata Hermah, ditemui di Puskesmas Waru, Rabu 11 Februari 2026.

Padahal, kata Hasnah, anaknya itu tak memiliki riwayat alergi. Peristiwa itu untuk kali pertamanya terjadi sejak MBG dimulai wilayah Waru sekira akhir Januari 2026.

Berdasarkan penuturan anaknya, jika menu MBG yang disajikan selain puding, juga ada sayur, nasi dan tahu. “Kalau sayuran yang dikonsumsi masih aman. Anak saya pas habis makan puding langsung lemas dan pusing,” jelas dia.

Senada, wali murid kelas 6 lainnya, Maryam, mengatakan anaknya tak dirawat dengan infus, hanya diberikan obat untuk menangani keluhannya. Antara lain, obat mual dan muntah, serta maag.

“Anak saya awalnya pusing, dan mau pingsan. Beruntung masih sanggup untuk ke puskesmas,” terang Maryam.

Untuk diketahui, kedua anak itu mengungkapkan tak mengonsumsi makanan tertentu sebelum menyantap menu MBG. Sementara untuk makanan penutup, yakni puding diakui keduanya sudah tak enak.

“Rasa pudingnya seperti basi,” ucap salah seorang siswa yang mendapatkan perawatan.

Sementara itu, Kepala UPT Puskesmas Waru, Rohani, menuturkan, awalnya mendapatkan kabar jika ada siswa di SDN 008 yang keracunan dari petugas kesehatan keliling (Kesling).

Gejala yang dialami siswa , kata Rohani, didominasi muntah, sakit perut, dan mual. “Kami lakukan pemeriksaan dan kita observasi dulu, kalau anaknya lemas kami berikan infus,” tutur Rohani.

DI tempat yang sama, Dokter Umum Puskesmas Waru, dr Dian menuturkan, tak tahu-menahu siswa yang dirawat karena diduga keracunan usai mengonsumsi menu MBG. Pihaknya hanya segera memberikan penangan medis.

“Kami dapat kabar kalau ada anak-anak muntah. Tapi, kami enggak tahu kalau itu karena menu MBG,” tambah Dian.

Pantauan awak media ini di SDN 008 Waru, setelah adanya siswa diduga keracunan karena MBG situasi sekolah terlihat lowong.

BUKAN DARI DAPUR MBG

Puding yang disuplai dari pelaku UMKM akhirnya disebut-sebut sebagai sumber dugaan awal insiden keracunan sisa SDN 008 Waru, PPU.

Hal ini disampaikan PIC Mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Waru Nur Lampu-Yayasan Bakti Benuo Taka, Yedy Kesuma, ketika dikonfirmasi wartawan.

Yedy mengatakan, jika puding yang dikonsumsi pelajar bukan hasil olahan dari dapur umum MBG. “Bukan hasil produksi dari dapur kami. Makanan (puding) kami order dari UMKM,” kata Yedy Kesuma.

Menurut Yedy, sejak mulai beroperasi awal Februari, SPPG Waru mencoba menggandeng dengan memberdayakan pelaku UMKM dalam penyajian menu MBG. 

Insiden dugaan keracunan itu, menurutnya akan menjadi catatan dan jadi bahan evaluasi.

“Perdana kali kami mencoba pemberdayaan UMKM dalam program MBG. Kebetulan dari makanan itu ada yang berdampak, tapi ini masih dalam evaluasi,” tambahnya.

Sementara terkait menu lain MBG seperti nasi, sayur dan tahu yang dikonsumsi atau bersumber dari olahan dapur umum, dirinya menjamin tak terdapat persoalan. 

“Sementara kalau dari produk dapur sejauh ini tak ada masalah,” sebut Yedi.

Perihal melibatkan UMKM, dikatakannya telah dilakukan tahapan penyaringan ketat, termasuk rekam jejaknya dan legalitasnya. 

Dirinya mengatakan, UMKM yang memasok puding juga mendukung penyediaan MBG untuk dapur lain, tak hanya SPPG Waru.

“Kami filterisasi UMKM-nya, kemudian produksi dapur jalannya seperti apa. UMKM ini (pemasok puding) juga support dapur lain,” ucapnya.

Dalam sehari 1.040 porsi makanan disiapkan SPPG Waru. Dimana sebanyak 1.017 didistribusikan ke sekolah mulai tingkat pendidikan TK hingga SMA. 

Namun, dari jumlah tersebut sekira 25 pelajar diduga mengalami keracunan. “Kalau dugaan sementara mungkin pada masa tenggang makanannya. Kami akan rapatkan kembali seperti apa arahan ke depannya,” imbuh Yedi. (*)