DAERAH  

Kain Tenun Tradisional Ulap Doyo di Kabupaten Kukar yang Masih Lestari

Imam Rojoki menunjukkan bahan baku untuk tenun Ulap Doyo. Ia mempertahankan warisan leluhur agar tetap lestari. (Rahmat)

Kain tenun tradisional Ulap Doyo di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) hingga saat ini masih eksis. Imam Rojiki salah seorang yang mempertahankan warisan leluhur itu supaya tetap lestari.

reviewsatu.comDI tengah derasnya arus digitalisasi dan menjamurnya produksi kain modern, eksistensi kain tradisional kian terpinggirkan.

Namun, hal itu tak menyurutkan langkah pengrajin Tenun Ulap Doyo, Imam Rojiki untuk tetap mempertahankan warisan leluhur berupa kain tenun Ulap Doyo di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Dengan tekun, Rojiki memintal serat demi serat daun Ulap Doyo hingga menjadi benang. Proses panjang dan melelahkan itu telah menjadi bagian dari hidupnya sejak kecil, sebagai generasi ketiga pengrajin kain khas suku Kutai.

“Proses pemintalan saja butuh 3 hari untuk mendapat satu bola benang. Untuk menenun kain butuh 2 setengah bola. Artinya untuk jadi satu kain memerlukan waktu 6 sampai 7 hari,” ujar Rojiki saat ditemui, Minggu, 29 Maret 2026.

Ia menjelaskan, pembuatan kain Ulap Doyo tidaklah sederhana. Prosesnya dimulai dari mencuci daun, mengeruk dan mengelupas serat, kemudian dikeringkan hingga akhirnya dipintal menjadi benang.

Seluruh tahapan tersebut membutuhkan ketelatenan dan kesabaran tinggi.

Bagi Rojiki, menenun bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari identitas yang diwariskan turun-temurun dalam keluarganya. Ia mengaku telah menekuni kerajinan ini sejak usia dini.

“Saya sejak kecil sudah terbiasa. Istilahnya, lahir sudah membawa bakat karena ini memang warisan dari orangtua,” tuturnya.

Meski berbasis tradisional, dia menyebut karya tenun Ulap Doyo miliknya telah menembus pasar internasional.

Sejumlah negara seperti Jerman dan Australia pernah menjadi tujuan pemasaran produknya. Bahkan, ada tawaran kerja sama dari pembeli asal Jerman, meski belum dapat dipenuhi.

“Pernah ada permintaan kerja sama dari Jerman, tetapi untuk saat ini kami belum bisa menyanggupi,” katanya.

Di balik capaian tersebut, tantangan besar masih membayangi. Ketersediaan bahan baku menjadi persoalan utama.

Habitat tanaman Ulap Doyo yang semakin berkurang di kawasan hutan Kutai Kartanegara turut mengancam keberlangsungan produksi.

Kondisi ini membuat pelestarian kain tenun Ulap Doyo menjadi semakin krusial. Tanpa upaya serius, bukan tidak mungkin warisan budaya suku Kutai ini akan semakin tergerus oleh perkembangan zaman.

Ia berharap ada perhatian lebih dari berbagai pihak untuk menjaga keberlanjutan bahan baku sekaligus melestarikan kerajinan tradisional tersebut.

“Ini bukan sekadar kain, tapi bagian dari budaya dan identitas kami,” pungkasnya. (*/mat)